Akurat

Kisruh Internal PBNU karena Urusan Tambang, Gus Nadir: Bikin Amburadul Organisasi

Lufaefi | 5 Desember 2025, 17:36 WIB
Kisruh Internal PBNU karena Urusan Tambang, Gus Nadir: Bikin Amburadul Organisasi

AKURAT.CO Akademisi dan pengurus NU di Australia, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, menyoroti kisruh internal PBNU yang belakangan memanas, terutama terkait polemik tambang yang disebutnya berdampak serius terhadap tata kelola organisasi.

Dalam tulisan yang diunggah di akun Facebook resminya pada Jumat (5/12/2025), Gus Nadir menyebut organisasi sebesar NU kini berada pada “titik kritis”. Ia menilai persoalan yang muncul bukan hanya terkait isu tambang, tetapi menyentuh problem lebih mendasar soal arah dan karakter jam’iyyah.

“Ini bukan semata soal urusan tambang yang bikin amburadul jalannya organisasi, tapi lebih jauh dari itu,” tulisnya.

Menurut Gus Nadir, NU saat ini berada pada persimpangan antara dua kutub: otoritas moral para kiai yang menjadi fondasi historis organisasi dan tuntutan modernitas yang menempatkan AD/ART sebagai kerangka formal tata kelola.

Baca Juga: Kader Muda NU Minta Hentikan Manuver Politik Internal PBNU, Serukan Tunduk pada AD/ART

Ia menilai benturan dua model otoritas tersebut tak bisa dihindari. Di satu sisi, NU berdiri di atas otoritas spiritual ulama. Namun di sisi lain, modernisasi organisasi menuntut penerapan aturan formal yang justru bisa mereduksi peran para kiai.

Gus Nadir mempertanyakan apakah NU mampu memaknai prinsip “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bil-jadid al-aslah” sebagai mandat untuk modernisasi tanpa tercerabut dari akar otoritas keulamaan.

“Pertanyaannya jauh lebih dalam: bisakah kaidah itu dipahami sebagai mandat untuk memodernkan jam’iyyah tanpa tercerabut dari akar otoritas keulamaan?” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa jika NU kembali sepenuhnya pada pola lama tanpa membaca tantangan zaman, organisasi berisiko terjebak dalam romantisme masa lalu. Sebaliknya, jika NU terlalu mengejar modernitas tanpa menjaga marwah kiai, ia khawatir organisasi dapat berubah menjadi struktur administratif yang kehilangan ruh.

“Tanpa menjaga marwah Kiai, ia akan terjebak dalam logika organisasi modern yang kering dari ruh, berubah menjadi korporasi yang hidup dari rapat dan anggaran,” tulisnya.

Gus Nadir menilai konflik internal yang terjadi seharusnya mendorong lahirnya format baru jam’iyyah. Ia menekankan pentingnya NU menemukan titik temu antara kedalaman spiritual dan efektivitas tata kelola.

“Jika NU gagal menemukan titik temu ini, konflik demi konflik hanya akan menjadi siklus berulang: para kiai kehilangan wibawa, para pengurus kehilangan arah, dan jamaah kehilangan kepercayaan,” jelasnya.

Baca Juga: Di Luar Dugaan, Kiai NU Ini Beri Solusi untuk Perselisihan di Tubuh PBNU

Sebaliknya, bila NU berhasil menyelaraskan dua kutub tersebut, Gus Nadir meyakini NU dapat menjadi model masyarakat sipil Islam yang matang—memadukan spiritualitas, tradisi, dan ketangguhan administrasi.

Pada akhir tulisannya, ia menyimpulkan bahwa masa depan NU sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaruan.

“Menjaga yang lama karena ia membawa berkah, dan mengambil yang baru karena ia membawa maslahat,” tulisnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.