Akurat

Kritik terhadap Wacana Kalender Hijriah Global Tunggal: Rasionalitas Tanpa Kontekstualitas adalah Anomali

Lufaefi | 23 April 2025, 09:00 WIB
Kritik terhadap Wacana Kalender Hijriah Global Tunggal: Rasionalitas Tanpa Kontekstualitas adalah Anomali

AKURAT.CO Di tengah dinamika pembaruan pemikiran Islam modern, Muhammadiyah tampil sebagai pionir pembaruan, namun dalam kasus Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), posisi organisasi ini justru menyulut kritik tajam.

Bagaimana bisa sebuah organisasi yang dikenal menjunjung rasionalitas ilmiah dan prinsip ijtihad justru mendukung sebuah sistem kalender Islam global yang masih penuh kontroversi baik dari sisi sains astronomi, metodologi fikih, maupun sosiologi umat?

1. Inkonsistensi antara Rukyat dan Hisab: Sebuah Kekeliruan Epistemologis

Dukungan Muhammadiyah terhadap KHGT didasarkan pada prinsip hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal.

Namun, pendekatan ini menimbulkan pertanyaan serius: Apakah sah menetapkan awal bulan baru secara global hanya dengan hisab, ketika realitas rukyat menunjukkan ketidakterlihatan hilal di banyak wilayah?

Padahal, hadis Nabi Muhammad SAW secara eksplisit menyebut: "Ṣūmū li-ru’yatihi wa afṭirū li-ru’yatihi"—“Berpuasalah kalian jika melihat hilal, dan berbukalah jika melihat hilal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Youssef Chouinard (2022) dalam Journal of Islamic Astronomy, pendekatan wujudul hilal tanpa verifikasi visual di lapangan justru berpotensi menjauhkan umat dari spirit ta'abbudi dalam ibadah, karena menihilkan elemen rukyat sebagai syarat syar'i.

Baca Juga: Kalender Hijriyah, Kenapa Orang Islam Harus Mengetahuinya?

2. Masalah Globalisasi Waktu yang Menabrak Realitas Geografis

Kalender Hijriah Global Tunggal menuntut keseragaman hari di seluruh dunia, padahal fenomena hilal bersifat lokal, bukan universal.

Dalam sistem KHGT, wilayah yang hilalnya belum mungkin terlihat dipaksa memasuki bulan baru. Ini menabrak kaidah "al-yaqīn lā yazūlu bi al-syakk", karena ada kepastian hilal belum mungkin terlihat secara lokal, namun dipaksa berganti bulan karena posisi hilal di tempat lain.

Prof. Azyumardi Azra (2004) pernah mengkritik ide KHGT sebagai bentuk "despotisme penyeragaman" yang mereduksi keragaman ijtihad lokal dan mengabaikan kenyataan astronomis regional.

Bahkan Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) secara konsisten merilis data bahwa perbedaan visibilitas hilal antarwilayah dapat mencapai 24 jam penuh, menjadikan sistem KHGT sebagai ilusi homogenitas yang tidak ilmiah.

3. Fikih dan Otentisitas Tradisi: Mewaspadai Bahaya Formulasi Buatan

KHGT adalah produk rekayasa modern atas waktu keagamaan. Namun apakah formulasi ini dapat menggantikan metode syar’i yang telah berlangsung berabad-abad?

Sheikh Ali Gomaa (mantan Mufti Mesir) dalam sejumlah fatwanya menyatakan bahwa hisab tidak dapat menggantikan rukyat sepenuhnya dalam penetapan awal bulan, melainkan sebagai alat bantu validasi.

Dukungan Muhammadiyah terhadap KHGT justru memperlihatkan kecenderungan rasionalisme ekstrem yang mengorbankan warisan fikih kolektif.

Padahal, dalam maqāṣid al-syarī‘ah, penetapan waktu ibadah harus memperhatikan unsur yakin, ijma’ ulama, dan kesatuan komunitas, bukan semata kalkulasi matematis.

Baca Juga: NU Tegas Tolak Kalender Hijriah Global Tunggal yang Diwacanakan Muhammadiyah, Ini Alasannya!

4. Kontra-produktif terhadap Upaya Ukhuwah Islamiyah

Alih-alih menyatukan umat, KHGT justru berpotensi menambah fragmentasi. Di Indonesia sendiri, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) masih menegaskan pentingnya rukyat lokal dalam penentuan waktu.

Dukungan Muhammadiyah terhadap KHGT hanya memperlebar jurang perbedaan, terutama ketika dalam praktiknya satu keluarga bisa berbeda awal Ramadhan hanya karena perbedaan kriteria falakiah.

Dr. Mohammad Ilyas, ahli astronomi asal Malaysia yang menjadi pionir KHGT, dalam papernya mengakui bahwa implementasi KHGT secara konsisten “memerlukan pemaksaan politik dan keseragaman administratif lintas negara.” Bukankah ini bentuk penyederhanaan realitas umat yang berisiko?

Rasionalitas Tanpa Kontekstualitas adalah Anomali

Dukungan Muhammadiyah terhadap KHGT menunjukkan adanya bias terhadap rasionalisme falakiah yang mengabaikan dimensi sosio-kultural dan spiritual umat Islam global.

KHGT mungkin terdengar modern dan menjanjikan, namun pada hakikatnya masih belum matang secara ilmiah, belum mapan secara syar’i, dan belum siap secara sosial.

Jika Muhammadiyah benar-benar ingin memelopori pembaruan, maka pendekatan terbaik adalah memelihara dialog, bukan mendorong penerapan KHGT secara tergesa dan unilateral.

Sebab kalender Islam bukan sekadar urusan hitungan, tetapi juga kesaksian, keterhubungan, dan kebermaknaan dalam ibadah. Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.