Akurat

Kenali Penyebab Nyeri Punggung Bawah Saat Hamil, PAFI Beri Solusi Pengobatan

Annisa Fadhilah | 25 April 2025, 15:47 WIB
Kenali Penyebab Nyeri Punggung Bawah Saat Hamil, PAFI Beri Solusi Pengobatan

AKURAT.CO Berbicara tentang gangguan kesehatan pada ibu hamil, salah satunya yang sering dialami adalah nyeri punggung pada bagian bawah.

Nyeri punggung di bagian bawah selama kehamilan sering terjadi, penyebabnya adalah perubahan berat badan, perubahan hormon dan stres. Sebagian besar wanita hamil di Indonesia mengalami nyeri punggung bawah, dengan angka prevalensi sekitar 68% untuk nyeri sedang dan 32% untuk nyeri ringan.

PAFI dengan alamat website pafikotaselatan.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat.

Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan farmasi, menjaga etika, standar praktik kefarmasian, mengembangkan profesionalisme dan riset di bidang farmasi.

Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab nyeri punggung bawah saat hamil, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.

Baca Juga: Hati-hati, 6 Kebiasaan Ini Bisa Sebabkan Nyeri Punggung

Apa saja faktor penyebab terjadinya nyeri punggung bawah saat hamil?

Secara umum, nyeri punggung bawah adalah keluhan yang sangat umum dialami oleh ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Kondisi ini bisa ringan hingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab nyeri punggung bawah pada ibu hamil bersifat multifaktorial, artinya ada banyak faktor yang berkontribusi secara bersamaan.

Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya nyeri punggung bawah saat kehamilan yang perlu diperhatikan meliputi:

1. Perubahan hormon selama kehamilan

Selama kehamilan, tubuh memproduksi hormon-hormon tertentu seperti relaksin dan progesteron. Hormon relaksin berfungsi untuk melunakkan dan meregangkan ligamen-ligamen di area panggul dan tulang belakang agar persalinan dapat berlangsung lancar. Namun, efek samping dari pelonggaran ligamen ini adalah berkurangnya stabilitas sendi, terutama sendi sacroiliac (sendi antara tulang panggul dan tulang belakang) dan sendi lumbar. Akibatnya, tulang belakang menjadi kurang stabil dan rentan mengalami ketegangan serta nyeri.

2. Pertambahan berat badan

Pertambahan berat badan yang signifikan selama kehamilan (rata-rata 10–15 kg) memberikan beban ekstra pada tulang belakang dan otot punggung bawah. Beban ini menyebabkan tekanan berlebih pada struktur tulang belakang, termasuk cakram intervertebralis dan sendi facet, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan.

3. Perubahan postur tubuh dan perubahan pusat gravitasi

Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim membesar dan mendorong pusat gravitasi tubuh ke depan.

Untuk menjaga keseimbangan, ibu hamil sering kali mengubah postur tubuh dengan cara melengkungkan punggung bawah (lordosis) secara berlebihan.

Postur ini menyebabkan ketegangan otot-otot punggung bawah dan peregangan ligamen, yang berkontribusi pada nyeri punggung.

4. Pertumbuhan dan tekanan janin

Janin yang terus tumbuh di dalam rahim menimbulkan tekanan pada pembuluh darah, saraf, dan jaringan lunak di daerah panggul dan punggung bawah. Tekanan ini dapat menyebabkan iritasi saraf dan nyeri yang menjalar ke punggung bawah, pinggul, bahkan ke kaki (seperti pada kasus sciatica).

5. Pemisahan otot perut atau diastasis recti

Rahim yang membesar dapat menyebabkan otot perut bagian depan (rectus abdominis) meregang dan terkadang terpisah di sepanjang garis tengah (diastasis recti). Otot perut yang melemah ini mengurangi dukungan terhadap tulang belakang, sehingga punggung bawah harus bekerja lebih keras untuk menjaga postur tubuh, yang akhirnya menimbulkan nyeri.

6. Stres dan ketegangan emosional

Kehamilan seringkali disertai dengan perubahan emosional dan stres.

Stres dapat menyebabkan ketegangan otot, terutama di area punggung dan bahu. Ketegangan otot yang terus-menerus ini memperburuk nyeri punggung bawah. Selain itu, rasa cemas dan takut terhadap proses persalinan juga dapat memperkuat persepsi nyeri.

Baca Juga: Kenali Penyebab Keputihan Abnormal pada Wanita, PAFI Berikan Solusi

Apa saja obat yang tepat untuk mengobati nyeri punggung bawah saat hamil?

PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama nyeri punggung bawah pada ibu hamil.

Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala nyeri punggung bawah selama kehamilan serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:

1. Parasetamol

Parasetamol merupakan obat pereda nyeri yang paling umum direkomendasikan untuk ibu hamil karena dianggap aman jika digunakan sesuai dosis dari apoteker. Obat ini efektif untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, termasuk nyeri punggung bawah.

Dosis maksimal yang dianjurkan adalah 4.000 mg per hari, dan penggunaannya sebaiknya tidak dalam jangka panjang.

2. Aspirin dan NSAID

Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin umumnya tidak dianjurkan selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga, karena dapat menimbulkan risiko komplikasi pada janin dan persalinan.

Aspirin dosis rendah (60–100 mg) terkadang digunakan untuk indikasi medis tertentu, tetapi tidak untuk nyeri punggung biasa.

Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi nyeri punggung bawah saat hamil adalah menggunakan kompres dingin dan hangat.

Kompres dingin digunakan selama 15–20 menit beberapa kali sehari pada awal nyeri, kemudian dilanjutkan dengan kompres hangat setelah 2–3 hari untuk meredakan nyeri dan relaksasi otot.

Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.