Jangan Terjebak Zona Nyaman! Strategi Indonesia Lepas dari Middle Income Trap

AKURAT.CO Di tengah hiruk pikuk kerja, cicilan, dan kejar karier, banyak anak muda hari ini mungkin tak sadar sedang menjadi bagian dari kelas sosial yang paling rentan yakni kelas menengah.
Mereka bukan lagi golongan yang berjuang untuk keluar dari garis kemiskinan, tapi juga belum cukup kuat untuk disebut sejahtera. Ironisnya, di titik inilah banyak negara termasuk Indonesia sering “terjebak di tengah jalan.” Fenomena ini dikenal dengan istilah middle income trap, atau jebakan pendapatan menengah.
Istilah ini muncul untuk menggambarkan kondisi ketika sebuah negara sudah berhasil keluar dari status negara miskin, tapi kemudian gagal naik kelas menjadi negara maju. Ekonom menyebutnya jebakan karena perekonomian berhenti tumbuh, produktivitas stagnan, dan daya saing industri mulai kalah dari negara-negara yang lebih inovatif.
Masalahnya, jebakan ini tidak hanya soal angka ekonomi di laporan pemerintah. Dampaknya bisa terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gaji naik tapi harga kebutuhan ikut meroket. Peluang kerja terbuka, tapi karier terasa mentok. Industri tumbuh, tapi tidak menciptakan cukup banyak pekerjaan yang berkualitas. Semua ini jadi potret klasik bagaimana negara bisa terjebak di zona nyaman pertumbuhan tidak jatuh, tapi juga tak benar-benar melesat.
Baca Juga: RI Ingin Keluar dari Middle Income Trap, Kepala Bappenas: Sekarang Kesempatan Terakhir
Mengapa Jebakan Ini Bisa Terjadi?
Ada banyak faktor yang membuat sebuah negara sulit lepas dari jebakan pendapatan menengah. Salah satunya adalah kurangnya inovasi dan nilai tambah di sektor industri.
Negara berkembang sering bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam atau tenaga kerja murah. Saat biaya produksi naik dan teknologi berubah cepat, keunggulan itu pelan-pelan menghilang.
Faktor lain adalah ketimpangan dalam kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja. Ketika SDM tidak dibekali kemampuan digital, riset, atau teknologi, produktivitas pun sulit meningkat. Akibatnya, industri sulit bertransformasi ke arah yang lebih modern.
Masalah klasik lain adalah birokrasi yang lambat dan investasi yang tak merata. Ketika izin usaha berbelit, infrastruktur belum merata, dan kolaborasi riset tidak berjalan, roda ekonomi pun tersendat.
Indonesia dan Tantangan Menuju 2045
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia naik kelas menjadi negara maju tepat satu abad setelah kemerdekaan. Namun untuk sampai ke sana, Indonesia harus menembus satu tantangan besar, keluar dari middle income trap.
Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran US$5.000 atau masih jauh dari ambang negara maju yang berada di atas US$13.000. Namun, tantangan terbesarnya bukan sekadar mengejar angka, melainkan menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap produktif dan inklusif.
Kelas menengah Indonesia sendiri, yang seharusnya menjadi mesin konsumsi dan stabilitas ekonomi, justru mulai goyah.
Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, hingga kredit konsumtif membuat banyak keluarga menengah turun kelas. Berdasarkan data BPS, proporsi penduduk kelas menengah menurun dari sekitar 19,8% pada 2021 menjadi 17,1% pada 2024.
Di sisi lain, sektor manufaktur yang dulu jadi tulang punggung pembangunan belum pulih sepenuhnya. Saat ini, sektor tersebut hanya menyerap sekitar 13% tenaga kerja, kalah dari sektor perdagangan dan pertanian.
Padahal, negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah, seperti Korea Selatan dan Taiwan, justru menaruh fokus besar pada industrialisasi berbasis teknologi dan pendidikan tinggi.
Baca Juga: Keanggotaan RI di OECD Jadi Solusi Atasi Middle Income Trap, Ekonom: Perlu Disiapkan dengan Matang
Kunci Lepas dari Jebakan
Agar tidak terjebak terlalu lama di zona nyaman ekonomi, Indonesia harus berinvestasi besar pada manusia dan pengetahuan.
Pendidikan yang adaptif terhadap teknologi, riset yang relevan dengan kebutuhan industri, dan ekosistem startup yang mendorong kreativitas menjadi kunci utama.
Selain itu, transformasi digital perlu diperluas ke seluruh lapisan masyarakat. Digitalisasi bukan hanya tentang aplikasi dan internet cepat, tapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk mendorong efisiensi, inklusivitas, dan lapangan kerja baru.
Tidak kalah penting, birokrasi dan regulasi perlu disederhanakan. Negara-negara maju menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh cepat ketika ide dan inovasi tidak terhambat oleh tumpukan izin dan prosedur administratif.
Peran Generasi Muda
Bicara tentang masa depan ekonomi bukan hanya urusan pemerintah dan ekonom.
Generasi muda punya peran vital. Kita adalah kelompok yang akan menanggung beban atau menikmati hasil dari keberhasilan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Anak muda hari ini tidak cukup hanya menjadi tenaga kerja. Mereka harus menjadi pencipta nilai baru menjadi inovator, peneliti, pengusaha, atau bahkan birokrat yang berani mengubah sistem dari dalam.
Visi Indonesia Emas bukan hanya soal ekonomi tumbuh dua digit atau PDB yang melonjak. Lebih dari itu, ini tentang membangun bangsa yang kreatif, kompetitif, dan percaya diri menghadapi perubahan dunia.
Middle income trap bukan takdir. Itu adalah peringatan agar kita tidak berhenti di tengah jalan.
Dengan pendidikan yang berkualitas, industri yang berdaya saing, dan kebijakan yang berpihak pada inovasi, Indonesia bisa menembus batas itu.
Dan mungkin, saat 2045 tiba, generasi muda hari ini bisa berkata: “Kita bukan generasi yang terjebak, tapi generasi yang berhasil keluar dari jebakan.”
Mutiara MY (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









