Akurat

Kaleidoskop Makro 2025: Ekonomi Dunia Menahan Laju di Tengah Tarif dan Ketidakpastian

Andi Syafriadi | 23 Desember 2025, 07:50 WIB
Kaleidoskop Makro 2025: Ekonomi Dunia Menahan Laju di Tengah Tarif dan Ketidakpastian

AKURAT.CO Tahun 2025 tidak pernah menjanjikan perjalanan yang mulus bagi perekonomian global. Ia datang sebagai kelanjutan dari pemulihan yang rapuh, di tengah dunia yang masih bergulat dengan warisan inflasi tinggi, suku bunga mahal, dan ketegangan geopolitik yang belum mereda.

Harapan akan akselerasi pertumbuhan perlahan memudar, digantikan oleh satu kata yang berulang kali muncul dalam laporan lembaga internasional yakni ketidakpastian.

Sejatinya, ekonomi dunia memang tetap bertumbuh. Namun, pertumbuhan itu terasa berat, kehilangan momentum, dan semakin dipengaruhi oleh keputusan politik lintas negara.

Secara agregat, ekonomi global tidak jatuh ke dalam resesi pada 2025. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook menempatkan pertumbuhan ekonomi dunia pada kisaran sekitar 3%, sementara OECD memproyeksikan sedikit lebih rendah di sekitar 2,9%. Bank Dunia bahkan lebih konservatif, dengan estimasi pertumbuhan global sekitar 2,3%.

Baca Juga: RI Bidik Negosiasi Tarif Trump Rampung di Akhir 2025

Perbedaan proyeksi ini mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi global. Meski metodologi berbeda, ketiga lembaga sepakat bahwa laju pertumbuhan 2025 berada di bawah tren jangka panjang sebelum pandemi, yang kerap melampaui 3,5%. Dunia memang bertumbuh akan tetapi tidak dengan tenaga penuh.

Perdagangan internasional ikut melambat. Volume perdagangan global tumbuh lebih lambat dibandingkan output dunia, menandakan tekanan struktural yang semakin nyata.

Proteksionisme Trump: Penyakit Kronis yang Datang Kembali

Salah satu dinamika paling menonjol sepanjang 2025 datang dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kembali menjadikan tarif perdagangan sebagai instrumen utama kebijakan ekonominya. Sepanjang tahun, Washington memberlakukan tarif tambahan terhadap berbagai produk impor dari mitra dagang utama, termasuk China, Kanada hingga Meksiko.

Sejumlah laporan internasional, termasuk Reuters, mencatat bahwa kebijakan ini mendorong kenaikan tajam tingkat proteksi perdagangan AS, dengan tarif efektif impor melonjak ke level dua digit menurut berbagai estimasi lembaga riset perdagangan, mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Bagi dunia usaha global, tarif bukan sekadar kebijakan, melainkan sumber biaya dan ketidakpastian. Rantai pasok kembali terganggu, perencanaan investasi ditunda (Wait and See), dan strategi produksi global mau tidak mau harus disesuaikan.

IMF menilai eskalasi kebijakan perdagangan menjadi salah satu faktor utama melemahnya perdagangan dunia dan memangkas prospek pertumbuhan global, di samping faktor lain seperti dampak pengetatan moneter sebelumnya dan ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Negosiasi Tarif Trump Masuk Tahap Akhir, 5 Komoditas Unggulan RI Bakal Nol Persen

Lucunya, kebijakan proteksionis tersebut juga berdampak ke dalam negeri. Proyeksi IMF dan Bank Dunia menunjukkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada 2025 melambat ke kisaran di bawah 2%, dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga barang impor meningkat, biaya produksi naik, dan dunia usaha menghadapi ketidakpastian kebijakan yang berkepanjangan. Konsumen pun ikut merasakan tekanan melalui harga yang lebih tinggi.

Di tengah kondisi tersebut, Federal Reserve mengambil sikap berhati-hati. Inflasi memang telah turun dibandingkan puncaknya pada 2022 silam, tetapi belum sepenuhnya stabil. Sepanjang 2025, The Fed menegaskan pendekatan data dependent, menjaga fleksibilitas kebijakan dan membuka ruang pelonggaran terbatas tanpa komitmen agresif.

Sedangkan, di kawasan Eropa, pemulihan ekonomi berlangsung lambat. European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 2% sembari berusaha menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang rapuh.

Permintaan domestik masih lemah, sektor manufaktur tertekan, dan sentimen bisnis belum sepenuhnya pulih. Meskipun begitu, Eropa berhasil menghindari resesi namun juga belum menemukan sumber pertumbuhan baru yang kuat.

Beralih ke benua lain, Asia tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan relatif lebih baik dibandingkan Barat, meski tekanannya meningkat. China, sebagai mesin utama kawasan, masih bergulat dengan perlambatan sektor properti, tingginya utang pemerintah daerah, dan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih.

Sejumlah bank sentral Asia mulai menggeser fokus dari inflasi ke pertumbuhan. Sebut saja Bank of Thailand, bank sentral negara gajah putih tersebut memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada akhir 2025 untuk menopang aktivitas ekonomi. Langkah serupa juga diambil oleh beberapa negara lain di kawasan.

Indonesia: Menjaga Stabilitas di Tengah Tekanan Global

Di tengah gejolak global, Indonesia relatif mampu menjaga keseimbangan. IMF dalam World Economic Outlook April 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 4,7%, didukung konsumsi domestik dan belanja pemerintah.

Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi sekitar 2,9%  mengakui dampak kebijakan perdagangan dan fragmentasi global. Namun diversifikasi mitra dagang, penguatan kerja sama ASEAN, serta kebijakan hilirisasi membantu meredam tekanan eksternal.

Oleh karena itu. Sepanjang 2025, pasar keuangan global bergerak fluktuatif. Ketidakpastian tarif, arah suku bunga, dan ketegangan geopolitik membuat investor lebih selektif. Aset aman kembali diminati setiap kali tensi meningkat.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, kredibilitas kebijakan makroekonomi menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas arus modal.

Melihat berbagai ketidakpastian global selama tahun 2025 tersebut, secara tidak langsung memperlihatkan bahwa dunia tidaklah runtuh, namun juga belum pulih sepenuhnya. Pertumbuhan tetap ada, namun tertahan. Perdagangan berjalan, tetapi dengan sekat-sekat baru. Kebijakan ekonomi semakin sarat pertimbangan politik.

IMF memperkirakan pertumbuhan global 2026 berpotensi meningkat tipis ke kisaran sekitar 3%, namun risiko masih condong ke bawah. Arah kebijakan perdagangan, stabilitas geopolitik, dan koordinasi global akan menjadi penentu.

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, pelajaran 2025 jelas yakni dunia yang semakin tidak pasti, ketahanan dan kemampuan beradaptasi bukan lagi keunggulan melainkan sebuah prasyarat untuk tetap bertahan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.