Bos BRI Optimitis Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026 Tembus 5,2 Persen, Ini Pendorongnya

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan mengalami moderasi pada 2026 di kisaran 3%. Di tengah perlambatan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru dinilai tetap resilien dan berada di jalur positif.
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Hery Gunardi, menegaskan bahwa ekonomi domestik masih ditopang permintaan dalam negeri yang kuat, stabilitas makro yang terjaga, serta kinerja industri perbankan yang solid.
Menurut Hery, pada 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1% dan diproyeksikan semakin solid pada 2026 menjadi sekitar 5,2%. Angka ini menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global, sekaligus memperkuat optimisme pelaku usaha dan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia 2026.
Baca Juga: Strategi BRIVolution Reignite BRI Dorong BRImo Tembus 45,9 Juta User
“Tahun 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1 persen dan diproyeksikan semakin solid pada 2026 mencapai sekitar 5,2 persen yang ditopang oleh permintaan domestik yang kuat,” ujar Hery dalam Konferensi Pers yang dilakukan secara daring, Kamis (26/2/2026).
Stabilitas Makro Menjadi Kunci Pertumbuhan
Hery menekankan bahwa stabilitas makroekonomi menjadi faktor kunci menjaga momentum pertumbuhan. Inflasi Indonesia pada 2025 tercatat tetap terkendali di sekitar 2,9% dan diproyeksikan stabil pada 2026.
Kondisi ini dinilai sejalan dengan target Bank Indonesia. Stabilitas inflasi tersebut membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit dan konsumsi.
“Kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, serta konsumsi domestik yang kuat menciptakan fondasi ekonomi yang kokoh,” kata Hery.
Dengan inflasi rendah dan suku bunga yang berpotensi lebih fleksibel, sektor riil memiliki ruang untuk ekspansi, sementara industri perbankan dapat memperluas pembiayaan tanpa tekanan berlebihan pada sisi likuiditas.
Likuiditas Longgar, Permintaan Kredit Jadi Tantangan
Dari sisi likuiditas, industri perbankan mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 13,83% secara tahunan pada 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan ketersediaan dana yang cukup kuat untuk menopang ekspansi kredit.
Namun, pertumbuhan kredit nasional hingga Desember 2025 tercatat sebesar 9,6% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Artinya, perlambatan kredit bukan disebabkan keterbatasan dana.
“Data survei Bank Indonesia menunjukkan perlambatan kredit lebih dipengaruhi faktor demand. Tantangannya bukan pada supply dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha,” tegas Hery.
Dengan kata lain, tantangan utama perbankan pada 2026 terletak pada pemulihan kepercayaan pelaku usaha dan percepatan aktivitas bisnis, bukan pada kemampuan pembiayaan.
Kinerja BRI Lampaui Industri
Di tengah perlambatan kredit industri, BRI mencatat pertumbuhan yang relatif lebih tinggi. Hingga akhir 2025, kredit BRI tumbuh 12,3% secara tahunan menjadi Rp1.521 triliun.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level 3,07%. Sementara itu, loan at risk (LAR) turun dari 10,7% menjadi 9,6%, mencerminkan perbaikan profil risiko.
Fundamental BRI juga menunjukkan penguatan. Total aset tumbuh 7,1% menjadi Rp2.135 triliun. DPK meningkat 7,4% menjadi Rp1.467 triliun, dengan cost of fund membaik ke level 2,9% dari sebelumnya 3,1%.
“Kombinasi pertumbuhan aset yang sehat, likuiditas kuat, kualitas kredit terjaga, dan profitabilitas stabil menjadi fondasi bagi industri perbankan untuk melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan pada 2026,” ujar Hery.
BRI menutup 2025 dengan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,132 triliun. Capaian ini mempertegas posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan fundamental paling solid di tengah dinamika ekonomi global.
Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di level 5,2%, stabilitas inflasi di bawah 3%, serta likuiditas perbankan yang memadai, fondasi ekonomi nasional dinilai cukup kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










