Akurat

AS–Bangladesh Deal Dagang Baru, Produk Tekstil India Terancam Kalah Saing di Pasar Amerika

Fitra Iskandar | 11 Februari 2026, 17:10 WIB
AS–Bangladesh Deal Dagang Baru, Produk Tekstil India Terancam Kalah Saing di Pasar Amerika

AKURAT.CO Kesepakatan dagang terbaru antara Amerika Serikat dan Bangladesh yang diteken hanya beberapa hari setelah perjanjian serupa dengan India memicu reaksi di kalangan politik New Delhi. Sejumlah partai oposisi menyebut perjanjian itu sebagai pukulan bagi posisi perdagangan India di pasar AS.

Namun, sejumlah pakar menilai India tidak perlu terlalu khawatir terhadap dampak perjanjian dagang timbal balik antara Washington dan Dhaka tersebut.

Mantan Komisaris Tinggi India untuk Bangladesh, Veena Sikri, menyebut ada dua alasan utama mengapa kesepakatan itu diperkirakan tidak akan menggerus daya saing India secara signifikan.

Pertama, sektor yang berpotensi mendapat fasilitas tarif nol persen untuk masuk ke pasar AS berkaitan dengan pembelian bahan baku Bangladesh seperti benang sintetis, benang kapas, dan kapas dari Amerika Serikat.

“Kedua, produk-produk itu saat ini sudah dipasok India dengan harga sangat kompetitif dan waktu pengiriman cepat. Eksportir Bangladesh bahkan bisa mendapatkan pasokan dari India dalam waktu sekitar satu minggu,” kata Sikri kepada ANI.

Rencana Pembelian Boeing Dinilai Beratkan Ekonomi Bangladesh

Dalam perjanjian setebal 32 halaman yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS, maskapai Biman Bangladesh Airlines berencana membeli 14 pesawat Boeing, dengan opsi penambahan unit di masa depan.

Sikri meragukan kemampuan Bangladesh untuk merealisasikan pembelian tersebut di tengah tekanan ekonomi domestik.

“Mereka membeli banyak pesawat Boeing, tapi siapa yang akan membayar? Kemungkinan perlu pinjaman IMF atau skema pembiayaan lain. Jika utang bertambah, ekonomi mereka bisa makin melemah,” ujarnya.

Tarif AS Turun, Tekstil Bangladesh Berbahan AS Bisa Bebas Bea

Dalam kesepakatan yang ditandatangani Senin, Bangladesh memperoleh penurunan tarif AS menjadi 19 persen untuk sejumlah produk. Ada pengecualian khusus untuk tekstil dan garmen yang menggunakan bahan baku dari Amerika.

Penasihat utama pemerintah sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, mengatakan Washington berkomitmen membentuk mekanisme agar produk tekstil dan pakaian Bangladesh berbahan kapas dan serat sintetis asal AS mendapat tarif timbal balik nol persen di pasar Amerika.

Kondisi ini membuat garmen Bangladesh berbahan kapas AS bisa masuk tanpa tarif, sementara produk tekstil India masih dikenai tarif sekitar 18 persen. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa produk pakaian Bangladesh akan lebih kompetitif dibanding ekspor India di pasar AS.

Meski demikian, analis menilai keunggulan India dalam rantai pasok dan kecepatan distribusi masih menjadi faktor penyeimbang dalam persaingan regional. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.