Mengenal 'HENRY', Si Kelas Menengah Terlihat Mapan Tapi Paling Rentan

AKURAT.CO HENRY, singkatan dari High Earners, Not Rich Yet, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang dengan penghasilan besar tetapi belum benar-benar kaya meskipun gaji mereka tinggi.
Umumnya, seorang HENRY adalah individu atau keluarga yang:
- Mendapatkan gaji tahunan USD250.000–500.000 (Rp3,7–7,4 miliar/tahun)
- Sebagian besar pendapatannya untuk tagihan, pajak, pendidikan, gaya hidup
- Belum punya tabungan atau investasi besar, sulit disebut kaya secara finansial
Istilah ini pertama kali populer di artikel Majalah Fortune pada tahun 2003 untuk menggambarkan profesional berpenghasilan tinggi yang belum punya kekayaan besar.
Di Indonesia, HENRY adalah kelas menengah atau kaum pekerja kantoran. Mereka terlihat mapan karena ilusi gaji bulanan namun paling rentan karena tak kunjung mendapatkan dukungan ataupun insentif konkret dari pemerintah.
Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Tinggi Tak Mewakili Kelas Menengah, Fenomena Mantab dan Maut Masih Merajalela
Sekali saja di-PHK, pekerja kantoran terancam menganggur dalam waktu yang lama karena situasi perekonomian yang sedang sulit, sehingga bisa terjun bebas menjadi aspiring middle class.
Mengapa Penghasilan Tinggi Belum Menjadikannya Kaya?
1. Biaya Hidup yang Semakin Tinggi
Banyak HENRYs tinggal di kota besar dengan biaya hidup tinggi — mulai dari sewa rumah, transportasi, hingga pendidikan anak — sehingga banyak pendapatan habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
2. Pajak Penghasilan yang Besar
Pendapatan tinggi sering kali masuk dalam kategori pajak yang lebih tinggi, menyisakan lebih sedikit uang untuk ditabung atau diinvestasikan.
3. Utang Pelajar dan Kartu Kredit
Utang untuk pendidikan atau konsumtif seperti kartu kredit bisa menyedot pendapatan bulanan, membuat kemampuan menabung semakin tertekan.
4. Lifestyle Inflation (Menyesuaikan Gaya Hidup)
Saat gaji naik, seringkali gaya hidup naik juga — lebih sering makan di luar, beli barang branded, liburan lebih sering — tanpa peningkatan investasi. Ini disebut lifestyle inflation.
Perbedaan Antara HENRY dan Orang Kaya Sebenarnya
Seseorang yang kaya (wealthy) biasanya memiliki:
- Aset menghasilkan pendapatan (misalnya properti sewaan, saham, bisnis)
- Tabungan dan investasi besar untuk masa pensiun
- Kemampuan hidup tanpa bergantung pada gaji bulanan.
Sedangkan HENRY hanya memiliki pendapatan tinggi dari pekerjaan, tapi tidak memiliki cukup aset untuk mendukung kehidupan tanpa bekerja.
Ciri-Ciri Umum HENRY
- Pendapatan tinggi tetapi gaya hidup tetap serba “ketat”
- Tinggal di daerah dengan biaya tinggi
- Belum punya tabungan darurat besar
- Fokus pada pengeluaran, bukan investasi
- Merasa seperti “tidak cukup kaya” walau gajinya besar
7 Pemicu HENRY
HENRY tidak tiba-tiba lahir, melainkan berakar dari kebiasan atau pengelolaan keuangan buruk yang dipertahankan bertahun-tahun. Setidaknya ada 7 kesalahan finansial kelas menengah yang melahirkan HENRY.
1. Gaya Hidup Mengejar Gaji
Lifestyle creep atau gaya hidup yang mengikuti gaji bukanlah masalah disiplin semata melainkan hukum alam keuangan yang dikenal sebagai Parkinson's Law.
Pengeluaran akan terus membesar untuk menghabiskan pendapatan yang tersedia. Dulu dengan gaji Rp5 juta seseorang akan merasa cukup, namun dengan gaji Rp25 juta hari ini, yang dirasa justru pas-pasan.
Bukan karena uangnya kurang, tapi karena tak ada batas atau plafon yang jelas untuk gaya hidup. Berapapun gaji yang diterima akan selalu kurang untuk memenuhi gaya hidup.
Lifestyle creep juga dipicu rasa pantas, sebuah mekanisme psikologis yang sangat kuat. Seiring menanjaknya karier seseorang, ia akan berpikir dirinya pantas memiliki mobil lebih baru, rumah lebih besar, liburan mahal. Standar hidup pun naik perlahan. Ketika standar hidup sudah naik, perlu upaya ekstra untuk menurunkannya, sebuah jebakan nyata.
Jika dicermati, kekayaan sejatinya merupakan margin antara pendapatan dan pengeluaran. Namun apakah pengeluaran juga perlu naik 100% saat pendapatan seseorang naik 100% sehingga tak ada akumulasi kekayaan?
Orang kaya, di sisi lain fokus untuk mengunci gaya hidup lama mereka untuk mengakumulasi selisih kenaikan pendapatan dengan pengeluaran. Istilahnya, save the race, menahan diri hari ini agar memiliki kebebasan di masa mendatang.
Baca Juga: Napas Buatan untuk Kelas Menengah yang Kian Tenggelam
2. Belanja Demi Validasi Sosial
Kesalahan behavioral finance membuat banyak pengeluaran kelas menengah sudah tidak lagi untuk memenuhi fungsi, melainkan untuk memberikan sinyal ke lingkungan. Istilah ini dikenal sebagai Diderot Effect, dimana satu pembelian mahal akan memicu pembelian mahal lainnya.
Smartphone seri terbaru nan mahal tak akan lengkap rasanya tanpa smartwatch, earphone dan outfit yang mahal. Pola konsumsi seperti ini tidak akan menemui garis finish karena yang dituju bukan lagi kebutuhan akan pengakuan.
Lantas rantai berikutnya muncul istilah pajak gengsi, yang ditagihkan bukan oleh DJP Kemenkeu melainkan oleh lingkungan sosial dalam bentuk cicilan, bunga kredit dan lain sebagainya.
Kelas menengah rela membayar bunga mahal demi terlihat sukses, meski sistem keuangan tak pernah peduli dengan citra. Bank atau lembaga keuangan lainnya tak akan pernah peduli dengan seberapa rapi feed media sosial seseorang melainkan satu hal: cicilan dibayar tepat waktu.
Kemudian diperparah dengan butanya seseorang akan inflasi gaya hidup mereka sendiri. Biaya sekolah swasta anak, gadget, nongkrong naik belasan persen per tahun jauh lebih tinggi dari inflasi Indonesia.
Sederhananya, inflasi gaya hidup naik 10% namun imbal investasi hanya 5% per tahun, artinya seseorang sedang turun kelas meski secara nominal terlihat naik kelas. Daya beli real dan keamanan finansial perlahan tergerus. Solusinya, tambal ember yang bocor tersebut agar berapa banyakpun air yang mengisi ember tersebut akan benar-benar terkumpul bukan menguap.
3. Salah Mengelompokan Aset
Secara finansial, mobil contohnyamerupakan liabilitas yang menyamar karena nilainya akn terdepepresiasi 15% minimal begitu keluar dari dealer dan terus tergerus setiap tahun. Di saat yang sama, biaya pajak, asuransi, BBM dan service rutin terus keluar.
Mobil kerap menjadi sumber kebocoran terbesar kekayaan kelas menengah, bukan alat pembangun kekayaan. Untuk mengelola mobil, selalu gunakan aturan sepersepuluh. Idealnya total biaya mobil termasuk cicilan dan operasional kurang dari 10% pendapatan kotor dan harga mobil tak lebih dari 6 bulan gaji. Realitanya, banyak kelas menengah membeli mobil seharga 2 tahun gaji mereka.
4. Terlalu Cepat Membeli Rumah Lebih Besar
Dalam laporan keuangan arus kas, rumah masuk dalam liabilitas karena adanya komponen cicilan, pajak, perawatan ataupun renovasi. Jangan sampai cicilan rumah lebih dari 30% pendapatan bulanan karena akan menyumbat likuiditas dan kas tidak bergerak.
Fleksibilitas untuk pindah kantor ataupun alih profesi serta pengembangan karierpun tergadaikan. Di sinilah kelas menengah banyak terjerumus menjadi house poor, terlihat kaya karena punya rumah besar tapi miskin secara arus kas atau ketersediaan uang tunai.
Yang sering diabaikan adalah opportuniy cost, dimana ketimbang untuk membeli rumah lebih besar di usia dini, bisa tumbuh berlipat jika diinvestasikan ke aset produktif lefat efek compounding. Kekayaan tertahan di material rumah bukannya berkembang di aset.
5. Tak Bisa Membedakan Utang Produktif dan Utang Konsumtif
Utang produktif adalah utang yang dilunasi dari arus kas aset bukan dari hasil keringat seperti misalnya properti sewaan yang cicilannya dibayarkan oleh penyewa. Sementara utang konsumtif utang yang dibayar sendiri dari gaji termasuk paylater, kartu kredit dan sejenisnya.
Masalahnya, kelas menengah sering menormalisasi utang konsumtif, seolah hal itu wajar dan bagian dari hidup modern.
Solusinya, tegas dalam mendefinisikan aset dan dibuat dingin. Aset adalah semua yang konsisten mengakumulasi uang ke kas misalnya dividen saham, reksa dana, obligasi atupun bisnis lain yang menghasilkan arus kas. Sebaliknya semua yang secara rutin menggerus kas tetaplah liabilitas seindah apapun bentuknya.
6. Abai Dana Darurat
Seseorang yang memiliki dana darurat setara 12 bulan gaji di instrumen likuid tak perlu menjual portofolio investasinya yang sedang turun. Ia bahkan memiliki lebih banyak ruang untuk membeli lebih banyak aset saat harga pasar sedang diskon. Singkatnya, ia memiliki ketenangan pikiran dan ketenangan adalah bentuk kekayaan yang jarang dibicarakan.
Baca Juga: Kala Optimisme Ekonomi Tersenyum, Kelas Menengah Malah Tahan Napas
Portofolio investasi yang dibangun seseorang, dalam jangka 15 tahun akan menghasilkan arus kas pasif mendekati gajinya. Dengan demikian, ia saat itu bekerja karena pilihan, misalnya untuk mempertahankan gaya hidup, bukan lagi paksaan untuk memenuhi kebutuhan dasar tiap bulan.
7. Menunda Investasi
Di fase awal karier kelas menengah, aset utama mereka adalah sumber daya manusia atau human capital yaitu tenaga dan kemampuan. Namun hal ini akan menyusut seiring waktu, sehingga kelas menengah perlu mengonversinya menjadi financial capital sehingga asetlah yang akan bekerja saat tenaga mulai menurun.
Ada paradoks kelas menengah dalam memandang risiko, banyak yang takut melihat portofolio aset mereka turun sementara tapi selalu berani membeli barang yang pasti terdepresiasi. Mereka takut melihat nilai saham turun 5% tapi berani membeli mobil yang depresiasinya lebih dari 10% sejak hari pertama. Irasionalitas tersebut membutakan mereka terhadap risiko inflasi yang diam-diam menggerogoti daya beli dengan pasti.
Solusinya, ubah formula pengelolaan keuangan dari pemasukan dikurangi pengeluaran lalu sisanya ditabung, menjadi pemasukan dikurangi investasi baru dikurangi pengeluaran. Dengan begitu, kelas menengah terbiasa disiplin sejak awal.
4 Strategi untuk Meningkatkan Kekayaan HENRY
Kalau kamu termasuk HENRY atau ingin memaksimalkan potensi finansial, berikut strategi yang terbukti efektif:
- Buat Anggaran dan Target Keuangan: Mulai dengan anggaran realistis dan tetapkan target menabung & berinvestasi setiap bulan
- Kurangi Utang Berbunga Tinggi: Utang kartu kredit atau pinjaman konsumtif harus diprioritaskan dilunasi
- Maksimalkan Investasi Pajak Efisien: Kontribusi pada akun pensiun seperti IRA atau 401(k) dapat mengurangi taxable income sambil membangun aset
- Belajar Investasi Diversifikasi: Investasi di saham, reksa dana, atau properti dapat membantu transisi dari “pendapatan tinggi” ke “kekayaan.”
HENRY Adalah Fenomena Finansial Modern
HENRY tak sekadar label sosio-ekonomi — ia menggambarkan kontradiksi zaman modern: pendapatan tinggi tidak selalu berujung pada kekayaan sejati.
Tanpa disiplin finansial, investasi yang tepat, dan perencanaan jangka panjang, bahkan orang berpenghasilan enam digit bisa merasa “tidak cukup kaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










