Nvidia Sentil Kebijakan Biden Soal Pembatasan Ekspor Chip AI AS
Hefriday | 12 Januari 2025, 22:19 WIB

AKURAT.CO Raksasa pembuat chip asal Amerika Serikat (AS), Nvidia, melontarkan kritik tajam terhadap rencana pemerintahan Presiden Joe Biden yang dilaporkan akan memberlakukan pembatasan baru pada ekspor chip kecerdasan buatan (AI).
Nvidia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya berpotensi merugikan ekonomi AS tetapi juga menguntungkan para pesaing, terutama China. Wakil Presiden Nvidia, Ned Finkle, menyatakan bahwa langkah ini dapat menciptakan ketertinggalan bagi Amerika Serikat dalam perkembangan teknologi global.
"Kami akan mendorong Presiden Biden untuk tidak mengambil kebijakan yang akan membuat Amerika mundur dan menguntungkan musuh-musuh AS," tegas Finkle seperti dilansir dari Reuters, Minggu (12/1/2025).
Kebijakan pembatasan ekspor chip AI ini dilaporkan sedang dirancang oleh Departemen Perdagangan AS dengan tujuan utama membatasi akses musuh AS, termasuk China, terhadap teknologi canggih tersebut. Namun, Nvidia dan sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya menganggap langkah ini terlalu drastis dan kontraproduktif.
Menurut Finkle, kebijakan tersebut, yang disebut-sebut sebagai langkah anti-China, justru dapat menghambat pertumbuhan teknologi di AS dan memengaruhi persaingan global. "Langkah ini tidak hanya akan membatasi ekspor tetapi juga mendorong negara lain untuk mencari teknologi alternatif yang dapat menggantikan teknologi buatan AS," tambahnya.
Baca Juga: Nvidia Rampungkan Akuisisi Startup AI Run:ai
Nvidia juga mengkritik waktu penerapan kebijakan ini yang dianggap tidak tepat, mengingat Presiden Joe Biden mendekati akhir masa jabatannya. Finkle menyebut bahwa kebijakan "menit-menit terakhir" ini dapat menjadi warisan yang membebani industri teknologi AS di masa depan.
“Kebijakan ini akan dikenang sebagai langkah yang disesalkan oleh komunitas global dan industri AS. Ini bukan cara yang tepat untuk mengakhiri masa pemerintahan,” ungkap Finkle.
Tidak hanya Nvidia, Dewan Industri Teknologi Informasi (ITI), yang mewakili perusahaan besar seperti Amazon, Microsoft, dan Meta, juga mengungkapkan keprihatinan serupa. Mereka menilai bahwa pembatasan ekspor chip AI dapat merugikan kemampuan perusahaan-perusahaan AS untuk bersaing di pasar global dan membuka peluang bagi pesaing internasional.
Pembatasan ini dikhawatirkan akan mengurangi akses perusahaan-perusahaan AS ke pasar luar negeri yang menguntungkan, sehingga memberikan keunggulan bagi perusahaan teknologi dari negara-negara lain.
Pembatasan ekspor teknologi AS ke China sebenarnya bukanlah hal baru. Kebijakan ini telah menjadi ciri khas pemerintahan Presiden Donald Trump dengan alasan keamanan nasional. Namun, Nvidia menilai bahwa melanjutkan kebijakan tersebut dalam bentuk yang lebih ekstrem akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan teknologi di AS.
"Alih-alih memperkuat posisi Amerika, kebijakan ini justru dapat melemahkan keunggulan teknologi AS di kancah internasional," tambah Finkle.
Finkle juga memperingatkan bahwa pembatasan ketat terhadap ekspor chip dapat mempercepat perkembangan teknologi alternatif di negara-negara lain. Jika negara-negara seperti China berhasil mengembangkan teknologi pengganti, dominasi AS dalam industri chip AI dapat terancam.
“Ini tidak hanya tentang pembatasan, tetapi juga tentang bagaimana negara lain akan bereaksi. Mereka akan mencari cara untuk tidak lagi bergantung pada teknologi AS, dan itu adalah risiko besar,” jelasnya.
Nvidia dan ITI sama-sama menyerukan pemerintah AS untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang. Mereka menyarankan kebijakan yang melindungi keamanan nasional tanpa mengorbankan daya saing industri teknologi AS di pasar global.
“Langkah yang lebih bijaksana adalah mengedepankan kebijakan yang mendukung inovasi sambil tetap menjaga keamanan nasional. Jangan sampai AS kehilangan pijakan dalam persaingan global,” tegas ITI dalam pernyataannya.
Rencana pembatasan ekspor chip AI oleh pemerintahan Biden menuai kritik dari berbagai pihak, terutama pelaku industri teknologi seperti Nvidia. Kebijakan ini dinilai dapat merugikan ekonomi AS, mengurangi daya saing global, dan malah memperkuat posisi musuh-musuh AS.
Ke depan, pemerintahan AS, baik yang dipimpin oleh Presiden Biden atau penerusnya, perlu menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan antara keamanan nasional dan keberlanjutan inovasi teknologi. Kesalahan langkah dalam kebijakan ini dapat meninggalkan dampak signifikan terhadap posisi AS dalam industri teknologi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










