Harga Emas Antam Logam Mulia Naik dan Turun, Ini Teladan yang Dilakukan Sahabat Nabi dalam Hal Investasi

AKURAT.CO Naik-turunnya harga emas Antam logam mulia kerap menghiasi pemberitaan ekonomi, dan pada hari-hari tertentu bahkan memicu kepanikan kecil di kalangan investor.
Tak dapat disangkal, emas memang sejak lama menjadi salah satu instrumen lindung nilai paling tua dalam sejarah umat manusia.
Namun, bagi seorang Muslim, fluktuasi harga ini semestinya tidak sekadar menjadi ajang spekulasi atau mengejar profit sesaat. Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk dikembangkan, tetapi juga dipertanggungjawabkan.
Maka muncul pertanyaan menarik: bagaimana teladan para sahabat Nabi Muhammad saw. dalam menyikapi investasi dan pengelolaan kekayaan, termasuk emas?
Para sahabat bukan hanya pewaris ilmu dan akhlak Rasulullah, tetapi juga pelaku ekonomi sejati yang mengelola harta dengan prinsip yang visioner dan bertanggung jawab.
Mereka bukan investor yang sekadar mencari untung, tapi juga penyeimbang antara dunia dan akhirat.
Bahkan dalam konteks pasar dan perdagangan, para sahabat adalah pionir dalam menerjemahkan nilai-nilai tauhid ke dalam praktik ekonomi yang adil dan produktif.
Ambil contoh sosok Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat terkaya dalam sejarah Islam. Ketika berhijrah ke Madinah dan tidak membawa apa-apa dari hartanya di Makkah, ia tidak mengeluh atau bergantung pada belas kasih orang lain.
Sebaliknya, ia berkata: “Tunjukkan padaku di mana pasar.” Dalam waktu singkat, Abdurrahman berhasil membangun kembali kekayaannya lewat perdagangan yang jujur dan tidak zalim. Ia tidak pernah menimbun, tidak memainkan harga, dan tidak menipu timbangan. Hartanya berkembang bukan karena spekulasi, tetapi karena kejujuran dan kerja keras.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 17 Mei 2025: Antam, UBS, dan Galeri24 Naik Tipis-tipis
Dalam hal kepemilikan emas dan perak, para sahabat juga sangat berhati-hati. Bagi mereka, kekayaan adalah sarana, bukan tujuan. Umar bin Khattab pernah berkata bahwa dirinya khawatir jika umat Islam menjadi terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat.
Maka meskipun para sahabat memiliki harta, mereka tidak menjadikannya sebagai pusat hidup. Mereka menabung, mereka berinvestasi, tapi dengan niat untuk mendukung dakwah, menolong fakir miskin, dan memperluas maslahat umat.
Ada juga kisah menarik dari Utsman bin Affan yang membeli sumur Raumah dan mewakafkannya untuk masyarakat Madinah. Padahal saat itu, sumur adalah infrastruktur vital. Dalam logika bisnis modern, itu adalah “aset produktif.”
Tapi Utsman justru mengubah aset itu menjadi sedekah jariyah. Ia tidak hanya melihat nilai duniawinya, tapi juga nilai pahalanya yang kekal. Ini bentuk investasi spiritual yang luar biasa: memberikan dunia untuk mendapat akhirat.
Lalu bagaimana dengan kita hari ini yang menyaksikan harga emas naik dan turun nyaris setiap pekan? Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Pertama, jadikan emas sebagai alat, bukan tujuan.
Tidak masalah berinvestasi emas, tapi jangan sampai hati kita tertambat padanya. Kedua, jangan tergoda untuk mengambil keuntungan secara zalim, seperti menimbun saat harga turun lalu menjual saat orang terdesak. Rasulullah saw. bersabda:
مَنِ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ
Artinya: Barang siapa menimbun (barang kebutuhan), maka ia berdosa. (HR. Muslim)
Ketiga, gunakan hasil investasi untuk hal-hal yang maslahat. Bila emas yang kita miliki naik nilainya, maka sisihkan sebagian untuk zakat, infak, dan wakaf. Itulah bentuk investasi yang bukan hanya menguntungkan di dunia, tapi juga di akhirat.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Terbaru 13 Mei 2025: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Turun
Fluktuasi harga emas adalah fenomena alamiah dalam sistem ekonomi. Tapi respons kita terhadapnya harus dibentuk oleh nilai-nilai Islam.
Para sahabat Nabi mengajarkan bahwa kekayaan adalah amanah dan ujian. Mereka bukan hanya pintar berdagang, tetapi juga bijak dalam menyikapi ketidakpastian ekonomi.
Keteladanan mereka menunjukkan bahwa dalam Islam, investasi sejati bukan hanya tentang cuan, tapi tentang keberkahan dan tanggung jawab sosial.
Maka saat kita melihat grafik harga emas hari ini yang naik atau turun, mari bertanya dalam hati: bukan “berapa untung yang bisa saya ambil?”, tapi “apa yang bisa saya kontribusikan dari apa yang saya miliki?” Itulah mentalitas sahabat Nabi. Dan itulah standar keemasan investasi dalam Islam. Wallahu a‘lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









