Akurat

Transformasi Agroekologi: Jalan Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Petani Kecil

Redaksi Akurat | 27 Februari 2026, 14:51 WIB
Transformasi Agroekologi: Jalan Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Petani Kecil
Wirendra Tjakrawerdaja Petani Regeneratif dan Praktisi Permakultur.

KEDAULATAN pangan Indonesia saat ini berada di bawah tekanan serius. Arus ekonomi global mendorong negara berkembang untuk menggeser orientasi pertaniannya ke komoditas ekspor berbasis monokultur industri—seperti sawit dan karet—yang dianggap sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks: ketergantungan pada komoditas ekspor justru membuat ekonomi pertanian rentan terhadap volatilitas pasar global dan secara perlahan mengikis kemampuan domestik untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat sendiri.

Transformasi menuju kedaulatan pangan bukan sekadar persoalan teknis produksi, melainkan strategi ketahanan nasional.

Model pertanian industri telah memperlihatkan berbagai kelemahan sistemik: degradasi ekosistem, penurunan kualitas pangan, serta krisis kesehatan publik.

Secara ekonomi, sistem ini sering kali mempercepat siklus utang petani akibat ketergantungan pada benih hibrida, pupuk kimia, dan pestisida berbiaya tinggi.

Alih-alih menyejahterakan, pendekatan tersebut justru melemahkan daya tahan pedesaan.

Indonesia memerlukan paradigma baru berbasis agroekologi—pendekatan ilmiah yang mengintegrasikan prinsip ekologi dengan sistem pertanian. Agroekologi tidak hanya menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memperkuat otonomi produsen pangan lokal.

Kegagalan Model Revolusi Hijau

Model “Revolusi Hijau” dan berbagai turunannya, termasuk inisiatif global seperti Alliance for a Green Revolution in Africa (AGRA), menunjukkan banyak keterbatasan.

Alih-alih menghapus kemiskinan, pendekatan tersebut sering menciptakan ketergantungan kronis terhadap benih berpaten dan pupuk kimia dengan harga fluktuatif—bahkan pernah melonjak hingga ratusan persen dalam setahun.

Baca Juga: Persib vs Madura United: Gol Cepat Menjadi Kunci Kemenangan Maung Bandung

Lebih jauh, ekspansi tanaman transgenik (GMO) dan biofuel membawa risiko “polusi genetik” yang mengancam varietas lokal. Ketika petani kehilangan kontrol atas benih, mereka juga kehilangan kendali atas kedaulatan pangan.

Dalam konteks ini, petani kecil justru tampil sebagai pilar ketahanan sistem pangan global.

Mereka mempertahankan keanekaragaman hayati, menjaga kesuburan tanah, serta mengembangkan praktik adaptif terhadap perubahan iklim.

Mengubah Cara Mengukur Keberhasilan

Selama ini, keberhasilan pertanian kerap diukur melalui indikator “single crop yield” atau hasil panen satu komoditas.

Pendekatan ini menyesatkan karena mengabaikan kompleksitas produksi di tingkat lahan.

Sebaliknya, indikator “total output” lebih relevan karena mencakup keseluruhan hasil—pangan, pakan, tanaman obat, hingga stabilitas ekonomi keluarga petani.

Berbagai studi menunjukkan sistem tumpangsari mampu menghasilkan keuntungan 20–60 persen lebih tinggi dibandingkan monokultur, berkat efisiensi pemanfaatan cahaya, air, dan nutrisi.

Dengan demikian, polikultur bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan fondasi ekonomi pedesaan yang stabil dan produktif.

Posisi Strategis Indonesia

Indonesia memegang posisi krusial di Asia Tenggara sebagai negara dengan jutaan petani kecil yang mengelola lahan kurang dari dua hektar.

Sistem tradisional seperti terasering dan agroforestri bukan peninggalan usang, melainkan inovasi ekologis yang canggih.

Lahan-lahan ini berfungsi sebagai “pulau sumber daya genetik”—cadangan biodiversitas yang bernilai global.

Dalam dunia yang semakin bergantung pada varietas seragam, keragaman hayati di lahan petani Indonesia dapat menjadi “polis asuransi biologis” menghadapi potensi kegagalan ekologis global.

Sebagai negara tropis, Indonesia juga menghadapi ancaman El Niño, banjir, dan panas ekstrem. Prinsip diversifikasi dalam agroekologi terbukti secara empiris lebih tangguh terhadap guncangan iklim dibandingkan sistem monokultur industri.

Baca Juga: Saham Thomson Reuters Melonjak Pasca AI CoCounsel Raih 1 Juta Pengguna

Reformasi Struktural Menuju Kedaulatan Pangan

Transformasi menuju agroekologi tidak akan efektif tanpa perubahan struktural dalam kebijakan politik dan ekonomi. Kedaulatan pangan menuntut:

1. Reformasi agraria sejati yang menjamin kontrol petani atas lahan, air, dan benih.

2. Prioritas pada pasar lokal dan siklus produksi-konsumsi domestik guna mengurangi ketergantungan pada ekspor mentah.

3. Kemitraan strategis antara negara, ilmuwan, dan petani untuk menjaga serta mengembangkan kekayaan genetika nusantara.

Kedaulatan pangan bukanlah romantisme masa lalu, melainkan strategi masa depan.

Di tengah ketidakpastian global, memperkuat petani kecil dan mengadopsi agroekologi adalah langkah rasional untuk memastikan Indonesia mampu memberi makan rakyatnya sendiri—secara adil, berkelanjutan, dan berdaulat.

Wirendra Tjakrawerdaja

Petani Regeneratif dan Praktisi Permakultur

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.