Pidato Politik Megawati Sama Sekali Tak Sebut Nama Jokowi, Banyak Singgung Orba

AKURAT.CO Pidato politik Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang disampaikan memeringati HUT ke-51 partai banteng moncong putih, sama sekali tidak menyebut nama Presiden Jokowi. Dalam pidatonya, Mega banyak menyinggung orde baru (orba) dan otoritarianisme.
Mega menyampaikan pidato dari Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta, Rabu (10/1/2024), yang turut dihadiri langsung oleh kader, Wapres Ma’ruf Amin, dan anggota kabinet. Mega berulang kali menyinggung orde baru dan mengaitkannya dengan upaya melanggengkan kekuasaan namun akhirnya jatuh juga.
“Maaf beribu maaf, toh orde baru akhirnya juga jatuh,” kata Megawati.
Baca Juga: Hukum Dipermainkan Kekuasaan Dijalankan Semaunya, Megawati: No, No, and No!
Mega menyampaikan pidato lebih dari 1 jam. Durasi yang termakan, tak ada satupun nama Jokowi yang disebut Presiden ke-5 RI. Mega mengawali pidato dengan menyapa para tamu undangan terlebih dulu, dan mengajak seluruhnya memekikan merdeka, salam Pancasila, dan semangat memenangkan Ganjar-Mahfud.
Mega mengapresiasi Wapres Ma'ruf Amin menghadiri peringatan hari jadi PDIP yang mulanya bernama PDI, hasil fusi lima partai pada 10 Januari 1973. Mega menyebut anggota kabinet seperti Sri Mulyani dan Basuki Hadimuljono minta diundang, namun berhalangan hadir karena ada tugas lain.
Dalam kesempatan itu, Mega mengingatkan sejarah telah menempa PDIP khususnya selama 32 tahun rezim orba yang otoriter. Kerasnya tekanan yang dilalui rupanya membangun kultur perjuangan melawan penindasan.
Baca Juga: Anies Baswedan: Selamat HUT ke-51, PDIP...
"PDI Perjuangan mengambil saripati dari pengalaman penindasan ini. Melalui ulang tahun partai ini, kita menegaskan kembali pesan moral terpenting tentang jati diri PDI Perjuangan sebagai partai wong cilik," kata Mega.
Seperti biasa, Mega menyampaikan pidato diselingi dengan nostalgia. Namun Mega banyak memberi penekanan terhadap perlawanan terhadap rezim otoriter.
Mega mengingatkan kultur PDIP yang sejati yakni mendekat dengan akar rumput. Sebab dalam sejarahnya, rakyat yang menopang kekuatan partai.
Baca Juga: Jokowi Tolak Hadiri HUT PDIP
"Dari kecil saya melihat, saya senang tanaman. Akar rumput termasuk simbol kehidupan," kata dia.
Putri Proklamator RI, Bung Karno, meminta para kader untuk mencamkan pentingnya mendekat dengan rakyat. Sebab eksistensi PDIP bukan ditopang elite atau presiden, tetapi rakyat yang mendukung.
Lebih jauh lagi, Mega mulai mengeritisi lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu. Tak ayal, aparat juga jadi sasaran tembak, untuk memastikan Pemilu 2024 digelar secara benar, tanpa intimidasi, seperti peristiwa Boyolali.
Baca Juga: Megawati Jengkel, Singgung Penguasa Berwatak Orde Baru
Mega menyebut, tak ada kekuasaan yang langgeng, karena dalam sejarahnya, orba yang powerful bisa jatuh. "Saya bicara sebagai Presiden ke-5 RI, jangan tergiur, jangan hanya melihat sosoknya, tetapi pikiran dan sosoknya harus menjadi satu," kata Mega, memberi pesan kepada rakyat untuk memerhatikan calon pemimpin.
Ketum parpol terlama di Indonesia menyebutkan pula bahwa pemilu bukan alat politik untuk melanggengkan kekuasaan dengan segala cara. Ada moral dan etika yang harus diperhatikan.
"Kekuasaan itu tidak langgeng, lho. Yang langgeng itu yang di atas. Kekuasaan itu akan berhenti apapun jabatannya," tuturnya.
Baca Juga: Jokowi Sebut Debat Pilpres Tidak Substantif, Banyak Serangan Personal
Dirinya menilai, arah pemilu sekarang ini sudah bergeser. Rakyat sudah khawatir akan adanya intimidasi. Mega bahkan mengungkap adanya Ketua RT di Jateng yang berani menyatakan sikap menolak intimidasi.
"Memangnya rakyat mau kamu pentungin? Penjajah boleh kamu tembak, tetapi kalau rakyat no, no, no. Ingat lho, ini saya masukin message saya, dan pasti harus tahu siapa yang melakukan hal-hal seperti itu, ini adalah negara merdeka dan berdaulat, tidak ada yang sebagian merasa berkuasa," kata Mega, dengan nada suara meninggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








