Akurat

EBITDA TBIG Tembus Rp2,97 Triliun di Semester I-2025

M. Rahman | 31 Juli 2025, 09:37 WIB
EBITDA TBIG Tembus Rp2,97 Triliun di Semester I-2025

AKURAT.CO PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk. (TBIG) membukukan pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp3,45 triliun dan Rp2,97 triliun untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025.

Jika kuartal kedua ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan mencapai Rp6,87 triliun dan Rp5,95 triliun.

Menurut CEo TBIG, Hardi Wijaya Liong, capaian ini tak lepas dari pertumbuhan penyewaan organik di tengah pergeseran pasar. Penambahan penyewaan organik TBIG untuk enam bulan pertama tahun 2025 mencapai 431 penyewaan kotor yang terdiri dari 236 sites telekomunikasi dan 195 kolokasi.

TBIG memiliki 42.663 penyewaan dan 24.056 sites telekomunikasi per 30 Juni 2025. Sites telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 23.945 menara telekomunikasi dan 111 jaringan DAS.

Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 42.552, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,78x.

Baca Juga: Tower Bersama (TBIG) Cetak EBITDA Rp1,46 T di Kuartal I-2024

"Tingkat pertumbuhan ini mencerminkan kondisi industri saat ini, khususnya proses konsolidasi yang sedang berlangsung di antara pelanggan telekomunikasi kami. Meskipun terjadi pergeseran pasar ini, kami tetap menjalankan peran kami sebagai penyedia infrastruktur terkemuka dalam ekonomi digital Indonesia yang terus berkembang," ujar Hardi.

Senada, CFO TBIG, Helmy Yusman Santoso mengtakan per 30 Juni 2025, total pinjaman (debt) perseroan, jika bagian pinjaman dalam mata uang US Dollar yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah sebesar Rp29,05 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp4,07 triliun.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp799 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp28,25 triliun dan pinjaman bersih senior (net senior debt) menjadi Rp3,28 triliun.

Menggunakan EBITDA kuartal kedua 2025 yang disetahunkan, rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 4,7x dan rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA adalah 0,6x.

Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap struktur permodalan yang tangguh dan efisien secara biaya. Perusahaan juga akan terus mengakses pasar obligasi dan pinjaman dalam negeri (Rupiah), dengan program obligasi konvensional baru senilai Rp20 triliun dan program Sukuk perdana senilai Rp8 triliun.

"Pinjaman dan obligasi IDR kami saat ini sekitar 50 persen dari total utang kami, yang memperkuat komitmen kami terhadap pembiayaan yang stabil dan beragam," ujar Helmy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa