Akurat

Perusahaan Indonesia Kian Agresif Ekspansi ke ASEAN: Tren Baru Perdagangan di Tengah Ketidakpastian Global

Idham Nur Indrajaya | 9 Desember 2025, 23:17 WIB
Perusahaan Indonesia Kian Agresif Ekspansi ke ASEAN: Tren Baru Perdagangan di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Perdagangan internasional di kawasan Asia bergerak cepat, dan pelaku bisnis Indonesia ternyata menjadi salah satu kelompok paling percaya diri menghadapi perubahan tersebut. Survei HSBC Global Trade Pulse terbaru mengungkap lonjakan optimisme, pergeseran strategi dagang, hingga pembentukan peta perdagangan baru di kawasan. Dengan tren tarif global yang mulai stabil dan rantai pasok yang semakin terkoneksi, perusahaan Indonesia melihat ASEAN sebagai jalur emas untuk ekspansi bisnis dalam beberapa tahun ke depan.

Ke mana arah pergerakan perusahaan Indonesia? Apa saja peluang dan tantangan yang mereka hadapi? Artikel ini mengulasnya secara lengkap dan mudah dipahami.


Kenapa ASEAN Kini Jadi Fokus Utama Ekspansi Perusahaan Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian tarif global memaksa banyak perusahaan menata ulang strategi dagangnya. Namun, kondisi ini justru membuka ruang baru bagi kawasan ASEAN menjadi jalur perdagangan yang semakin relevan.

Survei HSBC menunjukkan bahwa 92% perusahaan Indonesia merasa yakin mampu mengembangkan perdagangan internasional dalam dua tahun mendatang—angka yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata global.

Dari kelompok yang optimistis tersebut, 58% menyatakan ASEAN sebagai prioritas utama ekspansi bisnis. Tren ini sejalan dengan meningkatnya integrasi ekonomi kawasan, konektivitas logistik, hingga daya beli regional yang terus tumbuh.

Delia Melissa, Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, menegaskan pentingnya kawasan ini.

"ASEAN ini adalah salah satu partners business yang memang sangat dekat di Indonesia… koridor ASEAN itu juga sangat penting bagi pemain bisnis di Indonesia," ujar Delia dalam acara media briefing HSBC di Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.

Faktor kedekatan geografis, kolaborasi kebijakan, dan kestabilan rantai pasok membuat ASEAN tampil sebagai kawasan yang relatif lebih aman dan efisien dibandingkan pasar lain yang masih berguncang akibat geopolitik.


Data Perdagangan Menunjukkan Momentum Besar bagi Indonesia

HSBC mencatat neraca dagang Indonesia–ASEAN pada 2024 mencapai 133,15 miliar dolar AS, naik signifikan 63% dibanding 2020. Angka ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara ASEAN bukan hanya stabil, tetapi terus melaju.

Tidak hanya itu, perusahaan Asia secara umum pun memperlihatkan pola serupa. Sebanyak 41% perusahaan di kawasan mengarahkan fokus dagang ke ASEAN, mengalahkan Asia Timur, Asia Selatan, dan Eropa.

Untuk Indonesia, lima pasar teratas tujuan ekspansi mencakup:

  • Singapura (42%)

  • Malaysia (32%)

  • Jepang (27%)

  • Australia (24%)

  • Thailand (22%)

Dari daftar tersebut, tiga di antaranya merupakan bagian dari ASEAN, mengonfirmasi posisi kawasan sebagai fondasi strategi ekspansi perusahaan Tanah Air.


Perusahaan Indonesia Mulai Beradaptasi dan Menyusun Strategi Baru

Di tengah dinamika perdagangan global, adaptasi menjadi kunci. Banyak perusahaan Indonesia mulai merombak strategi mereka, baik dari sisi pasar, produk, maupun operasional.

1. Diversifikasi Pasar dan Peralihan dari Amerika

Sejumlah pelaku usaha yang sebelumnya bergantung pada pasar Amerika kini mulai beralih mencari mitra dagang baru. Delia mengungkap, “Yang mungkin dulunya mereka concentrate di market di Amerika, sekarang mereka datang ke kita," kata Delia.

Dengan jaringan global di 50 negara, HSBC membantu menghubungkan perusahaan Indonesia ke pasar-pasar alternatif yang lebih prospektif, termasuk negara-negara ASEAN.

2. Penguatan Pasar Domestik sebagai Fondasi

Menariknya, beberapa perusahaan juga memilih memperkuat pasar lokal sebelum ekspansi keluar. Di sektor tekstil, garmen, hingga olahraga, muncul tren meluncurkan brand lokal dan memaksimalkan penjualan lewat marketplace Indonesia.

Produk-produk olahraga dan gaya hidup, seperti paddle yang tengah booming, menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan memanfaatkan momentum pasar dalam negeri.

3. Diversifikasi Produk dan Pendapatan

Perusahaan kini tidak hanya mengandalkan satu jenis produk. Mereka mengembangkan turunan produk atau sistem pendukungnya, seperti yang dilakukan industri material dan otomotif. Ada yang memperluas lini produksi, ada pula yang memperkuat ekosistem pembiayaan melalui multifinance.


Bagaimana Perang Dagang Justru Menjadi Peluang untuk Indonesia

Temuan survei menunjukkan 69% perusahaan Indonesia percaya bahwa perang dagang justru akan memberikan dampak positif dalam dua tahun ke depan. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 57%.

Mengapa demikian?

Ketika negara-negara besar terlibat dalam tensi perdagangan, pasar cenderung mencari alternatif lokasi produksi dan sumber barang yang lebih stabil. Indonesia berada dalam posisi strategis untuk mengisi kekosongan ini—baik sebagai basis produksi maupun jalur rantai pasok.

Fakta menarik lain dari survei:

  • Kekhawatiran perusahaan Asia terhadap gangguan rantai pasok kini menurun dari 18% menjadi 13%.

  • Tarif yang lebih stabil memberi ruang bagi perusahaan merencanakan ekspansi jangka menengah.

Melalui pernyataan resmi, Aditya Gahlaut, Regional Head of Global Trade Solutions Asia HSBC, menjelaskan, Meredanya ketidakpastian tarif memampukan perusahaan Asia untuk mengambil keputusan lebih tepat dan merencanakan bisnis di masa depan.”


Tantangan Utama: Modal Kerja dan Fluktuasi Nilai Tukar

Optimisme tetap disertai tantangan yang harus ditangani dengan serius. Dua di antaranya menjadi sorotan utama:

1. Peningkatan Kebutuhan Modal Kerja

Sekitar 72% perusahaan Indonesia melaporkan meningkatnya kebutuhan likuiditas akibat perubahan tarif dan proses perdagangan. Beberapa perusahaan yang dulunya menerima pembayaran dalam dua bulan kini harus menunggu hingga tiga bulan karena penyesuaian tarif di negara tujuan.

Situasi ini memperpanjang siklus modal kerja dan membuat banyak perusahaan meminta dukungan bank untuk pembiayaan jangka pendek.

2. Fluktuasi Nilai Tukar

Sebanyak 61% perusahaan Indonesia mengaku biaya produksi meningkat akibat pelemahan nilai tukar. Meski demikian, banyak perusahaan kini sudah lebih siap menghadapi volatilitas melalui hedging dan berbagai strategi perlindungan nilai.


Peran Bank Internasional Kian Sentral di Tengah Perubahan

Dengan ekspansi ASEAN yang semakin intens dan kompleksitas dagang lintas negara yang meningkat, kebutuhan konsultasi dan manajemen risiko menjadi krusial.

Delia menegaskan pentingnya dukungan lembaga keuangan global:
“Peran perbankan internasional menjadi semakin krusial seiring rencana ekspansi ke pasar ASEAN dan meningkatnya kompleksitas dagang lintas negara.”

HSBC, dengan pengalaman lebih dari 140 tahun di Indonesia dan jaringan kuat di Asia, membantu perusahaan dalam:

  • menghubungkan supplier dan buyer antarnegara,

  • memetakan pasar potensial,

  • memberikan solusi pembiayaan,

  • mendampingi perusahaan menghadapi risiko kurs dan tarif.


Ke Mana Arah Perdagangan Indonesia dalam Dua Tahun Mendatang?

Melihat data dan tren yang berkembang, peta perdagangan Indonesia tampaknya akan semakin terkonsolidasi di ASEAN. Kestabilan kebijakan regional, konektivitas logistik, dan kekuatan pasar domestik membuat perusahaan Indonesia lebih percaya diri menangkap peluang baru.

Optimisme 92% pelaku usaha Indonesia bukan sekadar angka, tetapi cerminan transformasi strategi dagang yang lebih agile, terdiversifikasi, dan berbasis peluang kawasan.

Perusahaan Indonesia bukan hanya bertahan di tengah dinamika global—mereka siap melaju lebih jauh.


Kesimpulan

ASEAN kini menjadi titik fokus utama bagi perusahaan Indonesia yang ingin memperluas sayapnya di tengah perubahan geopolitik global. Dengan peluang yang terus terbuka, dukungan lembaga keuangan internasional, serta strategi adaptasi yang semakin matang, pelaku bisnis Indonesia memiliki momentum kuat untuk tumbuh lebih besar di pasar regional.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar perdagangan internasional dan ekonomi regional, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Kinerja Inflasi, Aktivitas Manufaktur hingga Neraca Perdagangan Kian Positif Jelang Akhir Tahun

Baca Juga: Sanksi Ditunda, Perang Dagang AS–China Mulai Mendingin

FAQ: Ekspansi Perusahaan Indonesia ke ASEAN Berdasarkan Survei HSBC

1. Mengapa ASEAN menjadi tujuan ekspansi utama perusahaan Indonesia?

ASEAN dianggap sebagai kawasan yang stabil secara geopolitik dan ekonomi. Konektivitas yang semakin kuat, kebijakan yang semakin terintegrasi, serta jarak geografis yang dekat membuat perusahaan Indonesia lebih mudah memperluas jaringan dagang dan rantai pasok di kawasan ini.

2. Apa temuan utama dari survei HSBC Global Trade Pulse terkait perusahaan Indonesia?

Survei menunjukkan bahwa 92% perusahaan Indonesia percaya diri akan ekspansi internasional dalam dua tahun mendatang, dengan 58% fokus memperkuat hubungan dagang di ASEAN dan 54% memperluas rantai pasok di kawasan tersebut. Angka ini menunjukkan optimisme yang jauh di atas rata-rata global.

3. Negara mana saja yang menjadi target peningkatan penjualan perusahaan Indonesia?

Lima pasar utama yang menjadi tujuan ekspansi adalah Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, dan Thailand. Tiga di antaranya berada di ASEAN, yang menunjukkan kuatnya ketergantungan dan peluang ekonomi di kawasan tersebut.

4. Apa yang membuat perusahaan Indonesia merasa diuntungkan dari perang dagang global?

Sebanyak 69% perusahaan Indonesia menilai perang dagang membawa dampak positif dalam dua tahun mendatang, karena membuka peluang diversifikasi pasar, pengalihan produksi dari negara lain, dan peningkatan daya saing regional.

5. Tantangan terbesar apa yang dihadapi perusahaan Indonesia dalam ekspansi ke ASEAN?

Dua tantangan utama adalah:

  • Peningkatan kebutuhan modal kerja, di mana 72% perusahaan melaporkan kebutuhan likuiditas yang lebih besar akibat ketidakpastian tarif dan perpanjangan siklus pembayaran.

  • Fluktuasi nilai tukar, yang dirasakan 61% perusahaan dapat menaikkan biaya produksi.

6. Bagaimana perusahaan Indonesia mengatasi kenaikan risiko nilai tukar?

Banyak perusahaan sudah mengadopsi strategi manajemen risiko seperti hedging valuta asing, baik untuk transaksi maupun operasional, agar dampaknya terhadap biaya produksi dapat diminimalisasi.

7. Mengapa peran perbankan internasional dianggap penting dalam fase ini?

Ekspansi lintas negara memerlukan dukungan likuiditas, pembiayaan perdagangan, serta koneksi jaringan buyer–supplier. HSBC, misalnya, memiliki jaringan di lebih dari 50 negara sehingga memudahkan perusahaan Indonesia mengakses pasar baru.

8. Sektor apa yang paling agresif dalam memperkuat hubungan dagang di ASEAN?

Sektor transportasi dan industri menjadi yang paling dominan, dengan 61% perusahaan di sektor ini memperluas kerja sama perdagangan di kawasan ASEAN.

9. Mengapa perusahaan Asia kini lebih optimistis dibanding enam bulan sebelumnya?

Ketidakpastian tarif mulai mereda dan rantai pasok global menunjukkan stabilisasi. Survei mencatat dampak disrupsi rantai pasok terhadap pendapatan turun dari 18% menjadi 13%.

10. Bagaimana peluang ekspansi untuk UMKM atau perusahaan skala menengah?

Peluangnya besar karena ASEAN memiliki pasar yang terus berkembang, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta meningkatnya permintaan untuk berbagai produk konsumer. Dengan strategi yang tepat, UMKM dapat memanfaatkan konektivitas digital dan platform marketplace untuk masuk ke pasar regional.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.