Akurat

Dari Hunian ke Pusat Ekonomi: PIK 2 Jadi Contoh Kekuatan Sektor Properti

Saeful Anwar | 23 Februari 2026, 14:50 WIB
Dari Hunian ke Pusat Ekonomi: PIK 2 Jadi Contoh Kekuatan Sektor Properti

AKURAT.CO Sektor properti dinilai masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional, sepanjang pengelolaannya dilakukan secara inklusif dan tidak bersifat monopolistik.

Pengamat ekonomi, Agus Trihatmoko, mengatakan pembangunan perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan rantai pasok bahan bangunan lokal.

“Dampak terhadap pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bisa sangat signifikan dari program sektor properti, sepanjang manajemen pembangunannya inklusif. Artinya, tidak sentralistik dan tidak monopolistik, serta melibatkan banyak pelaku usaha,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, partisipasi pelaku usaha lokal—mulai dari penyedia material, pengrajin bahan tradisional, hingga kontraktor daerah—menjadi kunci agar manfaat pembangunan tidak terpusat pada satu kelompok saja.

Agus menilai pola pembangunan juga perlu disesuaikan dengan karakter wilayah. Di pedesaan dan kawasan pesisir, misalnya, pendekatan klaster atau kompleks perumahan besar tidak selalu relevan.

“Di desa atau wilayah pesisir, perlu mempertimbangkan lokasi lahan dan kedekatannya dengan pusat aktivitas ekonomi warga. Bisa jadi modelnya bukan kompleks besar, melainkan beberapa unit rumah di titik strategis dekat wilayah kerja penghuninya,” jelasnya.

Sebaliknya, di kota besar, kebutuhan hunian vertikal seperti rumah susun atau unit apartemen di dalam kompleks dinilai lebih sesuai dengan keterbatasan lahan dan struktur ekonomi perkotaan.

Baca Juga: Steven Kusumo Dapat Penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40 2026

PIK 2 dan Potensi Penggerak Ekonomi

Agus menilai, pengembangan kawasan seperti Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) dapat menjadi contoh bagaimana sektor perumahan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara terintegrasi.

Menurutnya, pengembangan kawasan hunian terpadu yang disertai fasilitas komersial, infrastruktur, dan konektivitas dapat menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.

“Proyek skala besar menunjukkan bahwa sektor perumahan tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi—dari UMKM, jasa konstruksi, hingga sektor perdagangan dan layanan,” katanya.

Namun, ia mengingatkan agar pengembang tetap membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha lokal dan memastikan dampak ekonominya menjangkau masyarakat sekitar.

Terkait dampak terhadap lapangan kerja, Agus menegaskan bahwa sektor perumahan memiliki kontribusi besar baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Proses pembangunan menyerap tenaga kerja langsung, mulai dari manajemen proyek, administrasi, hingga pekerja konstruksi. Secara tidak langsung, rantai pasok seperti produsen semen, baja, kayu, transportasi, hingga jasa logistik juga terdampak,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara estimatif, setiap unit rumah dapat dihitung kontribusinya terhadap jumlah tenaga kerja langsung dan tidak langsung dalam satu proyek di lokasi tertentu.

Dengan karakter padat karya dan melibatkan banyak sektor turunan, Agus menilai properti masih relevan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, terutama dalam mendorong pertumbuhan kawasan baru dan pemerataan pembangunan.

“Jika dirancang dengan pendekatan inklusif dan berbasis potensi lokal, sektor perumahan bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi instrumen strategis pemerataan ekonomi,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
S