ASEAN-China Perkuat Kerja Sama Ekonomi di Tengah Gejolak Global

AKURAT.CO Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, menekankan pentingnya kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Republik Rakyat China (RRC) dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Pernyataan ini disampaikan dalam Pertemuan Konsultasi Khusus Menteri Ekonomi ASEAN dengan Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) yang digelar secara virtual.
Dalam forum tersebut, Wamendag Roro menegaskan bahwa penguatan sistem perdagangan multilateral menjadi kunci dalam menciptakan kestabilan ekonomi kawasan. Menurutnya, ASEAN dan China perlu berperan aktif dalam memperkuat peran World Trade Organization (WTO) demi mewujudkan perdagangan yang bebas, terbuka, inklusif, dan berbasis aturan.
“Indonesia mendukung posisi ASEAN untuk tetap netral dalam geopolitik global dan fokus pada kerja sama ekonomi. WTO harus menjadi pilar utama dalam menciptakan iklim perdagangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Roro dalam keterangan yang diterima, Rabu (21/5/2025).
Baca Juga: Kemendag Luncurkan UKM Pangan Award 2025, Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Global
Roro juga menyoroti pentingnya agar manfaat dari perdagangan global dapat dibagikan secara adil kepada seluruh negara anggota.
Dalam pertemuan tersebut, Wamendag juga didampingi oleh Staf Ahli Hubungan Internasional Johni Martha serta Direktur Perundingan ASEAN, Nugraheni Prasetya Hastuti. Hadir pula Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN dari Kementerian Luar Negeri, Adhyanti Sardanarini Wirajuda.
Roro menyampaikan bahwa ASEAN dan China sudah memiliki landasan kerja sama ekonomi yang kuat melalui dua perjanjian utama, yaitu ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Kedua kerangka tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan perubahan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dirinya juga menyambut baik pencapaian substansial dalam proses peningkatan perjanjian ACFTA 3.0.
Menurutnya, pembaruan ini membawa angin segar karena memasukkan bidang-bidang kerja sama baru seperti ekonomi digital, ekonomi hijau, dan konektivitas rantai pasokan, yang mencerminkan modernisasi perjanjian tersebut.
Baca Juga: Gandeng Kemendag, Astra Luncurkan Program UMKM BISA Ekspor ke Pasar Global
“Ini menunjukkan bahwa ACFTA telah bertransformasi menjadi perjanjian yang lebih adaptif dan responsif terhadap tantangan global,” kata Roro.
Roro menilai, sektor-sektor baru tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun ekonomi kawasan yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Lebih jauh, ASEAN memilih untuk menekankan penguatan kerja sama ekonomi dengan China ketimbang menerapkan langkah balasan terhadap dinamika eksternal. Kebijakan ini merujuk pada hasil kesepakatan Special AEM dan Special SEOM pada April 2025 lalu, yang menyepakati pendekatan konstruktif dalam merespons ketidakpastian global.
Pertemuan ini dipimpin oleh Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia, Tengku Datuk Seri Utama Zafrul Tengku Abdul Aziz, selaku Ketua AEM. Dari pihak China, Menteri Perdagangan Wang Wentao turut hadir, bersama para Menteri Ekonomi negara anggota ASEAN dan Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, total nilai perdagangan antara China dan ASEAN pada 2023 mencapai USD521,8 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor China ke ASEAN mencapai USD297 miliar, sementara impornya tercatat sebesar USD223,9 miliar.
Komoditas utama ekspor China ke ASEAN meliputi sirkuit terpadu elektronik, telepon genggam, minyak bumi, mesin pemroses data, dan modul layar datar. Sementara itu, impor dari ASEAN ke Tiongkok mencakup sirkuit terpadu, minyak mentah, modul layar datar, besi paduan, serta mesin pemroses data.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










