Orang Kaya RI Mulai Ramai Simpan Emas di Safe Deposit Box Sejak 2023

AKURAT.CO Kelompok masyarakat menengah ke atas atau orang kaya Indonesia mulai melirik emas dan menyimpannya di safe deposit box sejak 2023 lalu.
Hal ini diungkapkan oleh Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), Andry Asmoro di sela Buka Bersama di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
"Kelas upper-middle mulai merelokasi wealth mereka ke emas sejak 2023, bukan dari 2025, berdasarkan data BI dan data Mandiri Spending Index kami, kemudian data penjulaan safe deposit box (SDB). Jadi waktu itu saya dengar penjualan SDB di Azko atau Ace Hardware lumayan mulai meningkat, mulai pada menyimpan emas fisik di situ," ujar Andry.
Baca Juga: Pegadaian Catat Pengelolaan Emas Capai 40,51 Ton per Februari 2026
Pergeseran Fungsi Emas
Emas, lanjut Andry, sejak tahun 2022 lalu sudah bergeser fungsinya dari sekadar inflationary hedging asset menjdi uncertainty hedging asset.
Tahun 2022 lalu, kondisi geopolitik kian semrawut, ditandai pecahnya perang Rusia-Ukraine, disusul hyper inflasi sejumlah komoditas minyak dan yang terkait seperti CPO, batu bara dan sebagainya. Lazimnya saat harga-harga komoditas global naik, emas ikut terkerek namun saat itu tidak terjadi.
Namun seiring waktu, dengan semakin banyaknya faktor ketidakpastian dan sumber volatilitas baru termasuk tren depresiasi dolar (DXY), emas semakin diburu sebagai safe haven dan hedging asset. "Jadi semakin tidak menentu kondisinya, misalnya Trump makin aneh-aneh, biasanya harga emas naik," tukas Andry.
Dari sisi fundamental, posisi emas sebagai uncertainty hedging asset kian kokoh. Situasi geopolitik yang kian memanas imbas perang fisik maupun perang tarif antara AS dan berbagai negara membuat banyak bank sentral di dunia mengganti cadangannya dari yang berbasis USD atau USDT ke emas.
"Makanya permintaan emas global naik dan harganya terkerek. Kalau melihat forecast global bahkan sudah ada yang melihat sampai USD7.000 per troy ounce. Dan kalau polanya masih seperti saat ini, kalaupun ada koreksi ya healthy correction, bisa rebound lagi," tutur Andry.
Literasi Keuangan Meningkat
ADK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae melihat tren permintaan terhadap layanan tersebut lebih disebabkan faktor fundamental seperti adanya peningkatan literasi keuangan di masyarakat.
Perbankan saat ini lanjutnya, sudah melakukan ekspansi dalam layanan SDB untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya. Biaya layanan terkait SDB pun terus disesuaikan untuk mengikuti tren atau permintaan nasabah.
"Permintaan terhadap layanan SDB lebih didorong oleh faktor-faktor fundamental yang berkaitan dengan meningkatnya kesadaran dan literasi keuangan masyarakat untuk mengelola dan melindungi aset mereka seperti dokumen legal, aset fisik yang bernilai seperti surat berharga, perhiasan dan emas, serta backup recovery digital wallet," ujar Dian di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










