Akurat

Film TIMUR Angkat Operasi Mapenduma, Iko Uwais Sajikan Kemanusiaan di Balik Aksi Militer

Ratu Tiara | 18 Desember 2025, 15:45 WIB
Film TIMUR Angkat Operasi Mapenduma, Iko Uwais Sajikan Kemanusiaan di Balik Aksi Militer

AKURAT.CO Industri film Indonesia kembali menghadirkan karya bertema sejarah melalui Film TIMUR, sebuah film aksi-drama yang terinspirasi dari kisah nyata Operasi Mapenduma.

Film ini tidak hanya menyoroti ketegangan misi militer, tetapi juga mengangkat nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan pengorbanan di balik operasi berisiko tinggi.

Iko Uwais yang didapuk sebagai pemeran utama sekaligus sutradara menegaskan bahwa TIMUR dirancang untuk melampaui sekadar tontonan aksi.

Film ini menggambarkan perjuangan pasukan khusus dalam misi pembebasan sandera di pedalaman Papua, dengan tantangan alam ekstrem, keterbatasan logistik, serta tekanan psikologis yang intens.

Baca Juga: Sinopsis Film Triple Threat di Bioskop Trans TV, Kisah Aksi Balas Dendam Diperankan Iko Uwais!

Menurut Iko, pendekatan realistis dan kejujuran cerita menjadi fondasi utama dalam membangun pengalaman sinematik yang berjiwa.

“Berbeda dengan film aksi fiksi pada umumnya, TIMUR berdiri di atas fondasi sejarah. Film ini menyoroti sisi kemanusiaan dalam operasi militer, di mana keberanian tidak semata diukur dari kekuatan senjata, melainkan dari loyalitas antar prajurit dan kesediaan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan sesama,” kata Iko saat dihubungi awak media, Kamis, (18/12/2025).

Dia menambahkan, tema persaudaraan, pengorbanan, dan harga sebuah misi menjadi napas utama film ini, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa nyata yang melatarbelakanginya.

Film TIMUR juga menjadi tonggak baru dalam perjalanan karier Iko Uwais.

Aktor yang dikenal lewat film internasional seperti The Raid, Mile 22, hingga serial Wu Assassins ini untuk pertama kalinya menjalani debut sebagai sutradara film aksi panjang.

Sejalan dengan visi tersebut, Executive Producer TIMUR, Yentonius Jerriel Ho, menekankan bahwa film ini tidak bertumpu pada besarnya adegan aksi, melainkan pada nilai tanggung jawab dan persaudaraan di medan yang tak memberi ruang untuk kesalahan.

Pria yang akrab disapa Bang Aloy itu menegaskan pentingnya kejujuran dan penghormatan dalam mengangkat cerita bersejarah.

“Film Timur sejatinya adalah wujud nyata dari upaya dan kreatifitas pekerja seni khususnya sineas Indonesia, dalam menghadirkan kisah heroik bangsanya sendiri dengan standar sinema internasional, tanpa kehilangan identitas dan keotentikan cerita,” tutur Yentonius.

Yentonius juga menyebut bahwa sejumlah pengamat menilai TIMUR sebagai fase baru dalam perjalanan kreatif Iko Uwais. Film ini dinilai tidak lagi hanya mengandalkan koreografi aksi, tetapi juga kedalaman emosi dan visi sinematik yang lebih matang.

Lebih lanjut, Bang Aloy mengungkapkan sejumlah keunggulan film ini, mulai dari penggunaan latar Papua yang autentik, pendekatan jungle warfare yang realistis, minimnya penggunaan CGI, hingga tema universal tentang persaudaraan dan kemanusiaan yang relevan lintas budaya.

“Film TIMUR adalah bentuk penghormatan, bukan hanya kepada peristiwa sejarahnya, tetapi juga kepada nilai persaudaraan dan kemanusiaan yang lahir dalam situasi paling ekstrem. Kami ingin dunia melihat bahwa Indonesia mampu menyampaikan kisah heroiknya sendiri dengan cara yang bermartabat,” ucapnya.

Baca Juga: Sinopsis Triple Threat, Aksi Balas Dendam Iko Uwais

Dia pun menegaskan bahwa film ini diposisikan sebagai karya patriotik dengan pendekatan yang tenang dan berkelas.

“Dengan pendekatan yang tenang dan tegas, TIMUR diposisikan sebagai film patriotik berkelas dunia, bukan propaganda, melainkan refleksi tentang keberanian dan nilai kemanusiaan dalam kondisi ekstrem,” ujarnya

“Berlandaskan kisah nyata Operasi Mapenduma dan debut penyutradaraan Iko Uwais, film ini menandai arah baru sinema Indonesia yang berakar pada sejarah nasional dan relevan di panggung global,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Sri Agustina
R