Strategi BRIVolution Reignite BRI Dorong BRImo Tembus 45,9 Juta User

AKURAT.CO Di tengah kompetisi industri perbankan yang makin agresif dan terdigitalisasi, transformasi BRI 2025 menjadi salah satu strategi paling ambisius di sektor keuangan nasional.
Bank Rakyat Indonesia meluncurkan agenda besar bertajuk “BRIVolution Reignite” pada April 2025 sebagai respons atas tekanan likuiditas, disrupsi digital banking, serta perubahan perilaku nasabah generasi muda.
Strategi ini tak sekadar rebranding, tetapi reposisi model bisnis berbasis penguatan dana murah (CASA), optimalisasi BRImo, dan ekspansi ekosistem pembayaran digital.
Baca Juga: Perpanjangan Dana SAL Rp200 Triliun Perkuat Likuiditas dan Pertumbuhan Kredit di 2026
Dengan laba bersih mencapai Rp57,132 triliun sepanjang 2025, transformasi ini menjadi fondasi pertumbuhan BRI di 2026 sekaligus memperkuat daya saing bank pelat merah tersebut di era perbankan digital Indonesia.
Reposisi Model Bisnis di Era Digital
Direktur Utama BRI, Hery, menegaskan bahwa transformasi ini bukan perubahan kosmetik. “Reignite artinya dibakar kembali semangatnya. Revolution-nya kita push agar lebih kuat dan berdaya saing,” ujarnya dalam Konferensi Pers yang dilakukan secara daring, Kamis (26/2/2026).
Transformasi BRI bertumpu pada dua pilar utama, yakni Transform The Funding Franchise serta Repair Existing Core & Build New Core.
Dua pilar ini menjadi kerangka strategis untuk memperkuat struktur pendanaan sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru di luar model bisnis konvensional.
Perkuat Dana Murah dan Transaction Banking
Pada pilar pertama, BRI memprioritaskan penguatan struktur pendanaan berbasis dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Strategi ini krusial karena dana murah menekan cost of fund dan memperlebar margin bunga bersih (NIM).
Optimalisasi dilakukan melalui kanal digital seperti BRImo serta penguatan ekosistem pembayaran merchant. Pendekatan ini menyasar peningkatan frekuensi transaksi, bukan hanya akuisisi rekening baru.
Hingga akhir 2025, pengguna BRImo tercatat mencapai 45,9 juta user, tumbuh 19 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan percepatan adopsi digital banking di segmen ritel dan UMKM.
Sementara itu, volume transaksi merchant BRI melonjak 48,5% menjadi Rp223,2 triliun. Lonjakan ini menunjukkan penguatan peran BRI dalam sistem pembayaran domestik. “Pendekatan ini tidak hanya memperluas basis nasabah, tetapi juga memperdalam interaksi dan volume transaksi,” kata Hery.
Secara struktural, strategi ini memperkuat likuiditas sekaligus meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Perbaikan Kualitas Aset dan Manajemen Risiko Modern
Di sisi lain, BRI menjalankan pilar kedua melalui penguatan kualitas aset. Strategi ini dilakukan lewat disiplin kredit yang lebih granular dan berbasis data analytics.
Bank menerapkan early warning system serta risk management modern untuk memitigasi potensi kenaikan non-performing loan (NPL). Pendekatan berbasis data menjadi krusial di tengah volatilitas ekonomi global dan dinamika suku bunga.
Transformasi ini bertujuan menjaga pertumbuhan kredit tetap ekspansif, namun terkendali secara risiko.
Dari KPR hingga Wealth Management
BRI juga membangun mesin pertumbuhan baru (new growth engine) melalui penguatan bisnis konsumer.
Fokus diarahkan pada produk KPR, auto loan, payroll loan, hingga layanan wealth management. Langkah ini menandai diversifikasi sumber pendapatan, terutama untuk menjangkau kelas menengah produktif usia 25–40 tahun yang semakin melek investasi.
Tak hanya itu, BRI memperluas ekosistem emas melalui sinergi dengan Pegadaian. Kolaborasi ini mencakup layanan bullion dan integrasi digital, memperkuat penetrasi bisnis emas sebagai alternatif lindung nilai (hedging) masyarakat. Ekosistem emas dinilai potensial karena tren investasi berbasis aset riil terus meningkat di tengah ketidakpastian global.
Transformasi ini diperkuat dengan corporate rebranding bertajuk “Satu Bank untuk Semua”. Identitas baru tersebut menegaskan posisi BRI sebagai bank universal yang melayani seluruh segmen, dari UMKM hingga korporasi dan individu affluent.
“BRI tetap tumbuh bersama rakyat, tetapi kini dengan kapabilitas yang lebih modern, digital, dan inklusif,” tegas Hery.
Rebranding ini penting untuk memperluas persepsi publik bahwa BRI bukan sekadar bank mikro, tetapi institusi keuangan dengan spektrum layanan lengkap.
Modal Ekspansi 2026
Kinerja keuangan menjadi validasi strategi transformasi. Sepanjang 2025, BRI membukukan laba bersih Rp57,132 triliun.
Angka ini menjadi pijakan strategis untuk menjaga pertumbuhan sehat pada 2026 dan seterusnya.
Dengan likuiditas kuat, digital user base yang besar, serta diversifikasi bisnis konsumer dan emas, BRI memiliki bantalan yang memadai menghadapi siklus ekonomi berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










