Khittah Logam Tanah Jarang dan Transformasi Teknokrat Santri

INDONESIA kini menapaki fase transisi sejarah ekonomi yang sangat menentukan. Hilirisasi nikel sedang menemukan momentum emasnya; ekspor besi, baja, dan produk turunannya menembus sekitar 19,5 miliar dolar AS dalam sepuluh bulan pertama 2025.
Di sisi lain, kejayaan batubara perlahan meredup menuju senjakala. Arah zaman bergeser dari energi fosil ke critical minerals yang menjadi penopang kendaraan listrik, energi terbarukan, dan infrastruktur digital.
Namun di balik deretan angka yang tampak meyakinkan itu, muncul satu pertanyaan pokok: di mana khittah kita untuk Logam Tanah Jarang (LTJ)?
Kita mungkin sedang memenangi “babak nikel”, tetapi tanpa khittah kebangsaan untuk LTJ yang jelas dan menyeluruh, Indonesia berisiko kalah dalam “kisah besar” penguasaan teknologi masa depan.
Tanpa kendali atas rantai pasok unsur vital seperti Neodimium, Praseodimium, Disprosium, dan Terbium, predikat “Raja Baterai” mudah tergelincir menjadi sekadar fatamorgana.
Kita sibuk membangun wadah penyimpan energi, sementara “ruh” penggerak mesinnya tetap digenggam bangsa lain.
Pada titik krusial inilah urgensi menyeruak. Kita tidak sekadar membutuhkan deretan proyek, melainkan sebuah garis perjuangan—sebuah Khittah Mineral yang meracik sains, keadilan, dan regenerasi talenta dalam satu tarikan napas.
Khazanah Urat Nadi LTJ
Secara geopolitik, LTJ telah bermetamorfosis menjadi “urat nadi” teknologi global. Tanpa magnet permanen berbasis LTJ, motor kendaraan listrik (EV), turbin angin, hingga perangkat pusat data akan lumpuh.
Baca Juga: Karyawan PT WKM Dituntut Tiga Tahun Penjara, Kuasa Hukum Sindir Kriminalisasi
Di atas kertas, bumi pertiwi menyimpan potensi besar yang terserak dari tailing timah hingga lumpur merah bauksit. Namun, potensi tanpa khittah hanyalah catatan kaki dalam artefak kajian.
Dalam khazanah pemikiran ekonomi Islam, ketahanan sebuah peradaban tidak semata-mata ditopang oleh kelimpahan sumber daya, melainkan oleh nizam (tatanan) ilmu dan kekuasaan yang presisi.
Sumber daya tanpa arah niscaya akan tergerus. Kekuasaan tanpa keadilan niscaya akan runtuh.
Oleh karena itu, LTJ menuntut khittah yang tegas: apa ambisi kita, bagaimana rute pencapaiannya, dan siapa aktor yang disiapkan mengelolanya.
Proses ini wajib menjawab tiga dimensi strategis. Pertama, arah kedaulatan: apakah kita puas sekadar menjadi pedagang bahan mentah, atau berani menjadi produsen teknologi.
Kedua, desain kelembagaan: siapa pemegang komando dan bagaimana tata kelolanya. Ketiga, agenda kaderisasi: dari rahim mana lahir ahli metalurgi dan ilmuwan material yang mumpuni.
Tanpa panduan ini, langkah kita akan terjebak dalam pola reaktif: sibuk memadamkan api jangka pendek, namun alpa menyalakan obor jangka panjang.
Mengembalikan Asabiyyah Teknologis Umat
Di saat negara lain berlomba mengembangkan teknologi re-mining tailings demi mengamankan pasokan logam kritis, kita masih menganggap tailing hanya sebagai beban reklamasi.
Kita bangga menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia, tetapi kepemilikan smelter dan teknologi pengolahan banyak dikuasai modal asing. Pola ini berpotensi berulang pada LTJ.
Tengok Tiongkok sebagai studi kasus. Hegemoni mereka atas pemurnian LTJ global bukan kebetulan, melainkan hasil konstruksi “asabiyyah teknologis”. Negara, BUMN, akademia, dan lembaga riset bergerak dalam satu barisan solid.
Secara struktural, fenomena terbangun dari solidaritas (asabiyyah) dan penguasaan ilmu.
Pengalaman Tiongkok melalui konsolidasi China Rare Earth Group memberi pelajaran penting: industri strategis tidak bisa dibangun oleh pemain kecil yang tersebar.
Indonesia membutuhkan Holding Rare Earth Nasional yang mengintegrasikan riset, eksplorasi, pemurnian, hingga pemasaran global.
Meski demikian, kita harus meletakkan timbangan lain: kemaslahatan. Berbagai laporan menyoroti degradasi lingkungan di sentra-sentra LTJ Tiongkok.
Baca Juga: Kebutuhan Pipa Tahan Cuaca Meningkat, Industri Dorong PPR Anti UV untuk Instalasi Luar Ruangan
Dalam kacamata maqashid syariah yang menekankan perlindungan jiwa (hifdzunnafs) dan lingkungan (hifdzul bi’ah), model eksploitatif semacam itu tidak boleh diteladani.
Langkah Indonesia harus sekuat negara lain dalam kedisiplinan perencanaan, namun lebih lurus dalam etika kemanusiaan.
Ilmu Sebagai Pusat Gravitasi Kebangkitan
Sejarah membuktikan, ketika umat Islam menempatkan ilmu di pusat gravitasi kehidupan, mereka mampu memimpin orkestra sains dunia.
Kekuatan politik masa itu disangga oleh kelas ilmuwan yang fasih membaca ayat qauliyah dan kauniyah sekaligus.
Hari ini, jika santri ingin mewarnai zaman, mereka harus hadir di arena mineral kritis.
Kaderisasi santri harus menjadi sumbu vital, terutama penguatan kurikulum sains di pesantren modern, beasiswa strategis ke jurusan metalurgi dan geologi, hingga kolaborasi riset lingkungan.
Santri yang hari ini fasih mendaras kitab kuning, esok lusa harus siap memimpin laboratorium pemurnian mineral Indonesia, terutama mineral strategis jangka panjang seperti LTJ.
Haidir Aulia Reizaputra
Anggota DPP GP Ansor Bidang ESDM
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










