Akurat

Inflasi Tetap Jinak, BI Optimistis Stabil hingga 2026

Andi Syafriadi | 2 Desember 2025, 08:50 WIB
Inflasi Tetap Jinak, BI Optimistis Stabil hingga 2026

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa inflasi pada November 2025 yang tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1% merupakan bukti konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.

Pada periode tersebut, inflasi tercatat stabil meskipun tekanan dari sejumlah komoditas global masih berlangsung.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa BI optimistis tingkat inflasi akan tetap terkendali pada 2025 hingga 2026.

Baca Juga: BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Demi Genjot Ekonomi 2026

"Koordinasi yang kuat melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) menjadi fondasi penting dalam menjaga pergerakan harga agar tetap dalam kisaran target," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) November 2025 mencatat inflasi sebesar 0,17% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Dengan demikian, tingkat inflasi tahunan mencapai 2,72% (year-on-year/yoy), masih berada dalam koridor sasaran inflasi BI.

BI menjelaskan bahwa kelompok inti mencatat inflasi sebesar 0,17% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,39% (mtm).

Pergerakan harga inti ini banyak dipengaruhi oleh stabilitas permintaan domestik serta terjaganya ekspektasi inflasi pelaku ekonomi.

Baca Juga: Bos BI: Hilirisasi Jadi Kunci Dorong Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi

Salah satu komoditas penyumbang utama inflasi inti pada November adalah emas perhiasan.

Kenaikan harga emas global menjadi faktor pendorong meningkatnya harga emas di pasar domestik, sekaligus memberi tekanan ringan pada kelompok inflasi inti.

Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,36% (yoy), sama seperti bulan sebelumnya. Stabilitas inflasi inti menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang bersumber dari faktor fundamental ekonomi masih dalam kondisi terkendali.

Pada saat yang sama, kelompok harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tipis sebesar 0,02% (mtm), hanya sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi Oktober sebesar 0,03% (mtm).

Pergerakan kelompok ini didorong oleh peningkatan harga bawang merah.

Kenaikan harga bawang merah terjadi akibat pasokan yang menurun, dipicu oleh gangguan cuaca serta naiknya harga bibit.

Kondisi tersebut memberi tekanan pada inflasi pangan jangka pendek, meski tidak memberikan dampak signifikan secara keseluruhan.

Dalam basis tahunan, inflasi volatile food mencapai 5,48% (yoy), turun cukup signifikan dari level 6,59% pada bulan sebelumnya.

BI menilai tren penurunan ini mencerminkan efektivitas koordinasi pemerintah dan BI dalam menjaga pasokan serta stabilitas harga pangan strategis.

Ramdan menambahkan bahwa inflasi pangan bergejolak ke depan diperkirakan tetap terjaga. Hal itu ditopang oleh penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional serta sinergi pengendalian harga yang dijalankan TPIP dan TPID di berbagai daerah.

Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi sebesar 0,24% (mtm), meningkat dari 0,10% (mtm) pada bulan sebelumnya. Kenaikan kelompok ini terutama dipicu oleh tarif angkutan udara.

Peningkatan tarif pesawat disebabkan oleh naiknya permintaan masyarakat serta penyesuaian harga avtur yang memengaruhi biaya operasional maskapai.

Faktor musiman dan mobilitas yang meningkat turut memperkuat dorongan pada harga transportasi udara.

Secara tahunan, inflasi administered prices berada pada level 1,58% (yoy), naik dari 1,45% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Meskipun demikian, tingkat inflasi kelompok ini masih relatif rendah dan tidak memberikan tekanan berarti pada keseluruhan inflasi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
A