Negosiasi yang Tak Pernah Jujur: Kisah Tarik-Ulur Diplomasi Nuklir Iran dengan Barat

IRAN pada posisi serba salah di dunia ini, ia berunding salah dan tidak berunding juga salah. Ia berperang salah dan tidak berperang juga salah.
Ingin damai juga salah dan tidak ingin damai salah. Ingin berkawan salah dan tidak ingin berkawan juga salah.
Iran ingin punya hubungan diplomatik yang mesra dan baik dengan dunia Barat salah, namun Iran juga bermusuhan dengan dunia Barat dianggap salah.
Punya nuklir untuk perdamaian salah dan tidak punya juga salah. Apa pun yang Iran lakukan tidak pernah benar di mata dunia Barat, Iran selalu dianggap serba salah.
Syahdan setiap kali Iran sudah memutuskan untuk melangkah di dunianya sendiri dan tidak menggubris Barat, kemudian Barat merasa kehilangan kontrol dan ingin Iran memvalidasi egonya dengan memberikan mixed signal (sinyal-sinyal samar dan ambigu).
Iran sebetulnya peka dengan sinyal itu, beberapa kali Iran dan para diplomatnya berbalik mendekati Barat, kemudian oleh Barat diulur lagi.
Barat ingin Iran mengejar Iran, namun sekali dikejar bahkan terkadang dengan mati-matian kemudian Barat ngulur lagi.
Beberapa kali dunia Barat selalu mengetes komitmen Iran dengan tes macam-macam hanya agar Iran mau mengejar validasi, cinta, dan penerimaan dunia Barat.
Namun setiap kali Iran membuktikkan dirinya, bahkan membuktikkan melampaui standar yang ditentukan dunia Barat, tetap saja dunia Barat terus mengetes dan tarik-ulur dengan Iran.
Seolah-olah dunia Barat menikmati permainan tarik-ulur dan sikap pasif-agresif Iran dengan dunia Barat, ego dunia Barat sebagai penguasa dunia merasa divalidasi dan diberi makan egonya oleh Iran.
Sayangnya dunia Barat tidak pernah jujur dengan Iran dan selalu tarik-ulur dengan Iran, terutama dalam negosiasi dan diplomasi terkait nuklir Iran. Ketika Iran memutuskan untuk tidak lagi ikut permainan tarik-ulur diplomasi nuklir Iran dan bertumbuh serta menghasilkan prestasi dan capaian di berbagai bidang.
Setiap kali Iran membuktikkan bahwa Iran mampu hidup tanpa Barat, lantas dunia Barat pun kelabakan dan stress sendiri, dengan childish-nya bertanya-tanya kenapa Iran tidak ngejar dunia Barat?
Dalam simulasi dialog batinnya Barat pun bertanya: “Memangnya aku gak penting? Kan aku punya posisi strategis dalam geopolitik dunia. Kenapa sih Iran gak ngejar dan gak berusaha memperjuangkan aku? Kan aku juga masih layak untuk Iran kejar dan aku punya value loh untuk kamu kejar.”
Iran bukanlah sebuah negara yang mudah diajak permainan drama tarik-ulur. Juga bukan negara yang dapat takluk, hingga mengalami psikosomatis, apalagi galau karena sikap pasif-agresif dunia Barat.
Iran dengan semua kode, sinyal-sinyal ambigu dan samar itu sadar betul bahwa dunia Barat tarik ulur dan bersikap pasif-agresif dengan Iran hingga hari ini, cuma Iran memutuskan untuk tidak terlibat drama remaja tarik-ulur dan pasif-agresif dunia Barat dalam diplomasi nuklir Iran.
Iran memutuskan untuk melangkah ke dunianya sendiri, Iran bertumbuh dewasa dan tidak mau berkubang air mata untuk sebuah hubungan manipulatif, penuh tarik-ulur, dan sikap pasif-agresif.
Seolah-olah Iran ingin mengatakan: “Memangnya gue selama ini gak tahu bahwa selama ini elo tarik-ulur? Gue tahu cuma gue gak mau gubris semua kode-kode dari elo! Cukup sudah untuk semua tarik-ulur! Aku hanya ingin berdialog dengan dunia Barat, kalau dunia Barat bersikap dewasa, terbuka, dan jujur dengan mengajak untuk memulai sebuah dialog yang setara.
Sebuah dialog yang kedua belah pihak mampu berkomunikasi setara, tanpa satu pihak ingin mengendalikan satu pihak dengan pihak lainnya dan mampu mengakui luka batin masing-masing meski luka batin itu belum sepenuhnya kering.”
Baca Juga: Ancaman Nuklir Belum Berakhir, Stok Uranium Iran Diduga Selamat dari Serangan AS-Israel
Negosiasi atau Perang Dingin Baru? Diplomasi yang Disulam dari Ketidakpercayaan
Dunia Barat seolah lupa bahwa Iran adalah sebuah negara yang memiliki sejarah ribuan tahun dari sejak Kekaisaran Persia hingga sekarang, sebuah peradaban tua yang mewarnai sejarah dunia.
Sejarah ribuan tahun Iran membuktikkan ke kita bahwa Iran bukanlah suatu kekuatan yang dapat diremehkan. Iran memiliki lokasi yang strategis dalam geopolitik dunia dan juga memiliki kekayaan migas.
Pasca Revolusi Islam Iran 1979 yang dipimpin oleh Imam Khomeini dan kini dilanjutkan oleh Imam Ali Khamene’i, Iran telah mencapai sejumlah capaian prestasi dengan berhasil mendidik dan memiliki SDM yang cukup baik, menghasilkan banyak ilmuwan dan filsuf.
Serta sudah memiliki teknologi yang tak kalah canggih dibandingkan negara tetangganya di Timur Tengah, Iran bahkan mampu mengkloning domba dan membuat drone serta rudal balistik mereka sendiri.
Juga memiliki jejaring proxy di Timur Tengah, merupakan sebuah kekuatan yang tidak bisa dianggap sebelah mata oleh dunia, terutama dunia Barat.
Tentu semua ini bukanlah hasil dari membalikkan telapak tangan, dari hasil perjuangan yang ditempa bertahun-tahun. Siapa pun yang membaca sejarah Revolusi Islam Iran akan tahu, revolusi ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini atau lazim disapa “Imam Khomeini” yang berjuang melawan kediktatoran Shah Reza Pahlevi, serta melawan hegemoni dunia Barat.
Imam Khomeini membangun kekuatan dan mengalami tekanan hingga tarik-ulur dengan rezim otoriter Shah Reza Pahlevi selama 40 tahun, setelah 40 tahun itulah akhirnya pada 1 Februari 1979 Imam Khomeini pulang ke Teheran setelah pengasingannya di Paris dan mendirikan pemerintahan revolusioner Islam Iran.
Sudah terbukti dan teruji oleh sejarah, Bapak Bangsa Iran “Imam Khomeini” adalah orang yang sangat kuat dalam permainan tarik-ulur, bila tidak bagaimana ia mampu 40 tahun melawan kekuasaan otoriter Shah Reza Pahlevi? Sudah jelas bahwa tarik-ulur bukanlah kelasnya Iran.
Sayangnya hari ini Barat tidak siap untuk itu, Iran pun kemudian memutuskan untuk melangkah membangun dunianya sendiri dengan melanjutkan program nuklirnya.
Ketika Iran diserang oleh bom dan drone, juga ilmuwan nuklir dan para jenderalnya dibunuh oleh Israel serta Amerika Serikat semata hanya untuk menghentikan program nuklirnya.
Iran mampu membalas dengan rudal balistik “sijil” yang ternyata mampu menggemparkan Amerika Serikat dan Israel, serta mengguncang ego mereka.
Akhirnya mereka pun sadar bahwa Iran bukan lagi Iran masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang mampu dimanipulasi dan disetir oleh dunia Barat.
Iran kini, Iran yang berbeda dengan Iran yang mereka kenal dan hal ini sangat mengguncang ego dunia Barat.
Sayangnya dunia Barat masih denial serta egonya terguncang dan mereka masih berharap validasi dari Iran, tanpa sadar bahwa Iran kini bukan lagi Iran yang mereka kenal. Namun gengsi dunia Barat masih berat mengakui bahwa Iran yang mereka remehkan kini telah berubah.
Meski Iran sempat menjadi negara dengan sanksi dan embargo terbanyak di dunia (sebelum akhirnya Rusia mengalahkan rekor ini karena Perang Rusia-Ukraina yang dimulai 2022), namun sanksi, embargo, dan silent treatment dunia Barat tidak sekalipun jua mampu menghentikan langkah Iran.
Iran unik dengan caranya sendiri, Iran mampu menghasilkan berbagai capaian prestasi di berbagai bidang meski di tengah sanksi internasional dan embargo.
Bahkan di tengah situasi sulit, Iran tetap berusaha memperjuangkan idealismenya terutama dalam membebaskan Palestina dan sebagai kekuatan alternatif yang mampu mengimbangi hegemoni Barat, Iran membuktikkan diri konsisten dengan cita-cita Revolusi Islam 1979 sebagai negara yang membela kaum mustadh’afin (kaum tertindas) dalam melawan kaum mustakbirin (kaum penindas).
Hal ini membuat Iran mendapatkan simpati dari negara-negara yang hingga hari ini jengah dengan hegemoni dunia Barat seperti Rusia, Tiongkok, Korea Utara, dan bahkan sejumlah negara-negara berkembang.
Iran pun kemudian melangkah hanya untuk membina hubungan diplomatik dengan negara-negara yang siap menerima Iran apa adanya, Iran dengan segala keunikannya, dan Iran yang mampu bertumbuh menjadi dirinya sendiri.
Sebuah hubungan diplomatik yang dewasa tanpa luka batin, sebuah hubungan diplomatik di mana kedua belah pihak saling bertumbuh dan membesarkan dirinya tanpa hubungan yang manipulatif, pasif-agresif, saling mengontrol, dan ketidakjujuran serta penuh drama tarik-ulur.
Sayangnya sikap Iran yang tidak lagi mengejar dunia Barat, serta mampu bertumbuh sendiri meski dengan embargo, silent treatment, sikap pasif-agresif, dan tanpa drama tarik-ulur; malahan membuat dunia Barat cemas dan sulit menerima realita bahwa Iran kini telah berubah, dunia Barat masih termakan dengan ilusi dan realitanya sendiri serta bersikap denial terhadap Iran.
Walhasil dunia Barat mengalami disonansi kognitif dengan terus menerus memberikan kode-kode dan sinyal-sinyal ambigu hanya untuk menunjukkan ke Iran, meski dengan penuh gengsi dan tidak ingin harga dirinya terluka kalau berkomunikasi duluan.
Kurang lebih Barat ingin mengatakan: “Iran! Kamu jangan kemana-mana aku masih di sini, aku tahu kamu tidak menggubris aku, tapi bodo amat! Aku tetap akan kasih ratusan atau ribuan kali kode, meskipun kamu tidak menggubris! Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu masih ada di sini, masih memantaumu dari jauh.
Namun aku tidak bisa menghubungimu duluan, aku masih gengsi, masih ada ego dan aku takut diriku terluka, karena aku belum siap menerima versi dirimu yang sudah mulai bertumbuh dan berubah.
Aku takut diriku tidak cukup layak untuk menerima versi dirimu yang sudah berkembang. Meskipun caraku norak, biarin! Yang penting kamu tahu aku ada, serta masih punya value dan masih layak kamu anggap ada serta kamu kejar!”
Ratusan hingga ribuan kali kode-kode ataupun sinyal-sinyal ambigu itu tidak digubris oleh Iran dan Iran tidak bergeming serta memutuskan mantap melangkah untuk menjadi dirinya sendiri dengan melanjutkan program nuklirnya.
Dunia Barat lupa suatu fakta, bahwa Iran pun merupakan peradaban yang sudah ada selama ribuan tahun dan punya value sendiri. Iran unik dengan caranya, ia mampu bertumbuh dan berkembang sendiri tanpa mengharapkan validasi dan afirmasi dari dunia Barat. Iran tidak balas dendam dengan tarik-ulur dunia Barat, Iran tidak meminta dike
jar balik oleh dunia Barat, sebab Iran tidak ingin terlibat dalam drama tarik-ulur itu. Hanya satu yang Iran minta dan itu tak kunjung dipahami oleh dunia Barat, yakni sebuah dialog dan diplomasi yang dewasa serta setara tanpa tarik ulur, serta tanpa menyinggung luka batin masing-masing.
Iran mampu berdialog dengan memberikan ruang aman, dengan saling menerima luka batin masing-masing meskipun belum kering, dan juga sebuah area diplomatik yang tanpa dendam, serta siap untuk hubungan diplomatik jangka panjang tanpa saling menyalahkan di masa silam, Iran telah membuktikkan diri dalam normalisasi hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran pada tahun 2023. Hal ini menunjukkan Iran is too valuable to be ignored by the world.
Iran dan Mimpi Nuklir yang Dijaga Seperti Mimpi Terlarang
Seandainya nama negara itu bukan “Iran”, barangkali dunia tak akan seribut ini. Jika program nuklir itu dilakukan oleh Jerman, Korea Selatan, atau bahkan Brazil, kita mungkin hanya membaca berita soal kemajuan teknologi dan potensi energi alternatif.
Tapi karena negara itu bernama Iran—negara yang dengan lantang menolak dikendalikan Barat, menolak tunduk pada tata dunia pasca-Perang Dingin, dan tetap berani menyebut nama-nama seperti “Palestina” dan “imperialisme”—maka program nuklirnya berubah jadi neraka diplomatik.
Padahal, yang Iran kejar bukan bom. Yang mereka minta bukan hak untuk memusnahkan, melainkan hak untuk berkembang, berdiri, dan dihormati sebagai bangsa berdaulat. Mereka ingin mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai: tenaga listrik, riset medis, dan simbol kemajuan nasional.
Namun di mata Washington, Tel Aviv, dan sebagian Brussel, energi nuklir di tangan Iran seperti obor di tangan budak yang sedang memberontak. Bukan karena bahayanya, tapi karena simbolisme perlawanan yang tak bisa dikontrol.
Barat tidak takut pada nuklir. Mereka takut pada kemungkinan bahwa Iran—negara dengan sejarah peradaban ribuan tahun, kaya sumber daya, dan memiliki posisi geopolitik strategis—akan jadi terlalu mandiri.
Terlalu kuat. Terlalu sulit diatur. Dan karena itulah, tarik-ulur nuklir bukan sekadar soal pengayaan uranium. Ia adalah panggung psikologis antara peradaban yang mencoba bangkit, melawan dunia yang ingin tetap mendikte.
Diebntuknya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang berisikan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman pada 14 Juli 2015 sempat menjadi titik terang dalam diplomasi dunia terkait nuklir Iran.
JCPOA ini sering juga disebut P5+1, maksudnya ialah Permanent Five (5 Anggota Permanen Dewan Keamanan Tetap PBB) dan Plus One (+1), ialah Jerman; sebab Jerman bukanlah anggota Dewan Keamanan Tetap PBB. Dunia menyambutnya dengan lega, seolah-olah akhirnya drama bisa ditutup, sanksi bisa dicabut, dan Iran bisa kembali ke dalam sistem global.
Tapi sejarah membuktikan bahwa kepercayaan Barat pada Iran hanya ilusi sementara. Ketika Donald Trump membatalkan sepihak perjanjian itu di tahun 2018, Iran seperti diusir dari pesta yang baru saja ia masuki.
Sanksi kembali menghantam, ekonomi lumpuh, dan rakyat menderita bukan karena bom, tapi karena embargo obat dan makanan.
Kegilaan itu masih berlanjut hingga kini. Eropa yang dulu mengklaim sebagai penengah ternyata hanya bayangan pengecut dari Washington. Mereka tak mampu melindungi Iran dari sanksi AS, bahkan ketika Iran tetap patuh pada perjanjian.
Semua ini menjelaskan satu hal: bagi Barat, diplomasi dengan Iran bukanlah dialog sejajar, melainkan pengadilan abadi. Iran harus selalu membuktikan diri tak bersalah, sementara jaksa, hakim, dan algojonya adalah negara-negara yang pernah menjajah, menjatuhkan bom atom, dan menyimpan ratusan hulu ledak nuklir dalam diam.
Apa gunanya negosiasi, jika hasilnya adalah pengkhianatan? Apa maknanya diplomasi, jika satu pihak selalu dianggap bersalah, dan yang lain selalu benar? Iran mulai sadar bahwa negosiasi ini bukan jembatan, tapi jebakan.
Barat tak pernah berniat menyelesaikan persoalan nuklir. Yang mereka inginkan adalah penundukan.
Maka, Iran pun berbalik badan.
Ketika Iran Menghentikan Tarik-Ulur dan Memilih Tumbuh Sendiri
Tahun 2025 menjadi momen penting, bukan karena perang meledak, tapi karena Iran memutuskan berhenti ikut sandiwara.
Tidak lagi berharap pada perundingan-perundingan penuh kemunafikan.
Tidak lagi bersikap manis hanya untuk dipukul balik. Teheran menyatakan dengan tegas: kami akan melanjutkan program nuklir damai kami, dalam kerangka hukum internasional, tanpa perlu persetujuan dari kekuatan hegemonik manapun.
Ini bukan sekadar sikap teknis, ini adalah deklarasi eksistensial. Iran memilih tumbuh menjadi dirinya sendiri. Meski dihujani sanksi, diisolasi dari sistem keuangan global, dan dijadikan hantu oleh media Barat, Iran bertahan. Bahkan lebih dari itu—ia berkembang.
Dalam laboratorium-laboratoriumnya yang terus diawasi satelit, Iran memproduksi kebanggaan nasional: ilmuwan nuklir, teknologi mandiri, dan daya tahan yang sulit dipahami oleh dunia luar.
Yang tak pernah diperhitungkan oleh para penyusun strategi di Washington adalah bahwa tekanan maksimal tidak membunuh Iran—ia menguatkannya.
Dalam bahasa geopolitik, inilah transformasi: dari negara tertuduh menjadi negara disegani. Iran bukan lagi korban diplomasi nuklir. Ia adalah pembangkang yang bertahan, dan justru karena itu, dihormati.
Negara-negara yang selama ini muak pada standar ganda Barat mulai melirik Iran. Dari Rusia hingga Venezuela, dari gerakan perlawanan di Lebanon hingga rakyat di Gaza, Iran menjadi simbol bahwa mungkin, di dunia yang penuh kebohongan ini, masih ada satu negara yang tidak menjual diri demi kursi undangan dalam sistem global.
Standar Ganda yang Membusuk: Siapa Sebenarnya Ancaman Nuklir Dunia?
Mari kita jujur: jika yang dipersoalkan adalah “nuklir”, maka dunia punya banyak terdakwa. Amerika Serikat memiliki ribuan hulu ledak nuklir dan pernah menggunakannya terhadap manusia.
Israel memiliki program nuklir rahasia yang tak pernah diaudit IAEA, dan menolak menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Inggris dan Prancis menyimpan senjata pemusnah massal atas nama “deterrence”. Korea Utara telah menguji bom nuklir, namun tetap dilibatkan dalam negosiasi global.
Tetapi hanya satu negara yang secara konsisten diawasi, dicurigai, dan dihukum: Iran.
Bukan karena membangun senjata nuklir—karena Iran belum memilikinya dan belum menunjukkan bukti ke arah itu—melainkan karena keberaniannya untuk memiliki mimpi teknologi tanpa izin dari imperium.
Barat tidak sedang menjaga dunia dari kehancuran. Mereka sedang menjaga hierarki. Bagi mereka, hak memiliki pengetahuan tinggi hanyalah milik negara-negara tertentu.
Negara-negara yang pernah menjajah. Negara-negara yang pernah membakar dunia. Negara-negara yang kini berdiri di podium moral, padahal kakinya berlumuran darah sejarah.
Iran tidak ingin bom. Tapi Iran ingin martabat. Dan itulah yang tidak bisa diterima oleh dunia yang dibangun di atas kolonialisme yang belum tuntas.
Penutup: Iran dan Jalan Sunyi Peradaban
Iran hari ini bukan Iran 20 tahun lalu. Ia bukan negara yang berharap pada janji-janji palsu diplomat Eropa.
Ia bukan lagi pemain cadangan dalam teater global. Ia adalah negara yang telah melalui badai, dan tidak tenggelam.
Yang bertahan bukan karena kompromi, tapi karena keyakinan pada hak untuk berdiri sendiri.
Bukanlah sebuah negara yang mampu untuk dimainkan dalam drama tarik-ulur, sikap pasif-agresif, tekanan, embargo, sanksi, ataupun silent treatment dari Barat.
Dunia mungkin belum siap menerima Iran sebagai kekuatan sah. Tapi dunia tak lagi bisa mengabaikannya.
Justru karena Iran berhenti bermain dalam tarik-ulur itulah ia tumbuh. Justru karena ia memilih jalan sunyi dan Iran serta mengambil sikap tegas, dunia mulai mendengarnya.
Sejarah nanti akan mencatat: Iran tidak pernah diizinkan memiliki nuklir, bahkan yang damai, bukan karena bahayanya—tetapi karena keberaniannya untuk menentang dunia yang tak adil.
Dan dari semua itu, Iran tak hanya keluar dengan reaktor dan sentrifugal. Ia keluar dengan sesuatu yang lebih berbahaya bagi tatanan lama: martabat yang tidak bisa dibungkam.
Irsyad Mohammad
Pengamat Timur Tengah dan Geopolitik Prolog Initiatives
Alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








