Akurat

Hilirisasi Kelapa dan Gambir Serap 5 Juta Tenaga Kerja

Esha Tri Wahyuni | 14 Februari 2026, 23:19 WIB
Hilirisasi Kelapa dan Gambir Serap 5 Juta Tenaga Kerja

AKURAT.CO Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, bahwa strategi hilirisasi komoditas pertanian tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga berpotensi membuka hingga lima juta lapangan kerja baru.

Pernyataan ini disampaikan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah, hilirisasi kelapa, CPO, dan gambir disebut sebagai kunci akselerasi.

Indonesia saat ini menguasai sebagian besar pasar global untuk sejumlah komoditas strategis tersebut, sehingga peluang peningkatan ekspor produk olahan dinilai sangat terbuka.

Hilirisasi Kelapa dan Gambir Serap 5 Juta Tenaga Kerja

Mentan Amran menyatakan, transformasi dari ekspor bahan mentah ke produk olahan akan menciptakan efek berantai terhadap industri nasional, mulai dari sektor pengolahan, logistik, hingga tenaga kerja.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Enam Daerah

“Ini kita hilirisasi ke depan, bisa membuka lapangan kerja lima juta orang,” ujar Amran di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Menurutnya, peningkatan kapasitas industri pengolahan dalam negeri akan memperluas rantai pasok dan memperkuat struktur ekonomi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.

Nilai Tambah Capai Rp10 Ribu Triliun

Tak hanya soal serapan tenaga kerja, hilirisasi komoditas pertanian juga dinilai memiliki dampak fiskal signifikan. Mentan mengungkapkan bahwa potensi nilai tambah ekonomi dari hilirisasi kelapa bulat, minyak kelapa sawit (CPO), dan gambir bisa mencapai Rp10 ribu triliun.

Angka tersebut setara hampir tiga kali target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok Rp3.153,6 triliun.

“Nilainya bisa sampai Rp10 ribu triliun. Itu setara sekitar tiga tahun APBN kita,” kata Amran.

Secara makro, tambahan nilai ekonomi ini berpotensi memperkuat struktur penerimaan negara sekaligus memperluas basis pajak industri hilir.

Indonesia Kuasai Pasar Global Kelapa, Gambir, dan CPO

Dari sisi fundamental pasar, Indonesia berada dalam posisi dominan. Untuk komoditas kelapa dan gambir, Indonesia tercatat sebagai produsen nomor satu dunia. Sementara itu, sekitar 60% pasar minyak kelapa sawit mentah (CPO) global juga dikuasai Indonesia.

“Kelapa kita itu naik 100 kali lipat kalau kita hilirisasi. Ada juga tanaman gambir, gambir juga itu 80 persen kita kuasai dunia,” jelasnya.

Dominasi ini memberikan leverage strategis dalam perdagangan internasional, terutama jika Indonesia mampu menggeser pola ekspor dari bahan baku ke produk olahan bernilai tambah tinggi.

Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Mentan menilai hilirisasi menjadi salah satu motor penggerak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 8%. Dengan permintaan global yang tinggi terhadap produk turunan kelapa, sawit, dan gambir, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat daya saing industri manufaktur berbasis agro.

“Hilirisasi, kita punya komoditas strategis yang permintaannya tinggi di tingkat dunia,” ujarnya.

Amran juga menambahkan, negara-negara yang telah membangun industri pengolahan akan sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari Indonesia. Artinya, jika industri hilir dibangun secara masif di dalam negeri, posisi tawar Indonesia akan semakin kuat.

Stop Ekspor Bahan Mentah, Dorong Produk Jadi

Pemerintah menegaskan tidak lagi ingin mengandalkan ekspor komoditas mentah. Fokus kebijakan ke depan adalah mendorong ekspor produk olahan yang memiliki margin lebih tinggi dan memperluas penyerapan tenaga kerja domestik.

Strategi ini juga diharapkan mampu menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Selain itu, keberhasilan sektor pertanian nasional dinilai tercermin dari stabilitas harga pangan yang berdampak luas, tidak hanya bagi petani dan industri pupuk, tetapi juga bagi konsumen global yang menikmati hasil produksi Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.