Akurat

Kontroversi Epistemologis Robert Maxwell, Sang “Kaisar” Bisnis Publikasi Ilmiah Sains dan Teknologi

Herry Supriyatna | 31 Oktober 2025, 23:09 WIB
Kontroversi Epistemologis Robert Maxwell, Sang “Kaisar” Bisnis Publikasi Ilmiah Sains dan Teknologi

SALAH satu kewajiban pokok dosen dan peneliti bidang sains dan teknologi adalah melakukan publikasi ilmiah terhadap hasil penelitian mereka.

Kewajiban ini sudah ada semenjak jurnal ilmiah pertama dalam sejarah dilaunch pada tahun 1665 secara berdekatan di Perancis dan Inggris, sebagai bagian dari KPI mereka.

Philosophical Transactions of the Royal Society dan Journal des sçavans merupakan pionir dalam tradisi ini.

Semenjak saat itu sampai beberapa saat setelah Perang Dunia II, tidak pernah ada polarisasi atau diskursus kritis mengenai kewajiban ini karena semua ilmuwan menganggapnya “taken for granted”.

Namun, pasca Perang Dunia II, terjadi pergeseran signifikan. Terjadi polarisasi terhadap policy tersebut, karena peran penerbitan jurnal ilmiah yang selama ratusan tahun dipegang konsorsium keilmuan seperti kalau di UK oleh The Royal Society of London for Improving Natural Knowledge misalnya, mulai diambil alih oleh korporasi multinasional.

Mengapa demikian? Banyak yang belum tahu, bahwa ada seorang tokoh pengusaha yang sebenarnya menjadi tokoh sentral dari polarisasi tersebut. Nama beliau adalah Robert Maxwell. Siapakah dia?

Robert Maxwell adalah sosok yang sangat kontroversial di bidang penerbitan ilmiah sains-tek. Kisah hidupnya menarik dan penuh peristiwa dramatis, mulai dari masa Perang Dunia II hingga mengambil peran penting di dunia media dan bisnis penerbitan ilmiah di Inggris.

Ia lahir dengan nama Jan Ludvik Hoch pada tahun 1923 di wilayah Karpatia, yang sekarang menjadi bagian dari Ukraina.

Pada masa muda, hidupnya sangat berantakan, terutama setelah Perang Dunia II berakhir. Ia kabur dari penjara, bergabung dengan pasukan Sekutu, dan bahkan diberikan penghargaan Medal of Military Cross karena keberaniannya dalam bertempur.

Setelah perang, Maxwell pindah ke Inggris dan mulai membangun bisnis, terutama di bidang penerbitan ilmiah. Ia mendirikan Pergamon Press, yang ia bangun setelah perang dengan membeli hak distribusi jurnal ilmiah dari Eropa Timur dan Jerman.

Setelah itu, ia terus memperluas bisnisnya dengan membeli banyak lisensi jurnal yang diterbitkan di luar Inggris dan Amerika Serikat, lalu menjual kembali kepada perpustakaan dan lembaga penelitian di daerah tersebut.

Baca Juga: Cak Imin Luruskan Pernyataan Soal Alfamart–Indomaret: Ini Evaluasi, Bukan Permusuhan

Pergamon Press akhirnya menjadi salah satu penerbit jurnal ilmiah terbesar di dunia pada puncak kejayaannya. Begitu berpengaruhnya Pergamon Press, bahkan tidak hanya negara barat yang membeli produk dan jasanya, tapi mereka juga punya strategic partnership dengan Uni Soviet (blok timur).

Pergamon Press bekerja sama dengan Akademi Sains Uni Soviet untuk menerjemahkan jurnal ilmiah berbahasa Rusia ke bahasa Inggris maupun bahasa barat lainnya.

Di saat itu, diketahui sangat sulit bagi perusahaan barat untuk bekerjasama dengan Uni Soviet, dan Pergamon Press bisa melakukannya. Sehingga, Pergamon Press menjadi “mata” pihak barat untuk mengamati perkembangan sains dan teknologi di negeri beruang merah dan satelitnya.

Bisnis Pergamon berfokus pada jurnal ilmiah sebagai langganan; izin dibeli dari penerbit luar dan dijual kembali sebagai layanan langganan. Karena hak cipta biasanya diberikan ke perusahaan melalui perjanjian, para ilmuwan yang menulis artikel tidak menerima royalti atau pembayaran langsung atas karya mereka.

Selain itu, Pergamon juga aktif dalam membuat jurnal baru yang berkaitan dengan bidang penelitian STM (Science, Technology, & Medicine), seperti ilmu material dan energi atom.

Perusahaan besar penerbitan ilmiah Elsevier akhirnya membeli Pergamon Press pada awal tahun 1991. Model bisnis langganan jurnal ilmiah yang diciptakan oleh Robert Maxwell masih berpengaruh hingga kini, meskipun Pergamon sendiri tidak lagi ada. Meskipun dikritik oleh akademisi karena kenaikan biaya langganan, model ini tetap menjadi standar industri.

Namun, Maxwell tidak hanya dikenal karena bisnisnya, tetapi juga karena menimbulkan banyak kontroversi dan masalah hukum. Ia sering terlibat dalam pelanggaran hukum perusahaan dan pajak. Saat meninggal mendadak pada November 1991, perusahaan induknya menghadapi banyak masalah hukum dan keuangan.

Salah satunya adalah dugaan penggelapan ratusan juta pound sterling dana pensiun karyawan. Kegagalan Maxwell dalam mengelola keuangan menghancurkan banyak praktik bisnis yang dianggap tidak sah, merusak reputasi baik yang dia bangun sebelumnya.

Dari sudut pandang epistemik Maxwell yang menerapkan model jurnal berlangganan, kontrak antara penulis dan penerbit menentukan pemilik ilmu pengetahuan atau konten dari paper.

Jika terdapat klausul "kontrak transfer hak cipta" dalam kontrak, maka hak cipta atas isi makalah diberikan kepada perusahaan. Karena alasan ini, muncul gerakan model bisnis "open access" yang ingin menjadikan hasil penelitian dan penelitian sebagai domain publik.

Tapi penerbit komersial yang mengadopsi open access mengenakan biaya "Article Processing Fee" (APC), yang sering memberatkan institusi di negara berkembang.

Pada akhirnya, segala sesuatu, termasuk hak cipta untuk produksi pengetahuan, bergantung pada kontrak yang ditandatangani, dan perusahaan penerbit berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi mungkin dari karya ilmiah ini.

Menghadapi episteme bisnis Maxwell yang besar dan berpengaruh, pengelola jurnal ilmiah yang lebih kecil dan komunitas akademik mulai bersatu menghadapi model ini. Inisiatif kritis seperti Retraction Watch dan PubPeer muncul sebagai alat pengawasan independen.

Retraction Watch mendata dan memantau paper ilmiah yang diretract atau ditarik dari berbagai jurnal besar, membuka transparansi terhadap masalah etika dan kualitas.

PubPeer menjadi platform bagi “scientific sleuth” atau detektif sains untuk mendiskusikan, menyelidiki, dan membongkar pelanggaran integritas editorial dan review jurnal yang selama ini dilakukan di balik layar.

Tidak hanya itu, ada juga inisiatif DORA (The Declaration on Research Assessment), yang banyak ditandatangani oleh akademisi, peneliti, dan jurnal-jurnal yang “emerging”.

Baca Juga: Hasil Persija vs PSBS Biak: Maxwell Hattrick, Macan Kemayoran Bungkam Badai Pasifik 3-1

DORA bertujuan untuk lebih menjaga jarak dengan metrik industrial jurnal, supaya bisa menilai outcome penelitian secara lebih proporsional, adil, dan transparan.

Ketiga contoh inisiatif ini menjadi counterbalance epistemik yang penting dalam ekosistem publikasi ilmiah yang didominasi model bisnis Maxwellian. Sebagai catatan kritis, Retraction Watch dan PubPeer berhasil membongkar banyak sekali pelanggaran etika akademik dan integritas riset pada paper jurnal ilmiah yang terjadi selama pandemi COVID-19.

Basis data Retraction Watch mencatat semuanya, dan banyak dari mereka diretract dari jurnal-jurnal yang dianggap bereputasi tinggi, termasuk milik korporasi multinasional.

Kita semua tahu mengapa ini terjadi, karena selama puncak pandemi (2020–2022/23), banyak jurnal ilmiah yang melonggarkan proses review dan editorialnya supaya bisa segera terbitkan paper terkait COVID. Alasannya tidak rumit, sebab topik COVID-19 sedang “in” saat itu karena itu informasi dari basis data “industrial metrics”.

Disini, kita harus berterima kasih sedalam-dalamnya kepada segenap detektif sains di dunia, karena merekalah yang selama ini membentengi kita dari ekses-ekses episteme Maxwellian.

Penting untuk disadari bahwa artikel ini ditulis bukan untuk menghakimi seorang Robert Maxwell maupun menyerang dan mencibir model bisnisnya. Yang kita bedah disini adalah episteme dari Maxwell, bukan pribadi maupun keluarganya.

Bagaimanapun kontroversialnya seorang Maxwell, dia berhasil mengubah dunia dan mempengaruhi kita semua. Publikasi ilmiah yang di era Antoine Lavosier, Albert Einstein dan Louis Pasteur yang umumnya diproduksi oleh konsorsium keilmuan secara terbatas, akhirnya juga melibatkan korporasi multinasional.

Maxwell membuka pintu bagi suatu “tata dunia baru”, dimana semua kontroversi yang dihasilkan oleh bisnisnya, justru menjadikan publikasi ilmiah sebagai salah satu komoditas bisnis terpenting di era modern ini, seperti juga migas, AI agent, dan rare-earth minerals. Ini tidak akan terjadi, jika Maxwell tidak pernah membuka Pergamon Press.

Secara sadar, model bisnis Maxwell telah membuat jurnal ilmiah menjadi komoditas yang sangat populer, bahkan juga melampaui domain akademisi dan ilmuwan sekalipun.

Model bisnis Maxwell membuka jalan bagi “industrial metrics” untuk menilai impact factor maupun H-index dari jurnal ilmiah, yang sangat bermanfaat bagi pemasaran jurnal tersebut. Indikator tersebut jelas menjadi push factor yang powerful dalam memapankan branding suatu jurnal.

Dalam kacamata bisnis, model Maxwellian sudah membuka begitu banyak lapangan kerja terutama bagi editor jurnal ilmiah. Di berbagai penerbit besar, editor-in-chief dan associate editor jurnal adalah permanent atau contract employee di company tersebut.

Tidak hanya investor yang diuntungkan dari model bisnis ini, tapi juga banyak white collar workersmaupun staf administrasi jurnal.

Bagaimana kita menghadapi ini? Selayaknya semua bisnis, mereka hanya bisa dihadapi dengan kompetisi yang sehat. Kita melihat kisah sukses local company seperti Sosro, yang berhasil menjadi kompetitor bagi Coca Cola.

Baca Juga: Misbakhun: Tokenisasi Aset Nyata Jadi Tonggak Inklusivitas Investasi Nasional

Juga kisah sukses Bakmi GM dan Es Teler 77, yang menciptakan niche powerful yang tidak bisa ditembus oleh company fast food sampai sekarang.

Jurnal ilmiah seyogyanya dihadapi dengan instrumen kompetitif yang serupa. Sudah ada misalnya Relawan Jurnal Indonesia yang merupakan konsorsium pengelola jurnal ilmiah lokal.

Belum lagi berbagai konsorsium keilmuan juga mengembangkan jurnal ilmiahnya sendiri, seperti Himpunan Kimia Indonesia dan UGM dengan Indonesian Journal of Chemistry, Perhimpunan Biologi Indonesia dan IPB dengan Hayati Journal of Biosciences, BRIN dan Indonesia Neutron Scattering Society dengan Atom Indonesia, dan banyak lagi lainnya.

Disini jelas bahwa mengkritisi Maxwell bukan berarti menjadi “malas” dan “ogah” dengan kewajiban publikasi, karena kita tahu bahwa kajian STM bisa maju ke depan karena publikasi ilmiah dengan mendukung penguatan konsorsium keilmuan.

Yang kita kritisi disini adalah business model Maxwell, bukan publikasi ilmiah sendiri yang sudah mapan sebagai media formal diseminasi sains semenjak abad ke-17. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Kemudian, sama seperti Ali Syariati yang pernah menulis risalah mengkritisi Karl Marx, karena Marxisme adalah wacana yang terbuka untuk dikritik, demikian juga model Maxwellian. Ali Syariati tidak pernah membenci Marx, hanya ada ketidaksetujuan saja.

Sama juga dengan penulis, tidak ada sedikitpun emosi negatif kami terkait dengan pribadi Maxwell sebagai pengusaha besar yang mengubah dunia.

Namun, dalam hal ini, pemerintah tidak bisa netral dan tidak berpihak. Selama ini pemerintah sudah mendukung jurnal lokal milik konsorsium keilmuan/kampus/lembaga penelitian, dengan support akreditasi dan penjaminan mutu, namun dukungan tersebut perlu lebih jauh lagi.

Pemerintah seyogyanya juga mencegah terjadinya monopoli atau oligopoli oleh korporasi di bisnis ini. Jika monopoli atau oligopoli terjadi, itu harus dilakukan negara, sesuai dengan amanat konstitusi kita yaitu UUD’45.

Monopoli jelas sah dilakukan oleh negara, seperti yang kita lihat pada PLN dan industri listrikan, juga KAI dan perkeretaapian. Dominasi bisnis, tidak harus monopoli, juga sah jika dilakukan negara, seperti kita lihat pada Pertamina dan Telkomsel.

Dalam opini penulis, jurnal ilmiah sebenarnya sudah bisa dimasukkan sebagai kategori “hajat orang banyak” seperti migas dan instrumen telekomunikasi, karena merupakan instrumen kunci bagi pengembangan karir dari sekian banyak dosen dan peneliti.

Walaupun demikian, secara pribadi, penulis tidak ingin melihat ada satu entitas manapun yang melakukan monopoli/oligopoli/dominasi di bisnis jurnal, baik itu negara maupun korporasi multinasional.

Jika itu terjadi sekalipun, harus ada suara counter-domination atau counter-hegemonic, seperti yang ditunjukkan Sosro, Bakmi GM, dan Es Teler 77 di bisnis beverage dan kuliner.

Ini sudah dilakukan oleh sejumlah signifikan jurnal kita, dan mereka berhasil menciptakan niche yang powerful juga. Dengan begini, maka episteme Maxwellian yang cenderung hegemonik bisa dinetralkan. 

 

Arli Aditya Parikesit
Guru Besar kekhususan Bioinformatika pada i3L University, anggota Klaster Keilmuan Bioinformatika Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM), dan Managing Editor Indonesian Journal of Life Sciences (IJLS) dari i3L University

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.