Akurat

HKI: Investasi Semikonduktor Rp76 Triliun di Batam Resmi Dimulai

Esha Tri Wahyuni | 26 Februari 2026, 12:10 WIB
HKI: Investasi Semikonduktor Rp76 Triliun di Batam Resmi Dimulai
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana

AKURAT.CO Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menegaskan penandatanganan Joint Development Agreement (JDA) pengembangan ekosistem semikonduktor antara Indonesia dan perusahaan Amerika Serikat (AS) menjadi langkah strategis dalam mempercepat transformasi industri nasional ke sektor berteknologi tinggi.

Kesepakatan tahap awal senilai sekitar USD4,89 miliar atau setara lebih dari Rp76 triliun (kurs Rp15.600/USD) tersebut melibatkan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco Industrial Park (GESEIP) di Galang, Batam.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyatakan proyek ini akan membangun rantai pasok semikonduktor terintegrasi berbasis energi hijau di dalam negeri.

Baca Juga: Kemenperin Dukung Gentengisasi, Industri Keramik Siap Digenjot

“Ekosistem yang dibangun dalam PSN Wiraraja GESEIP ini mencakup hilirisasi kuarsa silika menjadi produk bernilai tambah tinggi, mulai dari pemurnian bahan baku kaca hingga produksi polysilicon untuk kebutuhan semikonduktor dan solar cell,” ujar Akhmad Ma’ruf dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Dirinya menjelaskan, pengembangan tahap awal meliputi pemurnian kuarsa silika, produksi polysilicon, hingga tahap lanjutan berupa produksi ingot wafer, wafer slicing, dan fabrikasi.

Apabila tahap awal berjalan sesuai target, investasi lanjutan berpotensi meningkat hingga USD26,7 miliar.

Penandatanganan JDA berlangsung di Washington D.C pada 18 Februari dan memperkuat kolaborasi antara kawasan industri di Galang, Batam, dengan technopark di Arizona, Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan kerja sama ini bukan sekadar investasi finansial.

“JDA ini bukan sekadar investasi finansial. Ini adalah bagian dari reposisi strategis Indonesia dalam arsitektur industri global. Kita ingin memastikan Indonesia menjadi bagian dari rantai nilai semikonduktor dunia, memperkuat kemandirian industri, dan meningkatkan daya tawar dalam rantai pasok global,” ujar Airlangga.

Menurut data Semiconductor Industry Association (SIA), nilai industri semikonduktor global mencapai lebih dari USD500 miliar per tahun dan menjadi tulang punggung industri elektronik, otomotif, hingga energi terbarukan.

Baca Juga: Fasilitas TPPB untuk NICE PIK 2 Pertegas Komitmen Dorong Industri Pameran

Sementara laporan McKinsey memproyeksikan nilai pasar chip dunia dapat menembus USD1 triliun pada 2030.

Di sisi domestik, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB Indonesia masih berkisar 18–19%, dengan dominasi sektor berbasis sumber daya. Pemerintah menargetkan peningkatan kontribusi manufaktur berteknologi tinggi dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen bahan mentah, termasuk pasir kuarsa dan silika yang menjadi bahan baku utama pembuatan polysilicon. Namun, sebagian besar produk tersebut diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi.

Transformasi menuju hilirisasi berbasis teknologi tinggi sejalan dengan kebijakan industrialisasi pemerintah, termasuk penetapan sejumlah kawasan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

PSN Wiraraja GESEIP di Batam dirancang sebagai kawasan industri berbasis energi terbarukan dan smart eco industrial park. Lokasi Batam dinilai strategis karena berada di jalur perdagangan internasional dan dekat dengan pusat manufaktur Asia Tenggara.

Dalam konteks global, rantai pasok semikonduktor sempat terganggu akibat pandemi COVID-19 dan tensi geopolitik AS–Tiongkok. Sejumlah negara, termasuk AS melalui CHIPS and Science Act, memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.

Langkah Indonesia masuk ke ekosistem ini dinilai sebagai upaya diversifikasi industri dan penguatan daya saing nasional.

HKI menyebut investasi tahap awal diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja terampil, termasuk kebutuhan tenaga teknik, riset, dan manufaktur presisi.

Selain penciptaan lapangan kerja, proyek ini mencakup Pembangunan infrastruktur manufaktur, Pengembangan energi terbarukan, Program peningkatan keterampilan tenaga kerja, Riset dan pengembangan teknologi.

Transfer teknologi dari mitra AS juga diharapkan mempercepat peningkatan kompetensi industri nasional, khususnya dalam produksi wafer dan komponen semikonduktor.

Bagi kawasan industri Batam, proyek ini berpotensi meningkatkan arus investasi asing langsung (FDI). Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi di Kepulauan Riau dalam beberapa tahun terakhir didominasi sektor manufaktur dan elektronik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.