Akurat

Musim Reli Logam, Tembaga Cetak ATH USD12.000 per Ton

Yosi Winosa | 27 Desember 2025, 11:51 WIB
Musim Reli Logam, Tembaga Cetak ATH USD12.000 per Ton

AKURAT.CO Narasi pasar keuangan global menjelang akhir 2025 menunjukkan pergeseran yang cukup tajam. Ketika komunitas kripto masih berspekulasi soal altcoin season dan potensi rekor baru Bitcoin, perhatian investor global justru mulai beralih ke aset berbasis komoditas, khususnya logam. Fenomena ini oleh banyak analis disebut sebagai “musim logam”.

Dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (27/12/2025) sepanjang 2025, kinerja logam mulia dan logam dasar tercatat mengungguli aset kripto. Di tengah kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan, pelemahan nilai dolar AS, serta meningkatnya risiko makroekonomi global, emas, perak, dan platinum mencetak rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.
 
Lonjakan ini memperkuat persepsi bahwa aset fisik kembali menjadi pelindung nilai utama. Sejumlah analis menilai situasi pasar saat ini memiliki kemiripan dengan era akhir 1970-an, ketika inflasi global berada di level tinggi. Kenaikan signifikan harga emas, perak, hingga platinum sepanjang tahun ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa investor global tengah mencari aset lindung nilai di luar instrumen keuangan berbasis digital.
 
Baca Juga: Reli Harga Komoditas Logam, Emas dan Tembaga Cetak ATH

Tidak hanya logam mulia, logam dasar juga menikmati reli signifikan. Tembaga, misalnya, mencatat sejarah baru setelah harganya menembus level USD12.000 per ton. Harga tembaga juga menyentuh rekor tertinggi di sejumlah pasar utama, termasuk Cina dan Amerika Serikat, mencerminkan tekanan permintaan global yang semakin kuat.

Secara tahunan, harga tembaga telah naik lebih dari 40%, mengungguli kinerja Bitcoin yang justru tercatat melemah sekitar 6%. Kondisi ini memunculkan pandangan bahwa 2025 bukan lagi milik aset digital semata, melainkan menjadi momentum kebangkitan komoditas keras atau hard assets.

Sejumlah investor dan analis memperkirakan tren reli komoditas belum akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan, momentum ini diproyeksikan berlanjut hingga 2026 seiring masuknya indeks komoditas global ke fase tren naik baru. Tingginya beban utang negara-negara maju disebut membuat inflasi menjadi jalan keluar yang tak terelakkan, sehingga aset riil kembali diminati.

Dalam konteks ini, tembaga dinilai memiliki prospek yang sangat menarik. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan menjadi faktor utama. Produksi tembaga global disebut masih tertahan, bahkan berada di level terlemah dalam lebih dari satu dekade di negara-negara produsen utama.

Analis makro menilai kondisi tersebut membuka ruang terjadinya fase penemuan harga baru atau price discovery yang lebih agresif. Dengan peran tembaga yang krusial dalam transisi energi, elektrifikasi, hingga pengembangan kendaraan listrik, logam ini dipandang bukan sekadar bahan baku industri, melainkan aset strategis global.

Di sisi lain, prospek Bitcoin justru diliputi ketidakpastian. Sejumlah indikator menunjukkan potensi tekanan di awal 2026, sementara pandangan analis masih terbelah antara optimisme dan kehati-hatian. Sentimen pasar kian beragam setelah muncul pernyataan bearish dari sejumlah figur pasar keuangan.

Perubahan preferensi investor pun mulai terlihat nyata. Beberapa pelaku pasar secara terbuka mengalihkan kepemilikan Bitcoin mereka ke logam fisik, termasuk nikel dan tembaga. Langkah ini mencerminkan meningkatnya daya tarik aset berwujud yang memiliki nilai intrinsik dan status sebagai alat lindung nilai jangka panjang.

Dengan meningkatnya risiko makro global dan rotasi modal ke aset fisik, tembaga kini semakin dipandang sebagai alternatif investasi yang serius. Meski belum dapat dipastikan apakah “musim logam” akan sepenuhnya mengalahkan daya tarik kripto, tren saat ini menunjukkan sebagian investor mulai menaruh keyakinan pada kelangkaan fisik, bukan lagi semata pada narasi digital.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa