Salah satu sektor yang masuk ke dalam rencana tersebut adalah penerbangan. Pelita Air, maskapai milik Pertamina, disebut berpeluang digabungkan dengan Garuda Indonesia.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai langkah ini berpotensi memperkuat posisi maskapai pelat merah, namun harus tetap memperhatikan aspek budaya perusahaan hingga model bisnis masing-masing.
Ketua MTI, Tory Damantoro mengatakan bahwa fokus utama BUMN energi seperti Pertamina tetap harus diarahkan pada core business di sektor energi.
“Spinoff anak perusahaan yang bisnisnya tidak terkait dengan core bisnis Pertamina memang sudah sejak dahulu diusulkan banyak pihak. Secara umum MTI mendorong Pertamina untuk terus fokus pada core bisnis energinya,” kata Tory kepada Akurat.co dikutip, Minggu (13/9/2025).
Baca Juga: Rencana Merger Pelita Air–Garuda Dinilai Tak Strategis
Senada dengan Tory, Peneliti Senior Forum Kebijakan Transportasi Udara MTI, Mahardi Sadono menilai rencana penggabungan maskapai pelat merah berpotensi memperkuat daya saing industri penerbangan nasional.
Mahardi mengatakan konsolidasi ini akan menciptakan satu komando dengan kekuatan yang lebih besar sehingga mampu bersaing lebih baik.
“Penggabungan ini bisa jadi akan menjadi hal yang baik. Airline plat merah menjadi satu komando dengan power yang lebih kuat. Dengan demikian akan bisa bersaing lebih baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, dari sisi bisnis dan operasional, Mahardi melihat penggabungan tersebut relatif tidak akan mengganggu karena kedua entitas memiliki kesamaan di bidang penerbangan.
Namun, Mahardi menyoroti adanya perbedaan jenis pesawat yang dimiliki masing-masing maskapai. Kondisi ini dinilai memerlukan penyesuaian dalam menyusun pola operasinya.
“Dari sisi operasi, memang jenis pesawat terbang yang dimiliki relatif agak berbeda. Ini yang perlu penyesuaian untuk menyusun pola operasi yang sinergis,” tutur Mahardi.
Tak Boleh Hilangkan Entitas
Sementara itu, Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo menturkan penggabungan maskapai pelat merah ini bisa membawa dampak positif, asalkan tidak menghilangkan identitas bisnis masing-masing maskapai.
“Kalau menurutku, bagus saja maskapai BUMN bergabung tapi jangan menghilangkan entitas bisnis masing-masing. Karena tiap-tiap maskapai punya AOC dan konsep bisnis sendiri-sendiri,” ucap Gatot.
Gatot menjelaskan, Pelita Air tetap bisa beroperasi dengan layanan medium service, Garuda Indonesia sebagai maskapai full service, dan Citilink dengan konsep low-cost carrier (LCC).
Ketiganya, kata dia, bisa membentuk sinergi melalui konsep operasional hub and spoke, baik untuk rute domestik maupun internasional.
Lebih lanjut, Gatot menilai holding yang menaungi tiga maskapai ini dapat difokuskan pada aspek pendukung operasional seperti pengelolaan SDM, pemasaran, administrasi, hingga penyewaan pesawat.
“Hal-hal ini sudah biasa dilakukan di maskapai seluruh dunia. Di Indonesia, sudah dilakukan oleh Lion Group, Garuda dan Citilink, Sriwijaya group. Jadi merger-nya itu bukannya Pelita dilebur ke Garuda,” tukas Gatot.