Popularisasi Benefit Penerapan Sains dan Teknologi pada Kemanusiaan

PERADABAN modern tidak bisa dipisahkan dari kemajuan sains dan teknologi (sainstek). Contoh kemajuan tersebut sangatlah banyak. Fisika Newtonian telah membawa kita ke bulan, dan mengirimkan satelit ke planet yang sangat jauh.
Sementara itu kajian ikatan kimia telah menghasilkan pengobatan berbagai penyakit. Ilmu biomedis juga berhasil mengembangkan vaksin generasi terbaru untuk pencegahan penyakit menular.
Namun, di saat yang sama, terdapat skeptisisme dengan saintek. Di media sosial (medsos), banyak tersebar berbagai opini yang skeptis dengan vaksin, bumi datar, pengobatan modern, skeptis dengan industri farmasi secara umum, dan sebagainya.
Sainstek dianggap tidak membumi, elitis, dan terdiskoneksi dengan trend “kekinian”. Kondisi ini semakin tidak menentu, karena umumnya ilmuwan tidak tertarik untuk mempopulerkan saintek ke publik.
Sehingga, netizen akan dengan mudah berasumsi bahwa semua wacana saintek ini tidak lengkap narasinya, sehingga sebaiknya tidak usah dipedulikan.
Tidak heran kalau berbagai survei sudah membuktikan, bahwa netizen lebih percaya dengan influencer/content creator daripada ilmuwan atau cendekiawan.
Fakta ini membuktikan bahwa kepercayaan terhadap method of delivery informasi yang menarik (belief in attractiveness of delivery), jauh lebih kuat daripada fakta ilmiah.
Attractive delivery is more interesting than the substance. Tidak heran, akhirnya berbagai narasi fakta ilmiah yang relevan bagi keseharian, tertimbun di dalam tumpukan hoax di medsos.
Baca Juga: Kementerian P2MI Target 400 Ribu Penempatan Pekerja Migran di 2026, Tapi Siap Koreksi Ulang
Tulisan ini tidak bermaksud untuk debunk berbagai hoax yang beredar di dunia maya, karena itu tidak mungkin.
Namun lebih untuk menjelaskan kembali bahwa menerapkan saintek untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan sangat banyak benefit-nya.
Kita akan mengkaji beberapa contoh di bidang ilmu kimia, biomedis, dan kajian akal imitasi (informatika).
Ilmu kimia adalah kajian yang sangat aplikatif di kehidupan sehari-hari, namun sangat jamak disalahpahami. Di medsos, sangat jamak adanya dikotomi “bahan kimia” versus “bahan alam/alami”.
Dinarasikan bahwa “bahan kimia” itu berbahaya, beracun, dan jangan dikonsumsi. Sementara “bahan alam” lebih sehat dan baik.
Dikotomi ini mesti diluruskan, sebab apa yang diasumsikan sebagai “bahan kimia” dan “bahan alam” sebenarnya semuanya adalah senyawa kimia juga.
Dalam kacamata kajian kimia bahan alam, senyawa kimia bisa dari alam, sepenuhnya sintetik atau disintesis di pabrik, atau semi-sintesis, yang merupakan derivat bahan alam. Tapi semuanya ya kimia juga.
Kemudian, senyawa kimia apapun bisa jadi bermanfaat atau beracun, semua tergantung pada dosisnya. Ada indikator seperti LD50 dan IC50 yang digunakan untuk uji toksisitas dan efektivitas bahan kimia.
Intinya, bahan kimia apapun, baik bahan alam, semi-sintesis, atau sintesis, penggunaannya harus proporsional dan sesuai pedoman Badan POM, kalau untuk dikonsumsi sebagai obat, suplemen, dan pangan.
Di sini kita seyogyanya objektif, bahwa apa yang disebut sebagai “bahan kimia” janganlah dimusuhi atau dicibir.
Tanpa obat seperti parasetamol, simvastatin, dan penisilin, yang disintesis secara kimia di industri, umat manusia tidak akan bisa hidup sesehat sekarang.
Juga kita tidak bisa bayangkan jika suplemen vitamin dan mineral, yang juga dikembangkan industri, itu tidak ada, tentu akan sangat merepotkan.
Ilmu kimia sudah jelas terbukti membuat hidup kita lebih sehat. Sebagai bagian dari rumpun ilmu kesehatan, ilmu biomedis merupakan ilmu dasar yang banyak membantu pengembangan vaksin.
Sudah banyak peraih Nobel Kedokteran, yang merupakan praktisi ilmu biomedis. Akan tetapi, sekarang ini, vaksin sebagai produk saintek banyak di-scrutinize.
Gerakan MAHA (Make America Healthy Again) pimpinan Menkes Amerika Serikat (AS), Robert F. Kennedy Jr., sampai sekarang mencari-cari korelasi antara autisme dengan vaksinasi, dan juga memutuskan supaya AS keluar dari badan kesehatan dunia (WHO).
Baca Juga: Matangkan Persiapan Super League, Persib Bandung Bakal Gelar Pemusatan Latihan di Thailand
Vaksin banyak disitir oleh penggagas teori konspirasi COVID-19, terutama mengenai vaksin mRNA. Seperti layaknya semua teori konspirasi, semuanya tidak ada bukti ilmiahnya.
Teori ini sering disebar supaya influencer/content creator-nya jadi ‘anti-kemapanan’, ‘edgy’ dan ‘anti-mainstream’, sehingga netizen makin suka. Sehingga engagement/impact akun medsosnya makin besar. But damage has been done.
Di AS, diseminasi narasi vaccine sceptics menyebabkan negara adidaya tersebut memiliki mortality count COVID-19 terbesar di dunia. Padahal, sebenarnya vaksin sebagai produk saintek sudah terbukti ampuh dan efektif.
Buktinya, penyakit cacar (smallpox) berhasil dieradikasi sepenuhnya salah satunya berkat kampanye vaksinasi yang dipimpin oleh WHO.
Memang, vaksin bukan teknologi sempurna. Vaksin polio buatan Jonas Salk saja akhirnya diganti oleh versi yang lebih baru oleh Albert Sabin.
Tapi bukan vaksinasi itu sendiri yang dihentikan, tapi lakukan riset lebih komprehensif untuk hasilkan vaksin yang lebih baik.
Proses penggantian vaksin Salk, yang didukung AS, dengan Sabin, yang didukung Uni Soviet, memang diwarnai oleh perseteruan ideologis di antara mereka.
Tapi, pada akhirnya perseteruan ideologis tersebut dikesampingkan, dan membiarkan saintek yang berbicara. Alhasil, prevalensi penyakit polio juga bisa ditekan secara sangat signifikan.
Di sini, sudah sangat jelas bahwa ilmu biomedis sangat bermanfaat untuk menyelamatkan nyawa manusia, dan menyingkirkan perselisihan ideologi demi kemajuan saintek akan bermanfaat bagi kemanusiaan itu sendiri.
Perkembangan akal imitasi (AI) sudah sangat pesat, terutama dengan produk yang baru-baru ini sangat populer, yaitu ChatGPT yang berbasis LLM (Large Language Model).
Namun, netizen sudah dibanjiri oleh berbagai narasi yang sebenarnya bertentangan dengan akal sehat. Seperti AI takeover, atau kondisi distopia di masa depan di mana AI akan melawan umat manusia.
Narasi ini menakut-nakuti generasi muda untuk mendalami AI. Sebenarnya, ini bukan fakta ilmiah, tapi lebih merupakan fiksi yang seakan ilmiah, yang terinspirasi dari film “Terminator”.
Baca Juga: Besok, KPK Periksa Khofifah di Polda Jatim Terkait Kasus Korupsi Dana Hibah Pokmas
Semua narasi ini sebenarnya hanyalah hype untuk ‘fear mongering’, sehingga engagement/impact di akun medsos meningkat.
Faktanya, menurut Prof. Yann LeCun, pemenang Turing Award dari New York University, sebenarnya akal kucing masih jauh lebih cerdas daripada AI yang paling cerdas.
Yann LeCun menjelaskan lagi bahwa adaptasi cerdas terhadap lingkungan, yang merupakan kekuatan akal kucing, masih belum dimiliki oleh AI yang ada sekarang.
Satu lagi hoax yang mengganggu adalah wacana bahwa pada akhirnya AI menggantikan manusia. Wacana ini menyebabkan khalayak awam banyak skeptis dengan AI, jadi mereka cenderung resisten dan menolak karena takut pekerjaan mereka diambil oleh AI.
Hoax “fear mongering” seperti ini jelas tidak benar, karena bagaimanapun di belakang sistem AI manapun, ada programmer-nya. Bahkan pengembangan chatbot berbasis LLM tidak hanya melibatkan orang informatika, namun juga pakar linguistik.
Bahkan menurut Eric Topol, pakar kedokteran ternama dari AS, tidak masalah industri kesehatan menggunakan AI, selama tenaga kesehatan masih tetap bisa mensupervisi sistemnya. Jadi tidak ada yang perlu ditakuti dari perkembangan AI.
Walaupun saintek sudah sangat jelas sangat banyak benefit-nya bagi kemanusiaan, tentu saja hal tersebut harus disosialisasikan secara masif, supaya netizen kita tidak terdistraksi oleh berbagai hoax yang ada.
Ada beberapa tipe media yang digunakan, yaitu media konvensional seperti TV, koran, dan radio.
Kemudian, tentu saja, medsos seperti TikTok, Instagram, Facebook, LinkedIn, dan X (formerly Twitter). Media konvensional janganlah sama sekali ditinggalkan untuk popularisasi sains.
Di sini, kita bisa belajar kepada klub sepak bola PERSIB, yang selain menggunakan medsos, juga tetap menggunakan media konvensional untuk sharing informasi tentang aktivitas klubnya.
Ilmuwan dan akademisi pun seyogyanya melakukan hal yang sama, karena media konvensional juga masih memiliki peminat dalam jumlah signifikan.
Baca Juga: Berapa Durasi Film Jalan Pulang? Cek Jadwal Bioskop Lengkap dan Sinopsis Film Horor Indonesia 2025
Kemudian, setelah memilih media, ada beberapa filosofi popularisasi benefit saintek yang bisa kita pertimbangkan bersama:
-
Penjelasan di media seyogyanya melibatkan ilmuwannya sendiri supaya tuntas. Bekerja sama dengan science journalist sangat dianjurkan untuk dilakukan supaya konten dari narasi yang ingin disampaikan bisa tepat sasaran ke audiensnya.
Sebab jurnalis akan kesulitan menyajikan informasi, tanpa konfirmasi dari ilmuwannya sendiri.
-
Mari mulai reach out dengan media komunikasi yang disukai Generasi Z dan Alfa, yaitu medsos. Sebab merekalah yang menentukan masa depan bangsa kita.
Ingat bahwa keviralan ditentukan oleh algoritma, sehingga sering kali kita harus narasikan saintek berdasarkan dengan apa event yang lagi trending saat itu. Narasikan bahwa sains merupakan sesuatu yang aplikatif.
-
Ilmuwan dapat berdiskusi dengan sekolah dan pakar pedagogik untuk desain kurikulum yang membuat sains disukai anak sekolah, dari usia sedini mungkin.
Sama seperti olahraga sepak bola, pembibitan ilmuwan harus dilakukan sedini mungkin.
-
Dalam konten sains populer, kita harus relate sains dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, sepak bola adalah salah satu olahraga paling populer di dunia.
Tim Liverpool bersama Deepmind menggunakan AI-engine Deepmind untuk formulasi strategi permainan mereka, dan AI sudah digunakan di cabor lain juga.
Bisa mulai dari situ misalnya, supaya suporter sepak bola nyaman dengan narasi positif dari benefit saintek.
Arli Aditya Parikesit
Guru Besar kekhususan Bioinformatika pada Indonesia International Institute for Life Sciences, dan anggota Klaster Keilmuan Bioinformatika Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Penulis bisa dikontak pada akun TikTok: @arliparikesit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










