Akurat

Sejumlah Tradisi dalam Menyambut Bulan Puasa Ramadhan, Banyak Orang Islam Belum Tahu!

Lufaefi | 27 Januari 2024, 13:11 WIB
Sejumlah Tradisi dalam Menyambut Bulan Puasa Ramadhan, Banyak Orang Islam Belum Tahu!

AKURAT.CO Ramadhan 2024 tidak lama lagi akan datang, Indonesia sebagai salah satu penduduk dengan pemeluk agama Islam terbanyak menyambut dengan meriah bulan suci ini. Bahkan beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut Ramadhan.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh umat Islam, karena bulan Ramadhan memiliki banyak makna penting dalam ajaran Islam. Salah satu contoh yaitu diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Selain itu, bulan Ramadhan merupakan bulan yang mulia dan penuh berkah.

Dikutip dari buku berjudul Ramadhan Pembangkit Esensi Insan (2014: 8-9), Shabri Shaleh Anwar berikut ini beberapa tradisi daerah di Indonesia dalam menyambut bulan Ramadhan:

Baca Juga: Jadi Trend di Kalangan Wanita, Begini Hukum Perempuan Muslimah Menggunakan Eyelash Extension

1. tradisi “Dugderan” – Jawa Tengah

Kata “Dug” diambil dari suara bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan.

Sedangkan “Der” berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahun. Biasanya digelar 1-2 minggu sebelum puasa.

2. Tradisi di daerah Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta

Tradisi ini melakukan upacara berendam atau mandi di sumur atau sumber mata air di tempat keramat yang disebut “Padusa”. Maknanya, supaya jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan puasa bersih secara lahir batin.

3. Pacu Jalur – Riau

Pacu jalur merupakan acara lomba dayung, acara ini digelar sebelum Ramadhan dan ditutup dengan Balimau Kasai (bersuci). Tradisi ini dilakukan dalam bentuk perlombaan mendayung menggunakan perahu yang terbuat dari kayu pohon.

4. Meugang – Aceh

Dalam tradisi ini mereka akan menyembelih kerbau dan dagingnya dimakan saat menjelang puasa. Kerbau dibeli secara patungan. Biasanya orang yang lebih mampu turut memberi sumbangan agar fakir miskin pun bisa menikmati kebersamaan ini.

Baca Juga: Anies Baswedan Disebut Mirip Imam Mahdi, Ketahui Profil Juru Selamat yang Beda Jauh dengan Pribadi Capres Nomor Urut 1 Itu

5. Megengan – Surabaya

Kegiatan yang diadakan dalam tradisi ini yaitu tahlilan dan makan kue apem bersama. Nama “apem” dipercaya berasal dari kata “afwan” dalam bahasa Arab yang artinya maaf.

Secara simbolis makan kue ini bisa diartikan mohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, tetangga, kerabat dan teman. Setelah makan apem, biasanya bersalam-salaman saling minta maaf dan melanjutkan acara tahlilan.

6. Perlon Unggahan – Banyumas

Pada acara ini terdapat berbagai makanan seperti nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan laki-laki dan jumlah mereka harus 12 orang, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

7. Nyardan – Solo

Menurut Bakdi Soemanto dalam buku Belajar Bela Rasa (2011: 163). Makna nyadran adalah keluarga besar yang mengunjungi makam-makam tempat para leluhur dikebumikan.

Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Sang Maha Pencipta.

8. Pisowanan – Banyumas

Tradisi ini diartikan dengan ungkapan menghadap sesepuh. Ritual dari tradisi Pisowanan adalah berziarah ke makam tokoh besar/agama di Banyumas.

Selain itu, sejumlah makanan juga disediakan yang kemudian dibagi-bagikan kepada peserta ziarah. Tujuan dilakukannya tradisi ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi warga Banyumas di saat menjelang Ramadhan.

Itulah tradisi menyambut bulan Ramadhan yang ada dibeberapa daerah di Indonesia. Acara yang rutin dilaksanakan ini tidak wajib untuk diikuti oleh semua orang karena hanya sebagai kemeriahan dalam menyambut bulan suci.

Meski begitu dengan mengikuti tradisi tersebut kita bisa menjalin silaturahmi dengan orang lain, berbagi rezeki, serta saling bermaafan sebagai upaya mensucikan jiwa dan raga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Azis Muslim
Lufaefi
Editor
Lufaefi