Donald Trump Sebar Dukungan Palsu dari Taylor Swift yang Dibuat dengan AI

AKURAT.CO Mantan Presiden Donald Trump baru-baru ini memposting serangkaian gambar yang tampaknya dihasilkan oleh AI untuk mendukung kampanye pencalonan dirinya.
Salah satu gambar tersebut menampilkan dukungan palsu dari bintang pop Taylor Swift. Postingan ini memicu perdebatan mengenai penggunaan teknologi AI dalam menyebarkan informasi yang menyesatkan, khususnya dalam konteks kampanye politik.
Dalam gambar-gambar tersebut, terdapat ilustrasi Taylor Swift yang berpakaian seperti Paman Sam dengan teks 'Taylor ingin Anda memilih Donald Trump'. Selain itu, ada juga gambar yang menampilkan sosok mirip Wakil Presiden Kamala Harris yang berbicara kepada kerumunan dengan latar belakang simbol komunis.
Meski salah satu gambar diberi label sebagai parodi, banyak yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap publik. Pakar hukum menyebutkan bahwa unggahan Trump ini mungkin tidak melanggar undang-undang terkait deepfake dalam pemilihan.
Baca Juga: Meta Hapus Pembatasan Ekstra pada Akun Facebook dan Instagram Trump
Meski sekitar 20 negara bagian di AS memiliki regulasi mengenai penggunaan gambar palsu dalam kampanye, aturan ini biasanya hanya melarang gambar yang sangat meyakinkan dan bisa menyesatkan publik.
Di sisi lain, tidak ada pembatasan federal yang mengatur penggunaan deepfake untuk kampanye, sehingga upaya untuk mengontrolnya masih terbatas.
Meskipun demikian, Taylor Swift mungkin memiliki hak hukum untuk menuntut Trump berdasarkan undang-undang Hak Publisitas California, yang melindungi penggunaan rupa seseorang tanpa izin.
Dikutip dari Theverge.com, Selasa (20/8/2024), hingga saat ini, baik Universal Music Group yang mewakili Swift, maupun tim kampanye Trump belum memberikan komentar terkait masalah ini.
Postingan Trump ini menyoroti tantangan yang dihadapi dalam mengatur disinformasi yang dihasilkan oleh AI.
Meskipun platform media sosial memiliki kebijakan untuk mengatasi konten yang menyesatkan, penerapannya sering kali tidak konsisten.
Hal ini diperparah oleh fakta bahwa pemilik platform seperti Elon Musk juga terlibat dalam penyebaran gambar deepfake tanpa memberi label yang jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









