Akurat

Menteri PPPA Ingatkan Pentingnya Ekosistem Digital yang Aman dan Mendidik bagi Anak

Ahada Ramadhana | 18 Juli 2025, 00:01 WIB
Menteri PPPA Ingatkan Pentingnya Ekosistem Digital yang Aman dan Mendidik bagi Anak

AKURAT.CO Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan pentingnya membangun ekosistem digital yang ramah anak, di tengah pesatnya arus digitalisasi.
 
Saat ini, banyak anak yang menjelajahi ruang maya tanpa perlindungan dan pendampingan, sehingga rentan menghadapi berbagai risiko. Maka, perlindungan dan dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan anak di era digital.
 
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang juga berinvestasi terhadap pengembangan sumber daya manusianya, termasuk anak. Hal ini sejalan dengan Asta Cita, delapan misi utama yang menjadi arah pembangunan nasional dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045," kata Arifah, dalam keterangannya, Kamis (17/7/2025).

Baca Juga: Maraknya Sertifikasi TIK Palsu: Ancaman Nyata terhadap Keamanan Digital dan Ketahanan Nasional

Dia mengatakan, komitmen tersebut diwujudkan lebih lanjut dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, terutama pada Prioritas Nasional keempat.

"Kami mengapresiasi civitas akademika Universitas Negeri Malang atas komitmen nyata dalam mengembangkan pengetahuan dan riset perlindungan anak di era digital. Ini merupakan wujud peran nyata kampus sebagai agen perubahan yang turut membangun kesadaran publik, mendorong kebijakan berbasis bukti, serta memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat," jelasnya. 
 
Berdasarkan data Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, 1 dari 7 anak Indonesia pernah mengalami perundungan siber. Bahkan, 4 dari 100 anak pernah menjadi korban kekerasan seksual melalui daring.

"Hanya 37 persen anak yang pernah mendapatkan edukasi tentang keamanan digital," katanya.
 
Melihat fenomena tersebut, Menteri PPPA menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak tumbuh dalam ekosistem digital yang aman, sehat, dan mendidik.

Oleh karena itu, dalam rangka Hari Anak Nasional Tahun 2025, Kemen PPPA mengangkat subtema 'Anak Cerdas Digital: Aman dan Positif di Dunia Maya'. Subtema ini merefleksikan realitas bahwa anak-anak Indonesia hari ini hidup dalam dunia digital, sehingga upaya perlindungan harus segera dilakukan.
 
"Tema Hari Anak Nasional tahun 2025, yaitu 'Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045', mengajak kita semua memperkuat peran dalam perlindungan dan penguatan karakter anak. Mari kita jadikan peringatan Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk memperkuat sinergi keluarga, sekolah, masyarakat, akademisi, dunia bisnis, dan pemerintah untuk membangun ruang digital yang berpihak kepada anak," tutur Arifah.

Baca Juga: Hari Emoji Sedunia 17 Juli: Simbol Ekspresi Emosi di Era Digital
 
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, hampir 80 persen masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet. Tidak hanya itu, Indonesia juga berada pada peringkat ketiga frekuensi kunjungan ke aplikasi kecerdasan artifisial.

"Screen time sudah lebih dari 7 jam per hari. Kemudian, sepertiga anak usia dini sudah familiar dengan internet," kata Pratikno.
 
Menurutnya,, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, tren anak usia 7-17 tahun yang mengakses internet meningkat dari 55,07 persen pada 2020 menjadi 74,85 persen pada 2024.

"Terutama untuk hiburan. Scrolling tidak memicu untuk berpikir dan seringkali isinya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini yang harus diwaspadai. Implikasinya secara umum bagi anak, seperti stres, tidak fokus, dan adiktif," ujarnya.
 
Pihaknya pun mengembangkan program 'Bijak dan Cerdas Menggunakan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial' sebagai komitmen meningkatkan literasi digital di berbagai lapisan masyarakat, melindungi kelompok rentan dari kekerasan dan diskriminasi berbasis teknologi, dan melestarikan budaya nasional agar beradaptasi dengan kemajuan teknologi modern.

"Bijak artinya tidak cepat percaya, punya daya kritis, melakukan verifikasi, dan memanfaatkannya untuk tujuan kebaikan. Kecerdasan buatan untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, nelayan," tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.