AKURAT.CO Pada Jumat (4/4/2025) malam pukul 20.53 WIB, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) yang diperdagangkan di pasar luar negeri terjun 1,58% ke level Rp17.006 per dolar AS.
Menurut Pengamat Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan ini karena sejumlah data fundamental. Pertama, rilis data tenaga kerja AS yang lebih baik dari ekspektasi awal.
Kedua, testimoni The Fed pada Jumat lalu yang menyatakaan terlalu dini saat ini untuk menurunkan suku bunga. Untuk itu, penurunan suku bunga menunggu dampak dari perang dagang.
Baca Juga: Imbas Tarif Trump, IHSG dan Rupiah Bisa Anjlok 1,5 Persen Lebih
Penurunan yang semula direncanakan 3 kali atau 75 basis poin pada 2025, kemungkinan besar hanya tinggal mimpi. Indeks dolar AS atau DXY pun naik signifikan.
Lalu kondisi perang dagang saat ini, dimana hampir semua negara terkena bea impor, termasuk RI sebesar 32%.
Sayangnya tak seperti negara lain termasuk China, Kanada, Meksiko, hingga Uni Eropa yang melakukan perlawanan terhadap tarif Trump, Indonesia tidak.
Seharusnya Indonesia melakukan perlawanan terhadap bea impor yang diterapkan AS karena semua negara melakukan perlawanan.
"Seharusnya pemerintah Indonesia juga mengenakan balik bea 32 persen," ucap Ibrahim Sabtu (5/4/2025).
Terakhir, faktor geopolitik di Uni Eropa yang memanas, termasuk serangan Rusia. Ini membuat rupiah kian tertekan.
"Kemungkinan besar BI pada Senin akan melakukan triple intervension di pasar valas, obligasi dan DNDF. Tapi ini enggak akan terlalu berpengaruh karena saat pembukaan pasar Senin nanri, kemungkinan besar rupiah akan tembus Rp17.050," ujar Ibrahim lagi.
Pasar NDF sendiri, mengutip Investopedia, merupakan kontrak antara dua pihak untuk menukar selisih nilai tukar mata uang berdasarkan perbedaan antara kurs yang telah disepakati, dan kurs pasar spot saat jatuh tempo.
Berbeda dengan pasar spot yang terjadi pengiriman mata uang, di NDF hanya selisih nilai tukar yang dibayarkan. NDF juga lazim digunakan untuk hedging atau lindung nilai oleh perusahaan global dan bank investasi.
Kontrak NDF bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitas mata uang dengan mengambil posisi atas pergerakan yang diantisipasi dalam mata uang pasar negara berkembang atau bersifat spekulatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









