Trial Sepak Bola Robotik: Simulasi Dinamika Olah Raga Populer

SEPAK BOLA, tanpa diragukan lagi, adalah salah satu olahraga yang paling populer di dunia. Gemuruh kompetisinya, dari tingkat tarkam sampai ke piala dunia, selalu ramai dinantikan oleh semua suporternya.
Popularitas dan pengaruhnya yang luar biasa pada dinamika masyarakat, telah mendorong banyak ilmuwan mempelajari olahraga tersebut lebih mendalam.
Secara spesifik, pakar AI (kecerdasan buatan) dan robotika banyak mencoba mensimulasikan pertandingan sepak bola di dunia nyata, ke laboratorium mereka.
Teknologi robotika telah mendorong popularitas sepak bola ke level selanjutnya. Robot sepak bola dirancang untuk mensimulasikan pertandingan dengan menggunakan mesin otonom yang dapat mendeteksi, menggiring, dan menendang bola.
Untuk ilustrasi, tim Dagozilla ITB telah mengembangkan robot beroda yang menggunakan sistem operasi robot (ROS) dan algoritma YOLO untuk mendeteksi objek dalam waktu nyata, yang membantu robot bermain secara mandiri. Robot yang ada sekarang dapat bermain sepak bola seperti manusia berkat kemajuan ini.
Selain itu, robot humanoid otonom mulai diturunkan di turnamen internasional. Turnamen robot sepak bola Beijing 2025 adalah salah satunya.
Di sini, tanpa kendali manusia, robot dengan AI yang lengkap bertanding, menunjukkan simulasi permainan yang realistis dan penuh strategi.
Namun, mereka masih terbatas pada aspek teknis gerakan. Rekan pembaca sekalian bisa mengecek di berbagai video rekaman kompetisi tersebut di youtube misalnya.
Baca Juga: Viral Isi Permintaan Maaf Trans7 Soal Tayangan Pesantren Lirboyo: Cek di Sini!
Jika kita bandingkan dengan permainan sepak bola yang dilakukan oleh manusia, ternyata robot yang digunakan masih kaku dan gerakannya terlalu mekanis.
Namun, tetap saja, dari aspek teknologi robotik, ini sudah jauh lebih baik daripada teknologi yang lebih lama.
Riset Robotika Sepak Bola Terbaru adalah menggabungkan teknologi persepsi visual, kontrol gerakan, dan algoritma AI.
Peningkatan akurasi visibilitas dan navigasi robot dengan menggunakan metode CNN dan algoritma seperti Haar Cascade dan HSV adalah salah satu pencapaian terbaru.
Sistem yang terintegrasi ini memiliki kemampuan untuk meningkatkan akurasi lokalisasi robot dari tiga puluh persen menjadi hampir tujuh puluh persen serta menghasilkan kinerja robot yang lebih responsif dalam mengambil dan mengatur posisi bola, demikian hasil penelitian dari tim peneliti Universitas Brawijaya dan ITS.
Strategi permainan menjadi fokus utama penelitian, selain aspek teknikal. Studi ini menggunakan kontrol fuzzy inference system (FIS) untuk membuat sistem dinamis di mana robot dapat beralih dari penyerang ke bertahan dan sebaliknya.
Dalam simulasi pertandingan robot beroda, mereka menang lebih dari 80% dari uji coba, yang menunjukkan kemajuan besar dalam manajemen strategi bertahan dan menyerang secara otomatis.
Riset ini menunjukkan bahwa performa teknologi robotik dari tahun ke tahun semakin membaik, dan presisi maupun akurasinya juga meningkat secara sangat signifikan. Kampus-kampus seperti Unisma, UPI, dan UNDIP juga melakukan riset robotik sepak bola juga.
Akan tetapi, apakah robot dapat menangkap dan merekam semua dinamika pertandingan sepak bola, yang sering kali bisa menjadi sangat emosional dan penuh gesekan?
Meskipun robot dapat menggunakan strategi dan teknik yang kompleks untuk bermain sepak bola, mereka belum mampu menghidupkan aspek emosional yang sangat penting dari olahraga ini.
Pertandingan sepak bola manusia dipenuhi dengan emosi seperti semangat juang, tekanan psikologis, antusiasme, atau frustrasi.
Emosi-emosi ini membuat pertandingan sepak bola manusia hidup dan penuh warna. Kesadaran dan respons spontan diperlukan, yang selama ini sulit diamati dan ditiru oleh robot dan kecerdasan buatan.
Selain itu, emosi meningkatkan permainan melalui interaksi sosial di lapangan dan antara pemain dan penonton.
Walaupun robot dapat melakukan aksi fisik dan membuat keputusan berbasis kecerdasan buatan, mereka tidak memiliki pengalaman subjektif atau kesadaran diri yang diperlukan untuk menyampaikan emosi. Oleh karena itu, mesin tidak dapat menggantikan aspek manusia dalam kompetisi.
Contoh yang sederhana ketika pelanggaran fatal terjadi, dan wasit harus memberikan kartu merah dan/atau tendangan penalti sebagai hukuman.
Di sistem yang sangat mekanis dukungan teknologi robotik, dimungkinkan pelanggaran fatal seperti itu diminimalkan, kalau tidak ditiadakan sama sekali.
Baca Juga: Cara Mudah Membuat Link WhatsApp di Microsoft Excel
Jika wasit, pemain, dan pelatih adalah sistem robotik, mereka akan diprogram untuk “zero tolerance” terhadap kekerasan atau pelanggaran terhadap peraturan.
Justru mekanisasi seperti ini akan menjadikan sepak bola robotika tidak menarik secara komersial, karena selain permainan yang baik, yang juga ditunggu para suporter adalah “drama-drama emosional” yang terjadi di lapangan. Ini adalah fakta yang sulit dibantah.
Dalam pertandingan sepak bola nyata, robot tidak dapat menggantikan manusia karena mereka tidak memiliki jiwa sportivitas dan tidak dapat menangkap dan mengungkapkan emosi.
Sepak bola adalah lebih dari sekedar olahraga; itu adalah hubungan sosial, budaya, dan semangat kolektif yang unik bagi manusia.
Suporter sepak bola tidak hanya membutuhkan permainan yang sempurna seperti yang pernah ditunjukkan oleh Pele, Maradona, dan Zidane, atau strategi sepak bola yang tajam seperti formulanya Franz Beckenbauer, tapi juga permainan extra-dramatis dan emosional seperti yang kita lihat baru-baru ini ketika tim Irak mengalahkan timnas kita di kualifikasi piala dunia 2026.
Tangisan dan kesedihan pemain timnas telah membuat kita semua menangis dan sedih bersama mereka, karena mimpi mereka untuk berlaga di piala dunia, adalah mimpi kita semua. Kegagalan mereka, adalah kegagalan kita semua, paling tidak secara emosional.
Perasaan ‘senasib-sepenanggungan” ini, yang tidak akan pernah bisa kita rasakan dari mekanisasi dan otomatisasi robotik.
Robotika tidak akan bisa menangkap tangisan Tom Haye dan kebijaksanaan Jay Idzes yang mencoba tenangkan suporter kita yang marah, karena timnas kita kalah.
Oleh karena itu, robot saat ini tidak berfungsi sebagai pengganti pemain nyata di lapangan, tetapi hanya berfungsi sebagai alat bantu atau simulasi untuk membantu atlet mengembangkan teknik dan latihan mereka.
Faktor-faktor yang tidak dapat diprogram oleh AI, seperti improvisasi kreatif, pengambilan keputusan berbasis intuisi, dan energi dari penonton, juga mempengaruhi pertandingan sepak bola manusia.
Oleh karena itu, sepak bola, sebagai olahraga manusia, tidak dapat sepenuhnya diganti oleh robotika, akan tetap asli dan hidup.
Namun tentu saja peranan robotika dan AI jangan di downplay juga, karena mereka adalah inovasi yang juga penting.
Kedepannya, simulasi robotik justru bisa dimanfaatkan oleh timnas ataupun klub untuk mensimulasikan aplikasi strategi mereka di lapangan.
Pelatih dan direktur teknis bisa mencoba mensimulasikan strateginya pada robot, sebelum diimplementasikan pada pemain. Sudah jamak ada kisah pemain yang justru cedera saat latihan, bukan pas bertanding.
Jika simulasi robotik ini dioptimalkan, maka pas implementasi pada pemain, bisa menjadi instrumen untuk mengurangi resiko yang tidak perlu.
Robotika bisa dimanfaatkan bukan tentu saja untuk meniru emosi dan drama di lapangan, tetapi untuk meminimalkan resiko selama latihan atau pertandingan.
Robotika tidak akan menggantikan pelatih, pemain, maupun wasit, tapi akan membuat mereka menjalankan perannya dengan jauh lebih baik.
Arli Aditya Parikesit
Guru Besar kekhususan Bioinformatika pada i3L University, dan anggota Klaster Keilmuan Bioinformatika Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










