Akurat

Ketika Dunia Mempersenjatai Pikiran: Renungan di Era Perlombaan Senjata AI

Rahman Sugidiyanto | 23 Juli 2025, 20:25 WIB
Ketika Dunia Mempersenjatai Pikiran: Renungan di Era Perlombaan Senjata AI

SYAHDAN baru 1 abad lalu kita mengalami Perang Dingin (1947-1991) di mana pada era itu kita mengalami perlombaan senjata (arms race), perlombaan nuklir (nuclear race), hingga perlombaan antariksa (space race).

Setelah bubarnya Uni Soviet pada 26 Desember 1991 dan mengakhiri Perang Dingin, maka berakhir pula perlombaan senjata, nuklir, dan kompetisi ke Antariksa.

Namun kali ini di era yang kadang seringkali disebut “Perang Dingin II” atau kadang disebut “Diplomasi Multipolar” (Multipolar Diplomacy), kita melihat sebuah perlombaan senjata baru yaitu “perlombaan senjata kecerdasan buatan” (AI Arms Race). Di era di mana kita melihat zaman sedang mencari bentuk.

Sebagaimana hukum besi sejarah, pada akhirnya bentuk zaman akan terlihat gamblang di paruh kedua Abad ke 21, sebab kita baru saja memasuki seperempat abad belum sampai 50 tahun dari Abad ke 21.

ahli memperingatkan munculnya “perlombaan senjata baru” di antara negara-negara teknologi tinggi untuk mengembangkan senjata otonom yang bisa memilih target tanpa campur tangan manusia. Bahkan Laporan Belfer Center (Harvard) 2017 menyatakan bahwa AI memiliki potensi “sama transformatifnya dengan senjata nuklir”.

Dalam konteks ini, Presiden Rusia Vladimir Putin pernah berujar bahwa siapapun yang terobosan AI akan mendominasi dunia, dan perang masa depan akan “dimenangi oleh drone.” Frasa ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi kunci dominasi militer suatu bangsa.

Sejauh ini, penggunaan AI dan sistem otonom dalam konflik nyata sudah terjadi. Laporan Reuters (Mei 2025) mencatat sistem persenjataan berbasis AI sudah dimainkan dalam konflik dari Ukraina hingga Gaza.

Misalnya, Rusia menggunakan ribuan drone “kamikaze” buatan Iran untuk menghantam sasaran di Ukraina, sementara Ukraina mengoperasikan drone berpeluru kendali AI-serta Iran memasok ratusan UAV penyerang ke Rusia.

Di Yaman dan Suriah, AS juga pernah memanfaatkan sistem AI untuk mengidentifikasi target serangan udara. Pemantau HAM menyatakan ancaman penggunaan senjata otonom ini “mampu memprovokasi perlombaan senjata jika tidak dicegah”.

Situasi ini didorong juga oleh kenaikan belanja pertahanan global, yang diperkirakan mengalir lebih banyak ke riset persenjataan canggih (termasuk AI).

Negara-negara adidaya berlomba-lomba menguasai ranah ini. Amerika Serikat sangat agresif; menurut The Guardian, militer AS memiliki lebih dari 800 proyek terkait AI aktif dan mengajukan anggaran sekitar US$1,8 miliar untuk AI pada 2024 saja. China bahkan menargetkan “dominasinya dunia dengan AI pada 2030” dalam rencana nasionalnya.

Kedua kekuatan ini – bersama Rusia – secara terbuka menolak membatasi pengembangan senjata AI secara internasional, memilih mengikuti pedoman nasional masing-masing. Inggris disebutkan oleh laporan lembaga sipil Stop Killer Robots tengah mengembangkan senjata otonom baru; dokumen Kementerian Pertahanan Inggris mengungkap lebih dari 200 proyek AI, termasuk drone otonom untuk darat, laut, dan udara.

Prancis juga meningkatkan investasi AI militernya: Menteri Pertahanan Prancis pernah mengumumkan rencana menaikkan anggaran hingga €100 juta per tahun untuk mengembangkan sistem senjata masa depan berbasis AI.

Anggota NATO lainnya seperti Jerman dan Italia pun diketahui menguji sistem pertahanan aktif otonom, sementara Korea Selatan lama-kelamaan ikut andil mengembangkan Lethal Autonomous Weapons Systems (LAWS).

Di belahan lain, Israel sudah menggunakan AI dalam operasi militer kontemporer. Laporan Time (Des 2024) menjelaskan program-program AI Israel yang menandai target serangan di Gaza secara masif – misalnya program bernama “The Gospel” yang secara otomatis mengusulkan sasaran gedung atau individu berdasarkan data intelijen, sebuah sistem yang diakui oleh IDF.

Serupa, Guardian melaporkan IDF pernah mengoperasikan sistem AI yang menandai puluhan ribu warga Gaza sebagai tersangka militan.

Di Timur Tengah, Iran sendiri memasok teknologi UAV sipil dan militer; misalnya drone Shahed buatan Iran telah dipasok ke Rusia ribuan unit untuk perang di Ukraina, dan Pemerintah AS melaporkan Rusia menerima ratusan drone serang buatan Iran.

Negara-negara regional seperti Turki juga berinvestasi besar pada drone canggih (Bayraktar). Semua ini menunjukkan bahwa pengembangan senjata AI bukanlah monopoli satu-dua negara, melainkan fenomena global melibatkan kekuatan ekonomi utama dan regional.

Perlombaan Drone dan Senjata AI di Manakah Posisi Indonesia?

Di tengah semuanya ini, posisi Indonesia sangatlah berbeda. RI masih sangat berhati-hati dan tertinggal dalam adopsi AI militer. Menhan RI baru pada Desember 2024 menegaskan bahwa penggunaan AI dalam sistem senjata utama baru akan diterapkan “secara hati-hati” mulai 2025. Pihak TNI AU mencatat peralatan cyber dan AI pendukung pertahanan kita “masih belum lengkap” dan pengembangannya “dinilai suboptimal” karena keterbatasan dana.

Artinya, sementara negara-negara besar sudah menjalankan ratusan proyek dan anggaran miliaran dolar, kita masih memperkuat fondasi teknologi dasarnya. Dokumen resmi Indonesia di PBB juga mengakui bahwa AI dapat “memicu perlombaan senjata” dan memperlebar ketimpangan kekuatan militer, yang jelas merugikan negara yang belum siap.

Kondisi Indonesia yang tertinggal ini menjadi titik rawan: jika teknologi AI militer memicu keseimbangan kekuatan yang timpang, kedaulatan Indonesia mudah terancam karena kurangnya kemampuan mempertahankan diri setara musuh yang berteknologi unggul.

Sayangnya Indonesia dalam hal ini jauh tertinggal ketimbang negara-negara lain, jangankan kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, bahkan dengan Turki dan Iran yang sama-sama negara berkembang; Indonesia pun jauh tertinggal. Sungguh amat disayangkan.

Negara-negara lain sudah menggarap serius industri strategis seperti drone, robotik, dan AI. Bukan cuma dalam industri, namun juga perlu ada langkah serius dalam menggarap strategi pertahanan dan keamanan serta militer yang mengakomodir keamanan siber dan AI.

Beberapa negara bahkan sudah mempersiapkan korps siber sebagai matra terpisah dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara mereka. Dalam hal ini kita tidak perlu jauh-jauh melihat kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia, negeri tetangga kita saja Singapura sudah membentuk Digital and Intelligence Service (DIS) atau Perkhidmatan Digital dan Perisikan, sebagai korps siber terpisah di militer mereka dan lengkap dengan kepala stafnya sendiri.

Sebelum membahas lebih jauh dan lebih detail, perlu juga kita membedah 3 tingkatan AI agar kita bisa memproyeksikan arah perkembangan AI ke depannya dan apa implikasinya. Pertama-tama kita akan membahas 3 tahapan evolusi AI: evolusi AI dari LLM ke AI Agent.

Penting untuk memahami tingkatan kecerdasan buatan saat ini. Para pakar membagi AI menjadi tiga level. Level 1 adalah Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT yang hanya bereaksi terhadap permintaan manusia. Level 2 atau AI Workflow menambahkan kemampuan interkoneksi dan penggunaan alat, namun masih mengikuti logika yang diprogram manusia – mesin hanya mengeksekusi langkah yang sudah ditentukan manusia. Pada Level 3 (AI Agent), peran manusia sebagai pengambil keputusan sepenuhnya digantikan oleh sistem AI.

Dalam level ini, model LLM menerima tujuan sebagai masukan, kemudian memikirkan strategi (reasoning), bertindak menggunakan beragam alat (acting), dan bahkan mengoreksi kinerjanya sendiri (iterate) tanpa intervensi manusia.

Dengan kemampuan iterasi mandiri, AI Agent misalnya bisa menilai sendiri hasil aksinya dan memperbaikinya berulang kali agar semakin optimal. Meskipun AI hari ini sudah demikian canggihnya, namun banyak pakar AI ataupun IT yang menyatakan bahwa sistem yang digunakan saat ini masih relatif sederhana dibandingkan potensi perkembangan AI di masa depan.

Pembahasan bila AI sudah mencapai level AI Agent menjadi pembahasan paling menarik di dunia AI. Sebab pada tahap ini AI tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi menjadi “otak” otonom yang merencanakan dan menjalankan misi layaknya seorang komandan manusia.

Bahasa simpelnya kalau AI sudah mencapai level AI Agent maka AI sudah hampir setara atau sudah setara dengan “otak manusia.” Ketika AI sudah menjadi otak, maka kita tidak perlu lagi menuliskan prompt untuk memerintah AI; seperti sekarang kita menggunakan Chatgpt, Deepseek, MetaAI, Grok, Gemini, Microsoft Copilot, sebab AI-AI yang penulis sebutkan tadi itu masih level 1 (LLM), cara kerja pada AI Agent cukup berpikir seperti layaknya otak manusia dan AI itu akan bertindak sendiri. Bila AI sudah mencapai level 3, tidak sedikit pakar yang memprediksi terancamnya eksistensi manusia.

Bahkan terancam adanya pemberontakan manusia terhadap AI (Luddite Rebellion), skema ini menganalogikan dengan kaum Luddite di Inggris yang merusak mesin di pabrik tekstil karena menolak otomatisasi di pabrik-pabrik yang mengakibatkan pekerjaan mereka tergantikan.

Kekhawatiran semacam ini beralasan, sudah banyak film hingga karya fiksi yang membuat topik tentang perang manusia dengan AI, seperti Mission: Impossible – Dead Reckoning (2023) dan Mission: Impossible – The Final Reckoning (2025).

Rata-rata di film, kartun, ataupun novel seringkali AI itu sudah bisa berpikir sendiri tanpa diperintah manusia, paling tidak bisa kita simpulkan di karya-karya fiksi tersebut AI telah mencapai level AI Agent (Level 3).

Walhasil kita tidak bisa memungkiri adanya perubahan paradigma perang di Era AI Agent. Jika teknologi sampai level AI Agent matang, perang akan berubah drastis. Senjata dengan “otak AI” mampu bergerak cepat, bertindak cerdas, dan menghindari kerugian manusia dengan otonomi penuh.

Militer bisa mengerahkan kawanan drone dan robot tempur yang berkoordinasi sendiri tanpa menunggu perintah setiap detik. Ilustrasi futuristik Star Wars Series menggambarkan masa depan di mana armada drone hingga robot bahkan beroperasi di luar angkasa: kendaraan kecil tersebut bisa menyamar sebagai puing antariksa, lalu secara otomatis mengunci sasaran dan menyerang satelit atau stasiun musuh.

Bisa saja kita melihat Star Wars Series sebagai fiksi, namun hal yang pasti seri ini memberikan penggambaran yang cukup baik tentang perang di masa depan di mana pengerahan robot hingga pesawat tempur antar galaksi menggunakan AI.

Bila kita melihat banyak sejarah penemuan teknologi canggih, semua itu bermula dari imajinasi yang kemudian diwujudkan dalam kenyataan.

Seperti halnya dulu manusia bermimpi ingin terbang, namun impian itu akhirnya diwujudkan lewat penemuan pesawat oleh Wright Bersaudara, Orville dan Wilbur Wright. Bukan tidak mungkin karya fiksi Star Wars Series nantinya akan menginspirasi banyak ilmuwan-ilmuwan untuk mewujudkannya.

Dapat kita saksikan negara-negara seperti AS, Tiongkok, Rusia telah menjadi pengembang utama swarm drone karena biayanya murah dan otomatisasinya tinggi. Gambaran “perang robot” makin terasa nyata saat Rusia memamerkan “tentara robot” bersenjata.

Dalam skenario tersebut, tentara manusia kemungkinan lebih berperan sebagai pasukan pendudukan setelah gelombang serangan utama dijalankan oleh mesin otonom.

Misi menguasai area dapat diselesaikan dengan cepat oleh drone canggih sehingga keberadaan personel militer hanya untuk mengamankan wilayah, bukan terjun langsung ke medan perang penuh. Paul Scharre (CNAS) bahkan memperingatkan risiko jangka panjang: bisa saja kita menoleh 15–20 tahun mendatang dan menyadari bahwa kita telah menyerahkan lebih banyak keputusan kepada mesin.

Selain itu, AI Agent juga akan menimbulkan ancaman siber dan disinformasi baru. Kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menghasilkan gelombang konten palsu (fake news, deepfake video) dan serangan siber skala besar.

Sebagai contoh, dalam perang Israel-Iran 2025, teknologi deepfake AI sudah dipakai secara nyata: Israel maupun Iran sama-sama meluncurkan siaran berita palsu dengan penyiar AI dan bot media sosial untuk menyebarkan propaganda. Kata-kata pedas atau video rekayasa informasi bisa viral dalam hitungan menit, melumpuhkan upaya perlawanan kebenaran.

Medan perang kini tak hanya fisik; menurut laporan Radware, konflik modern “tidak hanya diperangi dengan bom dan rudal, melainkan juga dengan memes dan aplikasi pesan”. AI Agent di ranah siber mampu mengkoordinasi botnet otomasi, mengirim notifikasi darurat palsu ke ponsel warga (untuk menciptakan kepanikan), dan menggandakan serangan DDoS yang jauh lebih terprogram daripada serangan manual biasa.

Komplekitas ancaman ini berarti negara-negara besar dengan kekuatan AI dapat melancarkan kampanye informasi hitam dan siber agresif tanpa disadari, mengganggu stabilitas bahkan tanpa menembakkan peluru. Indonesia yang saat ini masih lemah di infrastruktur pertahanan siber dan intelijen AI akan kesulitan mengimbangi serangan jenis ini.

Secara keseluruhan, mencapai Level 3 AI Agent berpotensi menggoncang tatanan keamanan global. Senjata otonom yang “berpikir” dapat menciptakan peperangan supercepat dan sangat mematikan, sementara manusia menjadi lebih pasif. Ancaman kedaulatan negara berkembang, termasuk Indonesia, kian nyata karena kesenjangan teknologi militer membesar.

Di sisi lain, perang di ranah siber dan informasi akan makin kompleks: disinformasi masif, serangan siber otomatis, dan perlombaan sensor canggih menjadi bagian perang yang sama pentingnya dengan persenjataan fisik.

Memang belum ada “buku aturan” internasional yang disepakati untuk mengatur perkembangan ini, tetapi lobi global menuntut pembatasan terus berlangsung. Namun fakta menunjukkan, saat ini lebih banyak negara besar yang mengklaim ingin menguasai AI ketimbang membekukannya.

Jika tidak ada langkah strategis dalam pengembangan dan regulasi AI, dunia bisa saja terseret ke era peperangan seperti dalam film fiksi ilmiah—di mana kekuatan tempur utama adalah robot pintar, dan manusia hanya bertugas mengamankan daerah yang sudah ditaklukkan.

Penulis di Antara Algoritma: Menggenggam Nurani dalam Era Kecerdasan Buatan (AI)

Di tengah dunia yang perlahan disulap menjadi medan tempur algoritma, di mana mesin berbicara dalam bahasa statistik dan membuat keputusan dengan logika mutlak, peran penulis tidak luntur—melainkan justru menjadi kunci penyeimbang.

Ketika AI telah menulis berita, menganalisis strategi, bahkan menyusun naskah drama, sebagian mungkin bertanya: masih adakah ruang bagi manusia di ranah narasi?

Terlebih lagi di tengah pertempuran dan perlombaan AI antar negara yang kian hari kian pesat perkembangannya. Masih adakah tempat bagi para penulis yang menyuarakan suara kritisnya ataupun tulisan-tulisan yang menyuarakan kemanusiaan dan perdamaian mendapatkan tempat?

Namun justru di situlah letak harapan. Ketika kecerdasan buatan mampu merangkai kata, hanya manusia yang bisa menyuntikkan makna. Ketika AI menyalin gaya, hanya manusia yang bisa menyulam nilai.

Dan ketika mesin bekerja tanpa rasa, penulis hadir untuk menjaga rasa itu tetap hidup. Satu hal yang belum bisa digantikan sepenuhnya oleh AI adalah batin, suara batin dan juga jiwa batin manusia yang membuat karya manusia “otentik” bila dibandingkan AI.

Dalam bayang-bayang senjata otonom dan perang siber, kita membutuhkan mereka yang tak hanya berpikir dengan akal, tetapi juga dengan jiwa. Penulis adalah penjaga etika yang tak bisa diprogram, penyair dalam kegelapan digital, saksi yang menolak melupakan. Mereka menulis bukan hanya untuk melawan lupa, tapi untuk melawan dinginnya dunia tanpa nurani.

Di zaman ketika informasi diproduksi massal oleh agen-agen otomatis, penulis tak boleh hanya menjadi komentator. Ia harus menjadi penerjemah kemanusiaan. Ia menulis puisi tentang drone yang kehilangan arah, cerita pendek tentang anak-anak yang tumbuh di tengah perang siber, esai tentang bagaimana teknologi seharusnya melayani manusia, bukan mengendalikan mereka.

Ia berdiri sebagai mitra AI, bukan musuh. Menyapa algoritma bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kebijaksanaan.

Menggunakan alat ini bukan untuk menjiplak, melainkan memperkuat daya ciptanya. Ia menjadikan kecerdasan buatan sebagai pena baru, tetapi tetap menjaga agar tangan yang menggenggam pena itu tetaplah manusia.

Dan mungkin, ketika kelak perang bukan lagi tentang peluru, tetapi tentang pikiran, suara penulislah yang akan lebih dibutuhkan—bukan untuk memenangi peperangan, tetapi untuk mencegahnya.

Kesimpulan: Masa Depan yang Tak Sepenuhnya Mesin

Perlombaan senjata berbasis kecerdasan buatan bukan lagi imajinasi, tetapi kenyataan yang kini berkembang cepat dan nyaris tak terbendung. Negara-negara besar telah menancapkan langkah dengan keyakinan: AI adalah medan baru supremasi global.

Dari drone kamikaze hingga senjata otonom, dari perang fisik hingga perang siber dan informasi, dunia sedang bergerak menuju konstelasi konflik baru, di mana kecepatan berpikir mesin bisa menentukan hidup dan mati dalam hitungan detik.

Indonesia, dalam perlombaan ini, masih berdiri di tepi lintasan—menimbang, meraba, dan mencoba memahami kecepatan dunia yang kian tak terkejar. Jika kita terus berjalan dalam irama lambat, kedaulatan kita bisa tergelincir bukan karena invasi bersenjata, tapi karena kita tak cukup siap menghadapi perang tanpa bunyi peluru.

Namun, di tengah kecemasan akan senjata pintar, kita juga harus membuka ruang harapan. Bahwa AI bukan takdir, melainkan alat. Bahwa mesin bukan dewa, melainkan ciptaan. Dan bahwa manusia—dengan segala keterbatasannya—masih punya satu kekuatan yang tak bisa ditiru oleh algoritma manapun: kebebasan memilih untuk tetap manusia.

Di zaman ketika dunia dipimpin oleh kecerdasan buatan, manusia sejati justru adalah mereka yang tetap mampu berpikir bebas, merasa, dan menulis.

Dan para penulislah, yang dengan kata-katanya, bisa menjadi penentu arah sejarah: apakah AI akan menjadi pelayan peradaban, atau justru menjadi algojo sunyi pemusnah kemanusiaan.

Irsyad Mohammad

Alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Pengalamat Geopolitik, dan Pengamat Timur Tengah Prolog Initatives

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.