Ekonomi Bertumpu pada Bahu yang Kian Lelah, Kelas Menengah Bagaimana Kabarnya?

AKURAT.CO Di permukaan, ekonomi Indonesia 2026 terlihat stabil. Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama perekonomian nasional dengan kontribusi lebih dari separuh terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ditambah dengan aktivitas belanja masyarakat tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, menjaga denyut ekonomi domestik tetap bergerak.
Namun di balik angka makro yang tampak tenang itu, tersimpan dinamika sosial ekonomi yang jauh lebih rapuh. Di lapisan yang sering disebut 'kelas menengah' kelompok yang terlihat mapan karena pekerjaan tetap dan pendapatan rutin namun ketahanan finansial malah justru menipis.
Baca Juga: Mengenal 'HENRY', Si Kelas Menengah Terlihat Mapan Tapi Paling Rentan
Mereka bukan miskin, tetapi juga belum memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat untuk menahan guncangan.
Di sinilah paradoks ekonomi Indonesia 2026 yakni fondasi konsumsi nasional justru bertumpu pada kelompok yang stabilitasnya semakin tipis.
Siapa Sebenarnya Kelas Menengah?
Dalam klasifikasi statistik nasional, kelas menengah didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran per kapita antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan. Dengan garis kemiskinan terbaru sekitar Rp609 ribu per kapita per bulan, rentang kelas menengah berada kira-kira antara Rp2,1 juta hingga Rp10,4 juta per kapita per bulan.
Di bawahnya terdapat kelompok aspiring middle class, dimana mereka yang belum miskin akan tetapi masih sangat dekat dengan batas rentan. Kelompok ini memiliki pengeluaran sekitar Rp900 ribu hingga Rp2,1 juta per kapita per bulan.
Dua kelompok ini bersama-sama mencakup sekitar dua pertiga populasi Indonesia dan menyumbang lebih dari 80% konsumsi rumah tangga nasional. Artinya, mayoritas roda belanja domestik digerakkan oleh masyarakat yang secara statistik tidak miskin, tetapi juga belum benar-benar aman secara finansial.
Baca Juga: UFC Pekan Ini: Justin Gaethje vs Paddy Pimblett Perebutkan Juara Dunia Kelas Menengah 25 Januari!
Seperti yang diketahui dalam lima tahun terakhir, jumlah masyarakat yang benar-benar berada di kategori kelas menengah menyusut hingga jutaan orang. Dari yang sebelumnya lebih dari 57 juta orang pada 2019, kini tersisa sekitar 47 hingga 48 juta. Sisanya bergeser ke kelompok yang lebih rentan.
Penyusutan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi sinyal bahwa sebagian masyarakat yang dulu relatif aman kini lebih dekat ke batas bawah. Sementara itu, porsi kelas atas tetap sangat kecil dibanding keseluruhan populasi.
Struktur sosial ekonomi pun berubah menjadi kelompok yang berada 'di tengah' semakin menipis, sementara lapisan yang berada tepat di atas garis rentan semakin melebar.
Jarak Aman yang Sebenarnya Sangat Tipis
Rata-rata pengeluaran kelas menengah tidak jauh dari batas bawah kategori mereka sendiri. Selisihnya relatif kecil dibanding risiko pengeluaran tak terduga seperti biaya kesehatan, pendidikan, atau kenaikan harga kebutuhan pokok.
Artinya, guncangan kecil saja dapat mendorong rumah tangga turun kelas. Stabilitas mereka sangat bergantung pada kelangsungan pendapatan rutin dan inflasi yang terkendali. Begitu salah satu faktor terganggu, posisi ekonomi mereka pun ikut goyah.
Kelas menengah Indonesia dengan demikian lebih mirip jembatan gantung, terlihat kokoh dari jauh, tetapi sebenarnya bergantung pada keseimbangan yang sangat sensitif. Bahkan ada beberapa faktor memperjelas mengapa ketahanan kelas menengah semakin melemah.
Pertama, pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih positif, tetapi belum menunjukkan akselerasi kuat. Laju pertumbuhan yang cenderung moderat mencerminkan kehati-hatian belanja dan tekanan daya beli.
Kedua, dampak jangka panjang pandemi masih terasa pada stabilitas pekerjaan dan pendapatan. Sebagian rumah tangga belum sepenuhnya pulih dari gangguan pendapatan beberapa tahun terakhir.
Ketiga, struktur pengeluaran didominasi kebutuhan dasar. Porsi besar pendapatan habis untuk makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Ruang untuk menabung, berinvestasi, atau membangun cadangan dana darurat menjadi sempit.
Ketika struktur pengeluaran seperti ini bertemu dengan ketidakpastian ekonomi, risiko finansial meningkat cepat.
Membaca Situasi lewat K-Shaped Recovery
Konsep K-Shaped Recovery menggambarkan pemulihan ekonomi yang tidak berjalan merata. Dalam pola ini, sebagian kelompok atau sektor bangkit cepat, sementara kelompok lain stagnan atau tertinggal.
Dalam konteks Indonesia, kelompok berpendapatan tinggi dan pemilik aset cenderung lebih cepat pulih karena memiliki cadangan modal, akses pembiayaan, dan perlindungan aset.
Sedangkan, kelas menengah dan kelompok rentan menghadapi tekanan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, serta keterbatasan buffer finansial.
Grafik pemulihan yang membentuk huruf “K” itu memperlihatkan divergensi: satu garis naik, garis lain datar atau turun. Kelas menengah Indonesia semakin berada di sisi bawah pola tersebut.
Oleh karena itu, ketika kelas menengah menahan belanja, dampaknya menjalar ke sektor riil. Produk non-primer, barang tahan lama, hingga layanan konsumsi mulai terdampak oleh kehati-hatian konsumen.
Pelaku usaha menghadapi pasar yang lebih sensitif terhadap harga. Strategi bisnis berubah dari promosi meningkat, ukuran kemasan disesuaikan hingga ekspansi bisnis pun ikut ditahan. Semua ini mencerminkan perubahan perilaku belanja kelas menengah yang tidak lagi sefleksibel sebelumnya.
Secara sederhana pelemahan ketahanan kelas menengah bukan hanya isu sosial, tetapi juga risiko makroekonomi.
Kelompok yang Sering Luput dari Fokus Kebijakan
Kebijakan sosial umumnya berfokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem, sementara kebijakan ekonomi makro mendorong investasi besar dan pertumbuhan sektor atas. Di antara keduanya, kelas menengah sering tidak masuk prioritas.
Padahal kelompok inilah yang menyumbang porsi terbesar konsumsi domestik. Mereka bukan penerima bantuan utama, tetapi juga belum memiliki perlindungan finansial seperti kelompok mapan.
Kesenjangan perhatian kebijakan ini menciptakan celah risiko yaitu ketika guncangan terjadi sungguh hebat maka kelompok menengah tidak punya bantalan yang cukup.
Sehingga situasi tersebut pun menuntut pendekatan kebijakan yang lebih presisi. Perlindungan sosial perlu diperluas dengan mempertimbangkan risiko penurunan pendapatan kelas menengah, bukan hanya kemiskinan absolut.
Ditambah dengan penciptaan pekerjaan formal dan pendapatan stabil menjadi kunci ketahanan jangka panjang. Akses pembiayaan produktif juga penting agar kelas menengah tidak hanya menjadi konsumen akan tetapi juga bagi para pelaku ekonomi.
Memperkuat kelas menengah bukanlah sekadar agenda kesejahteraan semata, melainkan strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Oleh karena itu kelas menengah Indonesia di tahun 2026 saat ini berdiri di garis tipis antara stabil dan rentan. Mereka menggerakkan konsumsi nasional, tetapi tidak memiliki bantalan yang cukup tebal untuk menahan guncangan.
Jika fondasi ini retak, dampaknya bukan hanya pada rumah tangga, tetapi pada mesin ekonomi itu sendiri. Menjaga kelas menengah tetap kokoh berarti menjaga denyut ekonomi nasional tetap hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










