Akurat

Ekonomi Kreatif Dinilai Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ini Alasan dan Datanya

Naufal Lanten | 25 Desember 2025, 10:39 WIB
Ekonomi Kreatif Dinilai Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ini Alasan dan Datanya
 
AKURAT.CO Ekonomi kreatif kembali menjadi sorotan sebagai sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke level yang lebih tinggi. Di tengah target ambisius pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen, sektor ini dianggap memiliki modal unik yang tidak dimiliki banyak negara lain: kekayaan budaya, kreativitas lokal, dan talenta muda yang terus berkembang.

Penilaian tersebut disampaikan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) dalam forum Prasasti Insights yang digelar bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia pada 23 Desember 2025. Forum ini membahas peran ekonomi kreatif sebagai salah satu fondasi transformasi ekonomi nasional, terutama dengan pendekatan berbasis daerah.

Kenapa Ekonomi Kreatif Dianggap Strategis untuk Pertumbuhan Ekonomi?

Prasasti melihat ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pendukung, tetapi berpotensi menjadi “mesin baru” pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karakter ekonomi kreatif yang bertumpu pada ide, inovasi, dan identitas budaya membuat sektor ini relatif lebih tahan terhadap gejolak global.

Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah, menegaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan struktural yang sulit ditiru negara lain.

“Indonesia memiliki modal yang tidak mudah direplikasi, yakni kekayaan budaya yang orisinal serta kreativitas yang tumbuh dari keragaman. Di saat banyak negara bertumpu pada efisiensi skala dan teknologi semata, ekonomi kreatif Indonesia justru menawarkan diferensiasi nilai yang kuat, berbasis identitas, narasi, dan inovasi lokal. Potensi ini menjadikan sektor ekonomi kreatif relevan membuka peluang ekonomi nasional dalam mencapai target pertumbuhan,” ujarnya.

Keunggulan ini membuat ekonomi kreatif bukan hanya soal produksi barang dan jasa, tetapi juga tentang nilai tambah, cerita, dan pengalaman yang bisa bersaing di pasar global.

Data BPS: Kontribusi Ekonomi Kreatif Terus Menguat

Secara kinerja, ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan tren yang cukup solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif tumbuh sebesar 5,69 persen, angka yang berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Tak hanya itu, nilai ekspor ekonomi kreatif telah mencapai USD 12,89 miliar dan bahkan melampaui target tahun 2025. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini tercatat menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja hingga November 2025.

Capaian tersebut memperlihatkan dua hal sekaligus: daya tahan ekonomi kreatif di tengah tantangan global dan besarnya peluang sektor ini untuk terus dikembangkan sebagai tulang punggung ekonomi baru.

Peran Daerah Jadi Kunci Pengembangan Ekonomi Kreatif

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menekankan bahwa penguatan ekonomi kreatif harus dimulai dari daerah. Menurutnya, potensi terbesar ekonomi kreatif Indonesia justru tumbuh dari akar budaya lokal yang tersebar di seluruh wilayah, bukan hanya di kota-kota besar.

“Tambang baru di Indonesia itu ekonomi kreatif dari masing-masing daerah. Kementerian Ekraf senantiasa memetakan tiap potensi subsektor unggulan dari daerah dengan kekayaan budaya nusantara yang menjadi sumber identitas dan motivasi, populasi generasi muda yang mewakili digital native secara aktif, dan transformasi digital yang berkembang pesat. Inilah yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah,” ujar Teuku Riefky.

Pendekatan berbasis daerah ini dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi tidak timpang dan manfaat ekonomi kreatif bisa dirasakan lebih merata.

Asta Ekraf dan Strategi Penguatan Talenta Kreatif

Untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif menjalankan berbagai program yang terangkum dalam Asta Ekraf. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan talenta.

“Dalam Asta Ekraf, kami memiliki rumusan program Talenta Ekraf yang memberikan kegiatan pelatihan-pelatihan untuk semua subsektor sehingga para talenta bisa meningkatkan atau mengkombinasikan skill yang dipunya. Dari situ, kami juga melakukan scale up akses pasar dan akses pendanaan untuk pendampingan promosi serta jejaring sehingga mereka bisa naik ke level nasional hingga global,” jelas Teuku Riefky.

Strategi ini dirancang agar pelaku ekonomi kreatif tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu naik kelas dan berdaya saing di pasar internasional.

Pentingnya Ruang Dialog Kebijakan yang Inklusif

Executive Director Prasasti, Nila Marita, menilai bahwa penguatan ekonomi kreatif membutuhkan dialog kebijakan yang terbuka dan berorientasi solusi. Forum Prasasti Insights diposisikan sebagai langkah awal untuk merumuskan kebijakan yang lebih terarah dan kolaboratif.

Ia mengapresiasi konsistensi Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dari daerah.

“Kami menyampaikan apresiasi atas konsistensi dari Kementerian Ekonomi Kreatif dalam menegaskan bahwa ekonomi kreatif Indonesia harus terus tumbuh dan berkembang dari daerah. Pesan ini menjadi benang merah dalam berbagai kebijakan dan program sekaligus mencapai pemahaman bahwa kekuatan ekonomi kreatif nasional berakar pada keragaman lokal, talenta daerah, dan ekosistem kreatif dari berbagai wilayah di Indonesia,” kata Nila Marita.

Menurutnya, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci agar potensi ekonomi kreatif tidak berhenti pada wacana, tetapi benar-benar terwujud dalam kebijakan yang berdampak.

Subsector Unggulan dan Peluang Baru di Era Digital

Dari sisi struktur subsektor, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai ekonomi kreatif Indonesia berkembang seiring kemajuan teknologi dan perubahan demografi.

“Dengan pertumbuhan mencapai 5,69 persen, kinerja ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, kontribusi ekonomi kreatif didominasi subsektor kuliner, fesyen, dan kriya. Kondisi ini menjadi pijakan awal untuk mendorong pengembangan subsektor lain yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Nailul menyoroti subsektor film dan musik sebagai area dengan potensi besar, terutama karena didukung platform digital dan layanan over-the-top (OTT) yang mempermudah distribusi serta monetisasi karya.

“Penguatan subsektor ini menjadi penting agar struktur ekonomi kreatif semakin seimbang dan berdaya saing,” tambahnya.

Sinkronisasi Kebijakan untuk Perkuat Ekosistem

Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa pengembangan subsektor ekonomi kreatif tidak dilakukan secara parsial. Pemerintah melakukan sinkronisasi kebijakan dengan berbagai kementerian, mulai dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian UMKM, hingga Kementerian Pariwisata.

Pendekatan ini bertujuan agar ekonomi kreatif menjadi bagian utuh dari ekosistem ekonomi nasional, khususnya dalam mendorong pertumbuhan berbasis daerah dan menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

Ekonomi Kreatif, Lebih dari Sekadar Tren

Dengan pertumbuhan yang konsisten, kontribusi besar terhadap tenaga kerja, serta potensi ekspor yang terus meningkat, ekonomi kreatif semakin menunjukkan perannya sebagai sektor masa depan Indonesia. Dukungan kebijakan, penguatan talenta, dan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor kunci agar ekonomi kreatif benar-benar menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan ekonomi kreatif dan dampaknya bagi masa depan Indonesia, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Misbakhun: Pengawasan DPR Jadi Kunci Menjaga Stabilitas Ekonomi Selama Nataru

Baca Juga: Industri Olahraga Dinilai Berpotensi Jadi Penggerak Baru Ekonomi Nasional

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan ekonomi kreatif?

Ekonomi kreatif adalah sektor ekonomi yang mengandalkan ide, kreativitas, dan inovasi sebagai sumber utama nilai tambah. Sektor ini mencakup berbagai subsektor seperti kuliner, fesyen, kriya, film, musik, hingga ekonomi digital yang berbasis karya dan identitas budaya.

2. Mengapa ekonomi kreatif dinilai sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Ekonomi kreatif dinilai strategis karena memiliki keunggulan yang sulit ditiru negara lain, yakni kekayaan budaya, keragaman lokal, dan kreativitas masyarakat. Selain itu, sektor ini terbukti mampu tumbuh di atas rata-rata ekonomi nasional dan menyerap jutaan tenaga kerja.

3. Seberapa besar kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional?

Berdasarkan data BPS, ekonomi kreatif tumbuh 5,69 persen dengan nilai ekspor mencapai USD12,89 miliar. Hingga November 2025, sektor ini juga menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja, menunjukkan peran signifikan dalam struktur ekonomi nasional.

4. Subsector apa saja yang saat ini mendominasi ekonomi kreatif Indonesia?

Kontribusi ekonomi kreatif Indonesia saat ini masih didominasi oleh subsektor kuliner, fesyen, dan kriya. Ketiga subsektor tersebut menjadi tulang punggung awal sebelum pengembangan subsektor bernilai tambah tinggi lainnya.

5. Mengapa pengembangan ekonomi kreatif harus dimulai dari daerah?

Karena kekuatan utama ekonomi kreatif Indonesia berasal dari budaya dan potensi lokal yang tersebar di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki karakter, talenta, dan identitas unik yang bisa dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.

6. Apa peran Kementerian Ekonomi Kreatif dalam penguatan sektor ini?

Kementerian Ekonomi Kreatif berperan dalam pemetaan potensi subsektor daerah, pengembangan talenta melalui program pelatihan, serta memperluas akses pasar dan pendanaan agar pelaku ekonomi kreatif bisa naik ke level nasional hingga global.

7. Apa itu program Talenta Ekraf?

Talenta Ekraf adalah program pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan dan mengombinasikan keterampilan pelaku ekonomi kreatif di berbagai subsektor. Program ini juga terhubung dengan pendampingan akses pasar, promosi, dan jejaring bisnis.

8. Subsector ekonomi kreatif apa yang dinilai memiliki potensi besar ke depan?

Selain kuliner, fesyen, dan kriya, subsektor film dan musik dinilai memiliki potensi besar. Dukungan platform digital dan layanan OTT membuat distribusi dan monetisasi karya menjadi lebih luas dan efisien.

9. Bagaimana peran teknologi digital dalam perkembangan ekonomi kreatif?

Teknologi digital mempercepat distribusi karya, membuka akses pasar global, dan menciptakan model bisnis baru. Platform digital menjadi pendorong utama pertumbuhan subsektor film, musik, dan ekonomi kreatif berbasis konten.

10. Mengapa sinkronisasi kebijakan lintas kementerian penting bagi ekonomi kreatif?

Sinkronisasi kebijakan memastikan ekonomi kreatif tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi nasional. Kolaborasi lintas kementerian membantu memperkuat rantai nilai, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis daerah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.