AKURAT.CO Ketua Komisi IV DPR, Titiek Soeharto, melayangkan kritik keras kepada Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, terkait temuan kayu gelondongan yang terseret banjir di sejumlah daerah di Pulau Sumatera.
Dalam rapat kerja, Titiek menyebut fenomena itu sebagai bukti vulgar keserakahan dan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas penebangan hutan.
"Terus terang saya sedih, ngenes menyimak. Bayangkan kayu sebesar itu, diameter satu setengah meter, itu perlu puluhan tahun untuk tumbuh. Ini manusia mana di Indonesia ini yang seenaknya dengan serakah memotong-motong kayu seperti itu," katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Baca Juga: Supermoon Picu Banjir Rob di Jakarta, 16 RT dan 3 Ruas Jalan Terendam
Titiek menilai pohon-pohon besar yang selama ini menahan erosi dan menjaga kualitas udara telah diperlakukan semena-mena.
Titiek juga menyoroti temuan truk pengangkut kayu balak yang terekam melintas di jalan raya hanya dua hari setelah banjir besar terjadi. Ia menyebut kejadian itu sebagai bentuk pelecehan terhadap akal sehat publik.
"Itu truk lewat dengan kayu balak. Sungguh menyakitkan. Ini kalau orang Jawa bilang, ngece, mengejek rakyat Indonesia," ujarnya.
Ia mendesak Menhut mengusut tuntas perusahaan yang diduga terlibat dan memastikan tidak ada lagi penebangan pohon-pohon besar.
Baca Juga: Puan ke Ketua CPPCC: Krisis Iklim Makin Parah, Indonesia dan Asia Tenggara Diterjang Banjir-Longsor
"Tolong, jangan ada pohon-pohon besar lagi yang ditebang. Hentikan semua ini. Kami tidak mau ada alasan moratorium lagi," ujarnya.
Selain itu, Titiek menyinggung maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan yang menurutnya membuat kawasan hutan gundul secara masif.
Ia meminta pemerintah memperketat syarat dan izin agar pembabatan hutan tidak terjadi tanpa kendali.
"Gundulnya bukan sedikit. Ini akibat land clearing. Jangan kita biarkan begitu saja," katanya.
Baca Juga: Puan: Pemerintah Fokus Tanggap Darurat Banjir Sumatera, Evaluasi Izin Hutan Menyusul
Titiek menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi sudah menyangkut harga diri bangsa. Ia meminta Menhut bertindak tegas tanpa pandang bulu.
"Siapa pun itu kalau merusak tanah dan hutan kita, tindak pak. Bapak enggak usah takut, kami di belakang Bapak,” tutupnya.