Zulhas: Fasilitas Waste to Energy Siap Hadir di 33 Kota Indonesia

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah melakukan pembangunan fasilitas waste to energy (WTE) di 33 kota di Indonesia.
Zulhas sapaan akrabnya menyebut Presiden sudah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) terkait dengan pemanfaatan sampah menjadi energi.
“Saya sudah dapat Kepres, Ini nyata. Jadi gak omon-omon kita. Saya sudah dapat Kepres. Tiga hari yang lalu. Tapi sebelum Kepres keluar, kita sudah kerja,” kata Zulhas dalam agenda ESG NOW Award di Hotel Borobudur, Kamis (16/10/2025) sore.
Zulhas menyampaikan, pihaknya sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan satu fasilitas waste to energy mampu mengolah hingga 2.000 ton sampah per hari.
Baca Juga: Zulhas Ajak Pasha Ungu dan Uya Kuya Hibur Serta Bantu Korban Kebakaran Pengadegan
Adapun, proyek ini akan menggunakan teknologi insinerator atau alat yang digunakan untuk membakar sampah atau limbah pada suhu tinggi untuk mengurangi volume, massa, dan sifat berbahayanya.
Teknologi ini mengubah sampah padat menjadi gas dan abu, dan dapat digunakan sebagai sarana untuk pemulihan energi atau komponen kimia.
“Akan segeradibangun waste to energy Pakai insenerator. Bersih. Jadi satu tempat bisa 2000 ton, satu pabrik itu bisa 2000 ton. Jadi kalau bantar gebang itu bisa 4 dia,” ujarnya.
Zulhas menambahkan bahwa pemerintah menargetkan seluruh proses perizinan di 33 kota tersebut dapat rampung dalam waktu tiga bulan dan proyeknya bakal rampung pada 2027.
“Sehingga akhir 2027, waste to energy di 33 provinsi itu, insya Allah bisa selesai,” tambah Zulhas.
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah dalam misi untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar pembangkit listrik lewat pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Baca Juga: Sherina Munaf Bakal Balikin Kucing Uya Kuya
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan secara nasional, timbulan sampah pada tahun 2024 mencapai sekitar 33,8 juta ton. Namun, hanya 60% yang terkelola dengan baik, sementara 40% atau sekitar 13,6 juta ton belum dikelola.
Kondisi ini memperburuk kualitas lingkungan sekaligus mengancam kesehatan masyarakat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ESDM mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Dari hasil pemetaan, Yuliot menyebut dari setiap satu ton sampah berpotensi menghasilkan listrik hingga 20 MW.
“Kita sudah memetakan dari sisi teknologi ini kalau 1.000 ton sampah dimanfaatkan untuk energi listrik, ini bisa menghasilkan itu sekitar 20 Megawatt (MW),” kata Yuliot dalam acara Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025, Rabu (10/9/2025).
Langkah ini tidak hanya akan membantu membersihkan kota, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan menambah pasokan energi hijau nasional.
Pemerintah, kata Yuliot telah menerbitkan peraturan presiden (Perpres) sebagai acuan pelaksanaan program pengolahan sampah perkotaan menjadi energi.
“Jadi insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Ini perpres-nya sudah diterbitkan, sehingga bisa menjadi acuan pengolahan sampah perkotaan menjadi energi,” ujar Yuliot.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








