Akurat

BI Komitmen Stabilkan Rupiah Pasca Pengenaan Tarif Impor AS

Demi Ermansyah | 6 April 2025, 11:45 WIB
BI Komitmen Stabilkan Rupiah Pasca Pengenaan Tarif Impor AS

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmennya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah meskipun ada pengumuman kebijakan tarif impor terbaru dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Kebijakan tersebut berpotensi memberi dampak pada nilai tukar rupiah dan pasar global.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya, menegaskan bahwa BI akan terus melakukan intervensi guna memastikan likuiditas valuta asing (valas) tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan perbankan dan dunia usaha.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 di Pasar NDF, Apa Artinya?

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan instrumen triple intervention, yang melibatkan intervensi pasar valas pada transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"BI tetap memantau perkembangan pasar global, termasuk dampak dari kebijakan tarif yang diumumkan oleh AS dan respon dari Tiongkok. Kami berkomitmen untuk menjaga agar kondisi pasar tetap stabil dan menjaga keyakinan pelaku pasar," ucapnya.

Pengenaan tarif impor oleh AS yang diumumkan pada 2 April 2025 ini, dengan besaran 10% untuk banyak negara, termasuk Indonesia, menjadi perhatian utama BI.

Dalam pengumuman tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak terbesar dengan kenaikan tarif sebesar 32%.

Langkah ini diambil AS sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan domestik dengan mengurangi defisit perdagangan.

Namun, dampak kebijakan tarif AS tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, tetapi juga negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja yang juga dikenai tarif tinggi.

Meskipun demikian, Ramdan optimis bahwa melalui langkah-langkah intervensi yang tepat, Bank Indonesia dapat menjaga nilai tukar rupiah dan meminimalkan dampak terhadap perekonomian domestik.

Baca Juga: Imbas Tarif Trump, IHSG dan Rupiah Bisa Anjlok 1,5 Persen Lebih

Meskipun ada dampak jangka pendek, BI tetap berfokus pada upaya pengelolaan nilai tukar yang sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. BI pun mengimbau agar pasar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh dinamika perdagangan internasional yang sedang terjadi.

"Saat ini, pasar saham global memang mengalami tekanan, dan yield US Treasury jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024. Namun, BI akan terus mengupayakan langkah-langkah stabilisasi, termasuk saat operasi moneter kami kembali normal pada 8 April mendatang," tambah Ramdan.

Dengan kebijakan triple intervention dan pemantauan ketat terhadap pasar, BI berharap dapat terus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia meskipun dihadapkan dengan ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan perdagangan AS yang baru.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.