Akurat

Kinerja Inflasi, Aktivitas Manufaktur hingga Neraca Perdagangan Kian Positif Jelang Akhir Tahun

Yosi Winosa | 2 Desember 2025, 16:32 WIB
Kinerja Inflasi, Aktivitas Manufaktur hingga Neraca Perdagangan Kian Positif Jelang Akhir Tahun

AKURAT.CO Optimisme terhadap perekonomian Indonesia semakin kuat usai sejumlah data pendukung semakin mengafirmasi penguatan ekonomi Tanah Air.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan, tren positif tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih menekan.

Airlangga menyampaikan tiga indikator makro yang menjadi rujukan pemerintah, yakni inflasi yang terkendali, manufaktur yang terus ekspansif, serta surplus neraca perdagangan yang berlanjut lebih dari lima tahun berturut-turut. Ketiganya disebut sebagai bukti stabilitas ekonomi Indonesia memasuki Desember 2025.
 
"Inflasi nasional pada November tercatat 2,72 persen (yoy), masih berada dalam sasaran 2,5 ± 1 persen. Stabilitas harga terutama ditopang meredanya tekanan pada kelompok volatile food yang turun menjadi 5,48 persen (yoy) dari 6,59 persen pada bulan sebelumnya," ujarnya di Jakarta, Selasa (2/12/2025). 
 
Airlangga menjelaskan, inflasi inti juga stabil di 2,36% (yoy), yang mencerminkan ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjaga. Pemerintah menilai koordinasi kebijakan moneter BI dan langkah fiskal pemerintah berjalan efektif dalam mengendalikan tekanan harga.
 
 
Secara bulanan, inflasi November dipengaruhi naiknya harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara. Tarif penerbangan tercatat naik 6,02% (mtm), yang menurut pemerintah merupakan pola musiman menjelang libur akhir tahun.
 
“Program diskon tarif transportasi yang berlaku mulai Desember kami harapkan mampu menurunkan kembali biaya angkutan udara. Ini penting untuk menjaga daya beli dan mendorong mobilitas masyarakat,” ujar Airlangga.
 
Di sisi pangan, sejumlah komoditas seperti bawang merah dan beberapa sayuran mengalami kenaikan harga akibat curah hujan tinggi. 
 
Namun harga daging ayam ras, telur, dan cabai merah justru mulai menurun. Harga beras bahkan mencatat deflasi 0,59% (mtm), didorong intervensi pemerintah melalui bantuan pangan untuk 18,3 juta KPM dan operasi pasar.
 
Pada sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus USD2,39 miliar pada Oktober 2025. Kinerja ini menandai surplus beruntun selama 66 bulan, menjadi salah satu yang terpanjang sejak Indonesia merdeka.
 
Surplus terutama ditopang ekspor non-migas yang menguat ke pasar Amerika Serikat. Ekspor ke AS naik 4,43% (mtm), sejalan dengan ekspansi PMI manufaktur negara tersebut. Indonesia mencatat surplus non-migas USD1,7 miliar dengan AS pada periode yang sama.
 
Sementara itu, PMI Manufaktur Indonesia kembali naik ke level 53,3 pada November, tertinggi sejak Februari 2025. Aktivitas produksi meningkat untuk memenuhi permintaan, memicu penumpukan pekerjaan dan perluasan penyerapan tenaga kerja.
 
Airlangga menilai momentum ini akan berlanjut memasuki musim libur Natal dan Tahun Baru. Dengan inflasi yang terjaga dan permintaan domestik yang meningkat secara musiman, pemerintah optimistis prospek ekonomi di penghujung 2025 tetap solid.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa