Paradoks Kelas Menengah: Terlalu Kaya untuk Bansos, Terlalu Miskin untuk Guncangan

AKURAT.CO Pagi bagi kelas menengah selalu dimulai dengan angka.
Angka di layar ponsel.
Angka di notifikasi bank.
Angka di tagihan listrik.
Angka di cicilan rumah.
Angka di daftar belanja.
Angka-angka itu seperti burung kecil yang hinggap di bahu sejak fajar, memang tidak berisik, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.
Dari luar, hidup mereka tampak rapi. Baju kerja disetrika, sepatu disemir, kartu akses kantor tergantung di dada seperti tanda bahwa hidup seakan sudah berada di jalur yang benar.
Baca Juga: Ekonomi Bertumpu pada Bahu yang Kian Lelah, Kelas Menengah Bagaimana Kabarnya?
Mereka memenuhi lift gedung perkantoran, memadati kereta komuter, duduk tegak di balik meja, menatap layar dengan disiplin. Mereka disebut kelas menengah, sebuah istilah yang terdengar hangat, aman bahkan nyaris terhormat.
Padahal, di balik istilah itu, ada 'Jembatan gantung yang berderit pelan'.
Kelas menengah Indonesia saat ini berdiri di atas jembatan tersebut. Terlihat kokoh dari kejauhan, tetapi bergantung pada kabel-kabel tipis bernama gaji bulanan, bonus tahunan, dan harapan bahwa besok tak ada kabar buruk.
Mereka bukan kelompok miskin. Rekening masih berisi. Kartu kredit masih bisa digesek. Anak masih sekolah. Motor atau mobil masih bisa menyala. Namun hidup mereka berjalan di atas garis tipis yang nyaris tak terlihat.
Satu kabar PHK.
Satu anggota keluarga sakit.
Satu cicilan yang tersendat.
Dan garis tersebut pun bisa berubah menjadi jurang.
Di tingkat makro, konsumsi rumah tangga memang menjadi mesin utama ekonomi Indonesia. Dalam struktur PDB nasional, belanja rumah tangga menyumbang lebih dari separuh total pembentukan ekonomi.
Baca Juga: Mengenal 'HENRY', Si Kelas Menengah Terlihat Mapan Tapi Paling Rentan
Artinya, denyut ekonomi Indonesia berdetak dari dompet jutaan keluarga terutama kelas menengah.
Namun di dapur rumah tangga, ekonomi tidak berbicara dalam bahasa grafik. Ia berbicara dalam kalimat pendek “cukup atau tidak bulan ini?”
Tulang Punggung yang Diam-Diam Retak
Secara demografi ekonomi, kelas menengah bukan kelompok kecil. Jika digabung dengan mereka yang “menuju kelas menengah”, jumlahnya mencapai sekitar dua pertiga penduduk Indonesia.
Sehingga kelompok inilah yang menyumbang lebih dari 80% konsumsi rumah tangga nasional, merekalah pasar utama negeri ini. Namun sayangnya angka lain menyelipkan kegelisahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penduduk yang benar-benar berada di kategori kelas menengah menyusut.
Mengutip dari laman Badan Pusat Statistik (BPS), dari kisaran 57 juta orang sebelum pandemi, jumlahnya turun menjadi sekitar 48 juta orang beberapa tahun sesudahnya. Artinya, jutaan orang bergeser turun ke kelompok yang lebih rentan secara ekonomi.
Secara definisi statistik, kelas menengah ditentukan berdasarkan pengeluaran per kapita yang hanya beberapa kali lipat di atas garis kemiskinan.
Jarak mereka dari batas bawah itu tidak lebar. Rata-rata pengeluaran mereka hanya sedikit di atas ambang masuk kelompok rentan sehingga membuat posisi ekonomi mereka mudah tergelincir bila terjadi guncangan pendapatan atau kenaikan biaya hidup.
Secara tidak langsung mereka terlihat berdiri di tanah padat, tetapi tanah tersebut lembap. Jejak kaki mudah tenggelam ketika beban bertambah.
Ketika Konsumsi Menjadi Napas Bertahan
Mereka disebut tulang punggung konsumsi. Tetapi belanja bagi kelas menengah kini bukan lagi tentang gaya hidup melainkan tentang bertahan.
Struktur pengeluaran rumah tangga menunjukkan dominasi kebutuhan dasar: makanan, perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan utilitas. Ruang untuk menabung atau investasi mengecil. Sisa setelah kebutuhan pokok sering kali tipis.
Di meja makan, pertanyaan pun berubah. Bukan lagi “ingin apa?”, melainkan “masih sanggup apa?”.
Dompet mereka menjadi barometer ekonomi paling jujur. Ia tak peduli pidato optimisme atau target pertumbuhan. Ia hanya tahu isi yang makin cepat menyusut.
Secara data ekonomi Indonesia memang bertumbuh, tetapi pemulihan pascapandemi tidak dirasakan merata. Para ahli menyebut pola ini sebagai K-Shaped Recovery pemulihan yang membuat sebagian kelompok naik, sementara sebagian lain berjalan di tempat atau justru turun.
Kelompok yang memiliki aset, tabungan, dan ruang mengambil risiko lebih cepat memulihkan diri. Sementara kelas menengah yang bergantung pada gaji rutin dan konsumsi harian lebih sensitif terhadap tekanan harga, biaya pendidikan, cicilan, dan ketidakpastian kerja.
Mereka tidak cukup miskin untuk mendapat prioritas bantuan sosial. Tetapi juga tidak cukup kuat untuk kebal dari guncangan. Mereka adalah anak tangga tengah yang diinjak semua orang, tetapi jarang diperhatikan.
Kelelahan yang Tidak Tercatat di Statistik
Nyatanya kelelahan kelas menengah bukan kelelahan fisik. Ia adalah lelah yang tumbuh diam-diam: lelah dalam menghitung, lelah untuk menyesuaikan hingga pada akhirnya lelah dalam menahan.
Lelah karena setiap keputusan kecil membawa konsekuensi besar.
Lelah karena rencana jangka panjang selalu diganggu kebutuhan jangka pendek.
Lelah karena masa depan terasa seperti kabut, bukan peta.
Namun kelelahan itu tidak pernah diprotes keras. Ia hadir sebagai keluhan pelan di grup keluarga, sebagai tawa getir saat harga naik, sebagai kalimat pendek: “yang penting cukup.”
Ironisnya, justru kelompok inilah yang menopang ekonomi paling besar. Mereka membeli, mencicil, membayar pajak, dan menjaga sirkulasi uang tetap bergerak. Tanpa konsumsi mereka, pertumbuhan ekonomi akan melambat.
Namun pilar ini mulai retak halus. Retak itu tidak terdengar dalam laporan statistik bulanan. Tetapi terasa di ruang tamu rumah tangga ketika tabungan makin tipis, ketika rencana jangka panjang ditunda, ketika biaya pendidikan menjadi percakapan paling serius di meja makan.
Sebab apabila pilar ini goyah, seluruh bangunan pun ikut bergetar. Meski berdiri di atas garis tipis, kelas menengah tetap memeluk harapan seperti anak kecil memeluk boneka usang. Harapan bahwa kerja keras masih berarti. Harapan bahwa pendidikan anak akan mengangkat derajat keluarga. Harapan bahwa badai hanya sementara.
Harapan itu mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk membuat mereka bangun lagi esok pagi, mengenakan jas rasa aman, dan kembali melangkah di jembatan gantung itu.
Secara keseluruhan kelas menengah bukan sekadar kategori statistik. Mereka adalah wajah dari stabilitas ekonomi, sekaligus titik paling rentan dalam struktur sosial ekonomi.
Di tangan merekalah konsumsi berdenyut.
Di bahu merekalah ekonomi bersandar.
Dan di kecemasan merekalah masa depan negeri diuji.
Mereka dari luar memang tampak biasa saja. Padahal merekalah garis tipis antara ekonomi yang berjalan… dan ekonomi yang goyah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









