Akurat

Ternyata Ramadan Bergerak Maju 10-12 Hari Setiap Tahun, Ini Dampaknya Bagi Kita

Fajar Rizky Ramadhan | 30 November 2025, 09:55 WIB
Ternyata Ramadan Bergerak Maju 10-12 Hari Setiap Tahun, Ini Dampaknya Bagi Kita

AKURAT.CO Bulan Ramadan menjadi bulan yang selalu ditunggu umat muslim di dunia. Sebab, ada banyak keistimewaan di dalam bulan mulia itu yang tak semua bulan memilikinya. Tapi, tahukah Anda bahwa ternyata Ramadan selalu datang lebih maju 10-12 haji dalam setiap tahunnya?

Dikutip dari informasi Masjid Salman ITB, Minggu (30/11/2025), Ramadan selalu datang dengan ritme yang sama, tetapi kalender yang mengiringinya ternyata tidak berjalan seiring dengan kalender Masehi.

Banyak orang merasakan bahwa bulan suci ini kadang muncul saat udara dingin, lalu beberapa tahun kemudian tiba-tiba jatuh di tengah panas terik. Fenomena ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari pergeseran alami sistem penanggalan Hijriah.

Penanggalan Hijriah menggunakan peredaran bulan yang menetapkan jumlah hari setiap bulan menjadi 29 atau 30 hari. Hal ini membuat satu tahun Hijriah lebih pendek dibanding tahun Masehi, selisihnya sekitar sepuluh hingga dua belas hari.

Akibatnya, Ramadan setiap tahun bergerak lebih awal dibanding kalender syamsiyah yang dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadan 2026? Ini Tanggal dan Hitung Mundurnya Berdasarkan Kalender Hijriah

Dalam periode tiga puluh tiga tahun, Ramadan akan berputar dan melewati seluruh musim. Inilah sebabnya puasa bisa terasa jauh berbeda dari tahun ke tahun.

Pernah suatu masa Ramadan berada di tengah puncak musim dingin, namun beberapa tahun setelahnya jatuh ketika matahari sedang kuat-kuatnya.

Bagi sebagian wilayah di bumi bagian utara, Ramadan yang jatuh pada puncak musim panas dapat menjadi periode dengan durasi puasa paling panjang.

Data visual tentang siklus Ramadan menunjukkan bahwa dari tahun 2025 hingga 2056, tanggal dimulainya Ramadan akan terus bergerak hingga kembali ke posisi semula.

Periode ini menjadi gambaran konkret bagaimana Ramadan berputar dalam lingkaran yang konsisten setiap tiga puluh tiga tahun.

Beberapa momen menarik bahkan tampak pada rentang tersebut, misalnya prediksi bahwa sekitar tahun 2030 Ramadan mungkin terjadi dua kali dalam satu tahun Masehi.

Selain itu, pada 2047 Ramadan akan jatuh bertepatan dengan puncak musim panas di belahan bumi utara, yang diperkirakan akan menjadi masa puasa dengan durasi terpanjang bagi wilayah tersebut.

Perubahan ini menunjukkan dinamika waktu yang terus berjalan. Bumi berputar, musim bergeser, dan Ramadan datang serta pergi mengikuti hukum yang telah ditetapkan. Yang paling penting bukanlah kapan bulan suci itu tiba, tetapi bagaimana hati disiapkan untuk menyambutnya.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 2026 dan Idulfitri 1447 Hijriah

Ramadan selalu membawa pesan kesadaran, pengendalian diri, dan kedamaian yang harus dijaga di setiap musim dan setiap generasi.

Dengan memahami siklus Ramadan ini, kita diajak untuk melihat waktu dengan perspektif yang lebih luas.

Setiap pergeseran membawa kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan menata niat agar Ramadan berikutnya dapat dijalani dengan kesiapan yang lebih matang.

Semoga setiap kita dapat bertemu kembali dengan Ramadan yang akan datang, apa pun musim yang mengiringinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.