Gandeng China, Kemenperin Genjot Pengembangan SDM Industri Lewat Vokasi dan Kelas Bahasa Mandarin

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia serius ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor industri. Melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kerja sama internasional pun terus digenjot. Kali ini, China jadi mitra strategis dalam misi menciptakan SDM yang siap bersaing di kancah global.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa SDM yang mumpuni adalah salah satu kunci untuk memacu sektor industri agar makin kuat menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
"Makanya kami terus perkuat kerja sama, salah satunya dengan China, demi menghadirkan SDM industri yang berdaya saing," ujar Agus di Jakarta, Rabu (15/4/2025).
Baca Juga: Kuota Impor Gula Rafinasi Turun, Kemenperin: Tren Hidup Sehat
Indonesia dan China sendiri sudah punya hubungan kerja sama lebih dari 75 tahun. Kini, kerja sama itu makin erat, termasuk di sektor pengembangan vokasi industri.
Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) bergerak aktif menjalin sinergi dengan berbagai perusahaan dan institusi pendidikan di China.
Salah satu langkah nyata terlihat dari kolaborasi antara Politeknik ATK Yogyakarta, Sailun Group (perusahaan ban asal China), dan Qingdao Technical College (QTC). Ketiganya baru saja meluncurkan program kelas bahasa Mandarin pertama di bawah payung kerja sama Luban-Mozi College.
Kelas ini bukan sekadar ajang belajar bahasa, tapi jadi jembatan penting untuk memperbesar peluang mahasiswa dalam menjalani praktik kerja industri (prakerin) hingga potensi kerja di China.
Menurut Kepala BPSDMI, Masrokhan, kerja sama ini bukti bahwa kedua negara punya visi yang sama soal pentingnya membangun SDM industri masa depan.
"Kelas Mandarin ini jadi awal yang baik. Ini bukan hanya soal bahasa, tapi juga membangun kesiapan mental dan keterampilan mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang makin global," ungkap Masrokhan.
Baca Juga: DPR Dukung Sikap Tegas Kemenperin: iPhone 16 Tertahan di Indonesia karena Tak Penuhi TKDN
Dukungan pun datang dari Wakil Presiden QTC, Liu Hong, yang mengapresiasi semua pihak atas kerja sama tripartit ini. Dirinya menyebut kerja sama tersebut sejatinya sudah mulai dibangun sejak November 2024, ketika Presiden QTC dan pemimpin Sailun Group datang langsung ke Politeknik ATK Yogyakarta.
Liu berharap ke depan sinergi ini bisa terus berkembang, tak cuma sebatas pelatihan bahasa atau praktik kerja, tapi juga bisa merambah ke penelitian ilmiah, pengembangan inovasi, dan pertukaran budaya. Semua itu dibingkai dalam platform yang disebut Luban-Mozi College.
Program ini jadi contoh konkret dari strategi Kemenperin dalam menyiapkan SDM yang bisa mengikuti perkembangan zaman. Apalagi industri saat ini makin terdigitalisasi dan menuntut talenta-talenta yang tidak hanya jago teknis, tapi juga punya kemampuan lintas budaya dan bahasa.
Dengan dukungan dari institusi pendidikan vokasi di bawah Kemenperin yang jumlahnya mencapai 22 unit, harapannya kerja sama semacam ini bisa digandakan di berbagai wilayah Indonesia. Targetnya tentu satu yakni menciptakan SDM industri yang bisa menjadi pemain utama, bukan hanya di pasar lokal tapi juga global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










