Basis Data Indexing untuk Penerbitan Artikel pada Jurnal Ilmiah: Mengembalikan Fungsi Bibliometrik kepada Tempatnya

DALAM berbagai diskusi dan forum, jika segenap pembaca bertemu muka dengan teman atau kolega atau kampus, dimungkinkan hal ini sering diangkat.
Dosen bertugas melaksanakan tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan-pengajaran (bagian A), penelitian (bagian B), dan pengabdian masyarakat (bagian C).
Seringkali dosen menganggap bahwa bagian B adalah yang paling menantang, karena harus menerbitkan paper mereka di apa yang disebut sebagai “jurnal internasional bereputasi”.
Dalam diskusi, dipastikan mereka akan menyebut beberapa basis data seperti SCOPUS, WOS, dan SINTA yang menjadi platform indexing jurnal-jurnal tersebut.
Sekarang, mengapa basis data tersebut dianggap penting? Apa sesungguhnya fungsi mereka?
Dalam pencarian artikel ilmiah, terdapat berbagai basis data indexing yang memiliki fokus berbeda sesuai dengan bidang keilmuan tertentu untuk analisis bibliometrik atau mengukur pustaka ilmiah dengan metode statistika dan matematika.
SCOPUS dan Web of Science (WOS) yang merupakan basis data komersial menawarkan cakupan multidisipliner yang luas, mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Sementara itu, PubMed dikhususkan untuk literatur di bidang kesehatan dan kedokteran, menjadi rujukan utama bagi para profesional medis dan peneliti di bidang tersebut.
Di sisi lain, IEEE Xplore berfokus pada publikasi di bidang teknologi, teknik, dan ilmu komputer, menyediakan sumber daya penting bagi para insinyur dan ilmuwan teknologi.
Dimensions hadir sebagai platform yang mengintegrasikan data dari berbagai disiplin ilmu dengan fitur analitik yang mendukung evaluasi dampak penelitian.
Berbagai basis data ini tidak hanya berfungsi sebagai katalog digital yang mengelola daftar jurnal dan artikel ilmiah, tetapi juga mempermudah peneliti dalam menemukan literatur yang relevan sesuai kebutuhan spesifik mereka.
Baca Juga: Cara Cek Desil DTSEN BPS Secara Online, Bisa Lewat Google Mudah dan Cepat!
Basis data ini sebenarnya dikembangkan sebagai katalog untuk mencatat jurnal dan artikel ilmiah. Mereka membantu mengelompokkan jurnal berdasarkan bidang ilmu, kategori Sustainable Development Goals (SDG), dan popularitas dengan metrik seperti H-index, SCImago Journal Rank (SJR), atau Impact Factor (IF).
Namun, database ini tidak bisa menilai apakah artikel yang diterbitkan berkualitas atau tidak.
Penilaian kualitas artikel hanya bisa dilakukan oleh para ahli melalui proses peer review (tinjauan rekan sejawat) benar dan tepat seperti tertulis pada pedoman COPE (Committee on Publication Ethics).
Banyaknya kasus retraksi artikel ilmiah di jurnal yang selama ini dianggap bereputasi merupakan gejala kuat bahwa proses peer review tersebut tidak dilaksanakan dengan benar.
Selain itu, basis data indexing untuk analisis bibliometrik juga mempermudah peneliti dalam menemukan referensi yang relevan dengan topik penelitian mereka.
Dengan fitur pencarian yang canggih, pengguna dapat dengan cepat mengakses artikel-artikel terbaru, mengevaluasi relevansi konten, serta mengidentifikasi tren riset terkini di bidang tertentu. Hal ini tentunya mendukung efisiensi dalam proses penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagi peneliti pemula, basis data indexing sangat bermanfaat sebagai panduan untuk memahami lanskap penelitian di bidang mereka.
Peneliti dapat belajar mengenali jurnal-jurnal ilmiah yang paling sering dirujuk, memahami standar kualitas artikel ilmiah, serta memperoleh inspirasi dari berbagai studi yang telah dilakukan.
Selain itu, basis data ini membantu peneliti pemula dalam mengasah kemampuan kritis mereka dengan membandingkan berbagai pendekatan metodologis dan hasil riset dari berbagai sumber terpercaya.
Di Indonesia, database indexing jurnal memiliki peran yang sangat signifikan dalam dunia akademik, khususnya terkait dengan kenaikan jenjang jabatan fungsional dosen.
Sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), publikasi di jurnal yang terindeks pada basis data yang digolongkan bereputasi menjadi salah satu syarat utama untuk mengajukan kenaikan jabatan, terutama untuk jenjang lektor kepala dan guru besar/profesor.
Hal ini membuat banyak dosen menaruh perhatian besar pada apakah artikel mereka diterbitkan di jurnal yang terindeks oleh basis data seperti SCOPUS, Web of Science (WOS), atau SINTA.
Namun, dalam proses memenuhi persyaratan ini, para dosen menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Salah satu tantangan utama adalah tingginya tingkat persaingan untuk dapat diterbitkan di jurnal-jurnal tersebut.
Baca Juga: SEA Games: Menuju Partai Puncak, Indonesia Siapkan Line-up Terbaik untuk Final Beregu
Jurnal-jurnal terindeks SCOPUS atau WOS biasanya memiliki proses editorial yang sangat ketat, baik dari segi kualitas metodologi, kedalaman analisis, maupun originalitas temuan penelitian.
Proses peer review yang panjang dan ketat juga sering kali menjadi hambatan, karena membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun, sebelum artikel akhirnya diterima untuk publikasi.
Tantangan lainnya adalah terkait dengan biaya publikasi. Banyak jurnal internasional bereputasi mengenakan Article Processing Charges (APC) yang cukup tinggi, yang menjadi beban tambahan bagi dosen, terutama mereka yang tidak memiliki dukungan pendanaan riset yang memadai.
Kondisi ini membuat beberapa dosen terpaksa mencari alternatif jurnal yang lebih terjangkau, meskipun tidak selalu sejalan dengan standar kualitas yang diharapkan.
Basis data DOAJ misalnya, mengindeks jurnal open access yang ada, termasuk yang gratis. Namun belum tentu jurnal gratis tersebut terindeks ke basis data yang disyaratkan DIKTI.
Ada juga alternatif ke jurnal closed access, yang gratis bagi author, dan biasanya diterbitkan oleh penerbit besar (major).
Namun biasanya proses editorial jurnal tersebut sangat ketat, karena jurnal yang dihandle oleh korporasi umumnya mempekerjakan full time editor, yang fokus menghandle manuskrip ilmiah saja.
Berbeda dengan jurnal kampus yang editornya biasanya dosen yang harus melakukan pekerjaan lain yang sangat menyita waktu, terutama kalau memiliki jabatan struktural seperti ketua departemen dan dekan.
Selain itu, keterbatasan dalam mengakses referensi ilmiah terbaru juga menjadi hambatan. Tidak semua institusi pendidikan memiliki langganan ke basis data jurnal internasional yang lengkap, sehingga dosen kesulitan mendapatkan literatur yang relevan untuk mendukung penelitian mereka.
Hal ini berdampak pada kualitas penulisan artikel yang kurang terkini dan kurang kontekstual dengan perkembangan riset global.
Pada akhirnya, meskipun basis data indexing menjadi tolok ukur administratif untuk kenaikan jabatan, kualitas sebenarnya dari sebuah artikel ilmiah tidak semata-mata ditentukan oleh di mana artikel tersebut diterbitkan.
Proses peer review yang ketat, orisinalitas penelitian, dan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan tetap menjadi indikator utama dari kualitas sebuah karya ilmiah.
Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan tinggi untuk menyediakan dukungan yang memadai bagi para dosen dalam menghadapi tantangan ini, baik melalui pelatihan peningkatan kapasitas, dukungan pendanaan riset, maupun fasilitas akses ke sumber daya ilmiah internasional.
Sayangnya, banyak yang percaya bahwa terindeks di database besar yang komersial otomatis berarti jurnal dan artikel punya kualitas tinggi. Padahal, sudah banyak tulisan yang membantah ini. Misalnya, tulisan Rizky Amalia Zein membahas "efek kobra" dalam publikasi ilmiah, menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada metrik bisa memicu praktik yang tidak sehat.
Tulisan Edi Subhan mengkritik Scopus sebagai ukuran mutlak kualitas akademik, sementara Putri R Syafrayani menyoroti keterbatasan Impact Factor sebagai tolok ukur kualitas ilmiah. Juga ada portal sciencewatchdog.id yang sering mengangkat masalah integritas penelitian, dan artikel ilmiah yang terekstraksi.
Meskipun berbagai argumen ini telah dipaparkan, persepsi umum yang mengaitkan indeks database komersial dengan kualitas artikel tetap kuat di kalangan akademisi dan masyarakat.
Banyak institusi pendidikan tinggi dan peneliti masih menjadikan status terindeks sebagai indikator utama kualitas tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih luas tentang bagaimana penelitian tersebut dihasilkan dan dievaluasi.
Tidak bisa dibantah, bahwa branding dan pemasaran basis data komersial tersebut sudah sangat kuat, sehingga sudah mempengaruhi persepsi publik, sampai diluar komunitas ilmiah itu sendiri.
Lebih dari itu, ketergantungan berlebihan pada analisis metrik seperti H-index, SJR, dan IF sering kali mengabaikan kualitas substansi artikel dan kontribusi nyatanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam banyak kasus, artikel yang memiliki metrik tinggi ternyata mengandung kelemahan metodologis atau bahkan terlibat dalam pelanggaran etika akademik.
Kelompok seperti scientific sleuth atau detektif sains seperti, Retraction Watch, dan PubPeer telah mengungkap pelanggaran etika dalam banyak paper jurnal yang dianggap bereputasi justru karena terindeks dan punya metrik tinggi. DIKTI sendiri memiliki portal ANJANI, yang mendata pelanggaran etika dalam penulisan artikel ilmiah.
Ini menunjukkan bahwa hanya melalui peer review yang jujur, proper, dan kritis bisa memastikan kualitas artikel yang sebenarnya. Bila kritik dari komunitas tersebut valid secara ilmiah, sulit mempertahankan klaim kualitas artikel meskipun diterbitkan di jurnal bergengsi sekalipun.
Inisiatif-inisiatif seperti ANJANI, Retraction Watch dan PubPeer telah menunjukkan bagaimana artikel yang awalnya dianggap berkualitas tinggi karena terindeks di database bereputasi, akhirnya terungkap mengandung masalah serius setelah ditelaah secara kritis oleh komunitas ilmiah.
Mereka membuktikan bahwa hanya dengan evaluasi sejawat yang jujur dan kritis, kualitas artikel ilmiah dapat dipastikan.
Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan fungsi basis data sebagai alat bibliometrik, bukan sebagai indikator kualitas substantif. Kualitas ilmiah sejati hanya bisa diukur melalui penilaian mendalam terhadap isi penelitian itu sendiri, bukan semata dari popularitas metrik atau status indeks jurnal.
Komunitas ilmiah seyogyanya bisa membedakan antara alat bibliometrik seperti database indexing dan metrik jurnal dengan kualitas karya ilmiah.
Kita perlu mengembangkan cara penilaian yang juga mempertimbangkan pengaruh artikel dalam kebijakan publik, inovasi teknologi, atau manfaat untuk masyarakat.
Baca Juga: Awal Buram SEA Games 2025: Media Tak Dapat ID, Logistik dan Transportasi Atlet Bermasalah
Namun, penting juga untuk memahami bahwa ketergantungan berlebihan pada bibliometrik dapat mengaburkan esensi dari penelitian ilmiah itu sendiri.
Kualitas sebuah artikel tidak semata-mata diukur dari angka-angka seperti Impact Factor atau H-index, melainkan dari kontribusi nyata yang diberikan kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Oleh karena itu, pendekatan yang lebih holistik dalam menilai kualitas penelitian, termasuk evaluasi terhadap relevansi, kebaruan, dan dampak sosial ekonomi, harus terus dikembangkan untuk mendorong budaya akademik yang lebih sehat dan bermakna.
Yayasan Nobel sebagai contoh institusi bereputasi tinggi tidak menggunakan basis data indexing komersial beserta metrik terkait seperti Impact Factor dan SJR sebagai satu-satunya dasar dalam memilih penerima Hadiah Nobel.
Sebaliknya, mereka fokus pada dampak nyata dari inovasi dan kontribusi ilmiah seseorang terhadap masyarakat dan komunitas ilmiah global.
Sebagai contoh, pemenang Hadiah Nobel di bidang Fisika tahun 2018, Donna Strickland, hanya memiliki sedikit publikasi ilmiah sebelum menerima penghargaan bergengsi tersebut.
Meskipun H-index-nya tidak setinggi ilmuwan lain di bidang yang sama, penelitiannya tentang penguatan pulsa laser ultra cepat memiliki dampak revolusioner dalam teknologi laser modern, yang digunakan dalam berbagai aplikasi medis dan industri.
Keputusan penghargaan ini menunjukkan bahwa kualitas dan signifikansi hasil penelitian lebih diutamakan daripada jumlah publikasi atau metrik lainnya.
Contoh lain adalah pemenang Hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 2002, Daniel Kahneman. Penelitiannya di bidang psikologi kognitif memberikan kontribusi besar dalam memahami bagaimana manusia membuat keputusan ekonomi, meskipun tidak selalu diterbitkan di jurnal ekonomi terindeks tinggi.
Dampaknya terhadap kebijakan publik dan teori ekonomi modern jauh melampaui seberapa sering karyanya dikutip secara akademis.
Basis data Norwegian Register for Scientific Journals, Series and Publishers (Kanalregisteret) milik pemerintah Norwegia juga menerapkan pendekatan serupa. Mereka tidak menjadikan inklusi ke SCOPUS dan WOS sebagai indikator formal yang mutlak dalam mengevaluasi kualitas jurnal.
Baca Juga: KPU Dorong Kolaborasi dengan Bawaslu dan DKPP Bangun Peta Demokrasi Baru
Sebaliknya, mereka menilai kualitas berdasarkan kontribusi ilmiah dan relevansi terhadap komunitas akademik. Pendekatan ini juga diadopsi oleh basis data SINTA di Indonesia, yang menekankan pentingnya kualitas konten daripada sekadar popularitas metrik.
Studi kasus ini menegaskan bahwa penghargaan dan pengakuan ilmiah tertinggi tidak selalu berkorelasi dengan analisis bibliometrik.
Dampak nyata dari penelitian terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat menjadi kriteria utama dalam menilai kualitas dan signifikansi sebuah karya ilmiah.
Dampak nyata tersebut tidak harus suatu inovasi yang mengubah dunia seperti yang dilakukan pemenang nobel, tapi juga suatu inovasi yang mengubah lingkungan atau komunitas sekitar kita.
Disini, kami menghimbau supaya kita bersama kembalikan basis data tersebut sebagai instrumen bibliometrik dan sebagai katalog digital yang menggantikan katalog analog yang biasa digunakan perpustakaan.
Kemudian, selain perpustakaan, pengelola jurnal ilmiah juga bisa menggunakannya untuk melihat seberapa populer jurnal mereka dengan metric tersebut.
Bahkan basis data Dimensions juga mengecek popularitas paper di media sosial. Satu hal yang juga sering dilakukan pengelola jurnal, section/handling editor misalnya, adalah menggunakan basis data tersebut untuk mencari reviewer.
Basis data SCOPUS, WOS, Dimensions, dan OpenAlex bisa digunakan untuk mencari profil reviewer, untuk menelaah manuskrip yang sesuai ekspertise mereka. Bahkan beberapa basis data tersebut sudah menggunakan AI untuk mempermudah menemukan reviewer yang cocok.
Sebagai contoh konkret, editor jurnal di bidang bioinformatika dapat menggunakan SCOPUS untuk mencari peneliti yang telah banyak menerbitkan artikel terkait analisis simulasi molekuler untuk desain obat.
Dengan memanfaatkan fitur pencarian lanjutan, editor dapat memfilter hasil berdasarkan kata kunci, afiliasi institusi, hingga negara asal peneliti.
Hal ini memudahkan mereka menemukan reviewer yang memiliki keahlian spesifik, memastikan kualitas tinjauan sejawat yang lebih relevan dan mendalam.
Namun, bagaimana menilai kualitas artikel secara khusus, maupun outcome riset secara umum? Serahkan hal tersebut kepada konsorsium keilmuan dan asosiasi profesi. Sebab, berbagai bidang ilmu memiliki keunikan dan perbedaan dalam outcome penelitian mereka.
Outcome riset seni rupa dan desain, yang banyak berfokus pada eksibisi seni internasional, tentu saja tidak bisa disamakan cara menilainya dengan outcome riset bioinformatika dengan jurnal ilmiahnya.
Artikel tersebut juga harus bisa “withstand” dari post-review yang dilakukan oleh detektif sains yang tergabung pada Retraction Watch dan Pubpeer.
Lebih jauh lagi, penting untuk menekankan bahwa pemanfaatan basis data indexing seharusnya mendukung ekosistem ilmiah yang sehat dan transparan.
Baca Juga: Profil Terra Done, Perusahaan di Kemayoran yang Gedungnya Terbakar dan Tewaskan 22 Korban
Dengan mengedepankan kolaborasi antara peneliti, reviewer, dan komunitas ilmiah global, kita dapat menciptakan budaya akademik yang tidak hanya berfokus pada kuantitas publikasi, tetapi juga pada kualitas dan integritas riset.
Hal ini akan memastikan bahwa basis data tersebut menjadi alat yang benar-benar bermanfaat dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, bukan sekadar sebagai ukuran administratif atau simbol prestise semata.
Pengungkapan: Penulis menyatakan bahwa selama proses penulisan artikel ini menggunakan alat AI Perplexity dan Apple Intelligence untuk membantu penyuntingan, perbaikan tata bahasa atau parafrase.
Meskipun dibantu oleh AI, penulis bertanggung jawab penuh atas isi, keakuratan, dan orisinalitas karya ini.
Penggunaan AI hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penulis, dan semua hasil yang dihasilkan oleh AI telah diperiksa dan divalidasi secara menyeluruh oleh penulis untuk memastikan integritas ilmiah.
Arli Aditya Parikesit
Guru Besar kekhususan Bioinformatika pada i3L University, dan anggota Klaster Keilmuan Bioinformatika Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










