Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen di Awal 2026, Purbaya Siap Belanjakan Rp809 Triliun
Esha Tri Wahyuni | 14 Februari 2026, 18:19 WIB

AKURAT.CO Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah akan mengoptimalkan belanja negara Rp809 triliun pada kuartal pertama 2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Strategi ini mencakup percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pencairan THR ASN/TNI/Polri, stimulus fiskal, hingga dorongan investasi langsung ratusan triliun rupiah.
Dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama Produk Domestik Bruto (PDB), kombinasi belanja negara, stimulus ekonomi 2026, serta investasi strategis diyakini mampu menciptakan efek pengganda (multiplier effect) signifikan dan menjaga tren ekspansi ekonomi nasional.
Belanja Negara Rp809 Triliun Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026
Dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa kinerja ekonomi 2025 akan berlanjut pada 2026. “Mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat tahun 2025 akan terus berlanjut hingga tahun 2026,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Pada kuartal I-2026, pemerintah memastikan total belanja negara Rp809 triliun benar-benar terserap optimal. Anggaran tersebut dialokasikan untuk berbagai program prioritas yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Dari total tersebut, Rp62 triliun dialokasikan untuk percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, Rp55 triliun disiapkan untuk pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri.
Selain itu, pemerintah menganggarkan Rp6 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi bencana di Sumatera serta Rp13 triliun untuk paket stimulus ekonomi. Total injeksi langsung ke masyarakat mencapai sekitar Rp136 triliun di luar belanja rutin. Momentum musiman seperti libur Imlek dan Idul Fitri, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA), turut memperkuat dorongan konsumsi domestik pada awal tahun.
Efek Pengganda ke UMKM, Perdagangan, hingga Transportasi
Purbaya menekankan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB Indonesia. Dengan injeksi fiskal Rp136 triliun pada kuartal pertama, sektor riil diperkirakan terdorong signifikan.
Sektor perdagangan, transportasi, makanan dan minuman, hingga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diproyeksikan merasakan dampak langsung dari peningkatan likuiditas dan belanja masyarakat.
Kombinasi stimulus fiskal dan momentum musiman dinilai dapat menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, bahkan berpotensi melampaui target jika realisasi berjalan sesuai rencana.
Investasi Rp220 Triliun Perkuat Sisi Produksi dan Hilirisasi
Dari sisi penawaran dan investasi, pemerintah menyiapkan dorongan langsung sekitar Rp220 triliun. Salah satunya melalui pembangunan 30 ribu unit Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan nilai investasi Rp90 triliun.
Selain itu, pembangunan 190 ribu unit rumah komersial, rumah subsidi, dan bantuan renovasi rumah (BSPS) mencapai Rp20 triliun. Pemerintah juga melakukan groundbreaking proyek hilirisasi Danantara senilai 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp110 triliun.
Investasi tersebut tidak hanya membuka lapangan kerja dan menggerakkan sektor konstruksi serta industri bahan bangunan, tetapi juga memperkuat hilirisasi berbasis ekspor dan meningkatkan nilai tambah domestik.
“Jadi kita keluarkan semua belanjanya mungkin di triwulan pertama untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berkelanjutan,” tegas Purbaya.
Dirinya menambahkan, jika belanja Rp809 triliun pada kuartal I-2026 terserap optimal, injeksi langsung Rp136 triliun efektif mendorong konsumsi, dan investasi Rp220 triliun terealisasi tepat waktu, maka pertumbuhan ekonomi semester I-2026 berpotensi melampaui 5,5%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







