Akurat

Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Idul Adha dan Pendidikan Karakter

Fajar Rizky Ramadhan | 30 Mei 2025, 09:38 WIB
Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Idul Adha dan Pendidikan Karakter

AKURAT.CO Berikut naskah khutbah Jumat dengan judul Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Idul Adha dan Pendidikan Karakter.

Khutbah Pertama

الحمد لله الذي جعل الأعياد مواسم للعبادة والتقوى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلوات ربي وسلامه عليه، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهديه إلى يوم الدين.

أما بعد، فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي المقصرة بتقوى الله، فإنها زاد المؤمنين، وسلاح المتقين، قال الله تعالى:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
(آل عمران: 102)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari-hari mulia bulan Dzulhijjah kembali hadir. Di dalamnya terdapat satu momentum besar yang bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarat nilai pendidikan: Idul Adha.

Idul Adha tidak sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, tapi merupakan puncak dari narasi pendidikan karakter yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Mari kita renungkan sejenak. Apa yang diajarkan oleh peristiwa penyembelihan Ismail?

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk mengorbankan putranya, Ismail. Sebuah ujian yang tak masuk akal secara logika dunia, namun dijalani dengan ketaatan tanpa syarat. Sementara Ismail, sosok remaja, menunjukkan keteladanan luar biasa dalam ketaatan, keberanian, dan keikhlasan.

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
(الصافات: 102)

Artinya: "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. As-Saffat: 102)

Ma’asyiral muslimin,

Peristiwa ini bukan hanya sejarah. Ia adalah madrasah karakter.

Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Pelajaran Penting dari Perjuangan Nabi Ibrahim AS

Dari Ibrahim, kita belajar arti ketaatan dan kepemimpinan spiritual. Dari Ismail, kita belajar ketaatan anak kepada orang tua, keberanian menghadapi ujian, dan keikhlasan menerima takdir.

Dari Siti Hajar, kita belajar kesabaran, perjuangan, dan keyakinan yang kuat kepada Allah, sebagaimana yang tampak dari pencarian air di antara bukit Shafa dan Marwah.

Idul Adha mengajarkan kita bahwa karakter utama manusia beriman adalah tunduk kepada Allah, meskipun kadang harus berseberangan dengan rasa nyaman, logika materi, atau kehendak pribadi.

Di tengah krisis karakter yang kita hadapi saat ini — mulai dari korupsi, ketidakjujuran, sikap egois, rendahnya kepedulian — maka kembali kepada nilai-nilai Idul Adha adalah urgensi. Sebab kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri: kesombongan, kikir, ego, dan cinta dunia yang berlebihan.

Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari ibadah kurban ini, dan menjadikannya sebagai batu loncatan untuk memperbaiki diri, membentuk generasi berkarakter kuat dan bertauhid kokoh.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

الحمد لله على تمام النعمة، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وسلم، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Idul Adha adalah momentum tahunan untuk meneguhkan kembali misi pendidikan dalam keluarga dan masyarakat. Bagaimana kita sebagai orang tua mendidik anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang sabar, taat, dan tidak lemah dalam menghadapi ujian hidup.

Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Memaknai Kurban di Era Modern

Jangan kita jadikan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail sekadar dongeng atau bacaan manis semata, tapi mari kita hidupkan nilai-nilainya: keberanian untuk menegakkan kebenaran, pengorbanan demi ketaatan, dan keteguhan memegang prinsip iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

(HR. Ahmad)
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Jika kita ingin membentuk masyarakat yang baik, mulailah dari pendidikan karakter. Dan karakter terbaik adalah karakter yang tumbuh dari keimanan dan pengorbanan.

Mari kita perbanyak doa di hari-hari mulia ini, perbanyak amal, perbanyak sedekah, dan jangan sia-siakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikan Idul Adha ini sebagai momentum revolusi moral dan spiritual dalam kehidupan kita.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَجَمِّلْ أَخْلَاقَنَا بِأَخْلَاقِ الإِسْلَامِ، وَارْزُقْنَا قُدْرَةَ التَّضْحِيَةِ فِي سَبِيلِكَ، كَمَا فَعَلَ خَلِيلُكَ وَذُرِّيَّتُهُ الطَّاهِرَةُ.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.