Judi Online Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Ini Penjelasan Psikiater

AKURAT.CO Judi online atau juga disebut pathological gambling merupakan fenomena yang semakin meresahkan dan terus menjamur di Indonesia.
Bukan hanya dampak ekonomi yang ditimbulkan, tetapi juga efek buruknya terhadap kesehatan mental pecandunya.
Menurut psikiater, Lahargo Kembaren, judi online termasuk kedalam kategori behavioral addiction atau adiksi perilaku.
Adiksi ini serupa dengan adiksi terhadap media sosial, game online atau bahkan belanja online.
Lahargo sendiri menjelaskan bahwa adiksi judi online terjadi karena adanya gangguan pada keseimbangan sistem saraf otak yang mengganggu pengendalian diri.
Penyebab utama yang membuat individu terjerat dalam judi online adalah gangguan keseimbangan neurokimiawi yang terjadi pada otak.
Dalam pemaparan Lahargo, ada gangguan pada neurotrasmitter di otak yang mengatur pengendalian diri yang akhirnya membuat seseorang itu terus melakukan aktivitas judi kendati sadar akan resiko yang ditimbulkan.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Tol Cipularang, Ini Doa untuk Para Korban
"Mereka yang terjerat judi online akan kesulitan membedakan antara menang dan kalah atau hampir menang dan itu membuat mereka terus ingin bermain judi. Ini menggangu kemapuan mereka untuk berpikir rasional," kata Lahargo, dikutip Selasa (12/11/2024).
"Judi online tidak hanya merusak keadaan finansial tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan mental. Seseorang yang sudah terjebak akan terus bermain meskipun mengalami kerugian besar," tambahnya menjelaskan.
Sebagai upaya untuk mengatasi adiksi terhadap judi online ini diperlukan penanganan yang tepat.
Lahargo menjelaskan bahwasannya pencegahan merupakan langkah pertama yang harus dilakukan.
"Pencegahan adalah langkah pertama yang sangat penting. Ini bisa dimulai dari mengatur gaya hidup sehat dan komunikasi yang terbuka dengan orang terdekat," katanya.
Namun apabila seseorang sudah terlanjur terjebak dalam perangkap judi online, intervensi medis dan psikologis menjadi sangat penting.
Pengobatan medis untuk adiksi judi online harus dilakukan dengan serius.
"Pengobatan dengan obat-obatan seperti antidepresan atau mood stabilizer dapat membantu memperbaiki keseimbangan kimiawi otak. Selain itu terapi menggunakan alat seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) juga sangat berguna untuk merangsang otak dan memperbaiki fungsi saraf yang terganggu," jelas Lahargo.
Selain itu, ada juga terapi motivational interviewing yang berguna untuk meningkatkan motivasi seseorang agar mereka siap memulai fase pemulihan dan bisa menjalani kehidupan lebih baik.
Menurut Lahargo, terapi ini juga penting untuk memotivasi individu agar optimis dalam proses pemulihan mereka.
Akan tetapi terapi medis dan bantuan psikologis saja tidaklah cukup.
Penanganan adiksi judi online ini juga diperlukan peranan keluarga di mana dukungan mereka dapat berkontribusi besar.
Baca Juga: Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Terus Dievakuasi
"Dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan. Jangan menghakimi atau memberi label negatif, karena itu bisa memperburuk keadaan. Orang yang terjebak pada judi online biasanya memiliki masalah terhadap psikologisnya atau semacam trauma, dan judi akhirnya menjadi pelarian," terang Lahargo.
Di sisi lain, ia juga menekankan bagaimana peran pemerintah dalam mengatasi masalah judi.
Pemerintah harus bertindak tegas untuk menghapus platform judi online dan memberikan sanksi kepada pihak penyelenggara.
Regulasi yang tegas bisa membantu mengurangi peredaran judi online yang semakin marak.
Edukasi masyarakat mengenai bahaya yang timbul dari judi online juga harus diperkuat.
Agar orang lebih sadar akan dampaknya terhadap kesehatan mental dan juga kehidupan mereka. (Wandha Chintya Nurulita)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









