Akurat

Memaknai Hadis Nabi Muhammad Bahwa Jika Yerusalem Merdeka Jadi Tanda Kiamat Sudah Dekat

Lufaefi | 16 Oktober 2025, 11:00 WIB
Memaknai Hadis Nabi Muhammad Bahwa Jika Yerusalem Merdeka Jadi Tanda Kiamat Sudah Dekat

AKURAT.CO Isu bahwa jika Yerusalem merdeka maka kiamat sudah dekat sering beredar di media sosial, terutama ketika konflik Palestina dan Israel kembali mencuat. Banyak yang mengutip potongan hadis Nabi Muhammad SAW yang dianggap menunjukkan hubungan antara kemerdekaan Baitul Maqdis dan datangnya hari kiamat.

Tapi benarkah hadis itu ada? Bagaimana pandangan para ulama? Dan apakah benar kemerdekaan Yerusalem adalah tanda akhir zaman?

Asal-usul narasi: dari hadis Hudzaifah bin al-Yaman

Riwayat yang sering dijadikan dasar klaim ini berasal dari hadis yang dinukil dari Hudzaifah bin al-Yaman RA. Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Perhatikanlah Baitul Maqdis. Jika ia sudah makmur dengan banyak bangunan, dan jika sudah banyak peperangan terjadi di sekitarnya, maka ketahuilah bahwa kiamat sudah sangat dekat.” (HR Abu Dawud, no. 2535, dengan beberapa versi sanad lainnya)

Namun para ulama berbeda pendapat soal keabsahan hadis ini. Sebagian menilai hadis tersebut mauquf, artinya hanya ucapan sahabat dan bukan sabda langsung dari Nabi.

Sebagian lagi menilainya hasan li ghairihi, yakni dapat diterima karena diperkuat riwayat lain, tapi belum sampai derajat sahih mutawatir seperti hadis tentang Dajjal atau turunnya Nabi Isa. Dengan demikian, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil pasti bahwa kemerdekaan Yerusalem adalah tanda kiamat.

Konteks hadis: peringatan moral, bukan ramalan politik

Rasulullah SAW memang pernah menyinggung wilayah Syam, yang meliputi Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon, sebagai negeri penuh keberkahan. Dalam hadis lain beliau bersabda, “Berbahagialah negeri Syam.” Para sahabat bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena malaikat-malaikat Allah membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.” (HR Tirmidzi, no. 3954)

Dari konteks ini, pembicaraan Nabi tentang Baitul Maqdis bukanlah prediksi politik atau geopolitik, tetapi peringatan spiritual bahwa wilayah itu akan menjadi pusat dinamika moral dan ujian besar umat manusia menjelang akhir zaman.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem dalam Al-Qur'an, Ini Hikmah di Dalamnya

Jadi bukan berarti kemerdekaan Yerusalem akan otomatis menandai datangnya kiamat, melainkan bahwa situasi di wilayah itu mencerminkan pergulatan besar antara keadilan dan kezaliman.

Antara kemerdekaan dan kiamat: dua level yang berbeda

Kesalahan umum dalam menafsirkan hadis akhir zaman adalah mencampuradukkan level duniawi dengan level eskatologis. Kemerdekaan Yerusalem adalah perjuangan manusia di ranah politik dan sosial; sedangkan kiamat adalah keputusan Ilahi yang tak bisa dihitung dengan kalender peristiwa dunia.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” (QS Luqman: 34)

Artinya, kalau suatu saat Palestina atau Yerusalem merdeka, itu adalah kemenangan kemanusiaan dan keadilan, bukan sinyal pasti bahwa dunia akan berakhir.

Tafsir simbolik: tanda kebangkitan moral umat

Sebagian mufasir modern memaknai hadis-hadis tentang Baitul Maqdis secara simbolik, bukan literal. Yerusalem adalah simbol pusat spiritual tiga agama besar, dan setiap kali terjadi pergeseran kekuasaan di sana, dunia menyaksikan perubahan besar dalam peradaban manusia.

Maka kemerdekaan Yerusalem bukan tanda kehancuran dunia, tetapi mungkin tanda bahwa kesadaran global tentang keadilan, hak asasi, dan kemanusiaan sedang bangkit.

Jika ada yang mengatakan bahwa kemerdekaan Yerusalem adalah tanda kiamat, mungkin yang dimaksud bukan kiamat kosmik—runtuhnya langit dan bumi—melainkan kiamat sosial: hancurnya sistem kezaliman, kolonialisme, dan penindasan terhadap manusia.

Kesimpulannya, hadis tentang Yerusalem memang memberi pesan tentang pentingnya wilayah itu dalam sejarah akhir zaman, tetapi tidak menegaskan secara eksplisit bahwa kemerdekaannya menjadi tanda kiamat.

Yang seharusnya kita maknai adalah pesan moral di baliknya: selama masih ada penjajahan dan kezaliman, umat manusia harus terus berjuang di jalan keadilan.

Dan siapa tahu, perjuangan membela Palestina justru menjadi bagian dari jihad spiritual yang mempersiapkan kita menghadapi kehidupan akhirat dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.