Akurat

Inersia Dinilai Hambat Akselerasi Ekonomi Indonesia, Prasasti Ungkap 4 Faktor Ini sebagai Solusi

Idham Nur Indrajaya | 29 Januari 2026, 20:27 WIB
Inersia Dinilai Hambat Akselerasi Ekonomi Indonesia, Prasasti Ungkap 4 Faktor Ini sebagai Solusi

AKURAT.CO Ketika ekonomi global bergerak makin tidak menentu, Indonesia ikut menghadapi tekanan dari berbagai arah—mulai dari nilai tukar, investasi, hingga ruang fiskal pemerintah. Inilah yang membuat Prasasti Economic Forum 2026 menarik perhatian. Forum ini digelar oleh Prasasti Center for Policy Studies sebagai ruang dialog strategis untuk memetakan kondisi ekonomi nasional, membaca risiko global, sekaligus merumuskan jalan menuju pertumbuhan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Acara tersebut mempertemukan tokoh kebijakan, pelaku usaha, peneliti, hingga akademisi. Di dalamnya, muncul satu benang merah: ekonomi Indonesia relatif stabil, tetapi masih menghadapi tantangan struktural yang membuat laju pertumbuhan sulit melesat lebih tinggi.


Prasasti Economic Forum 2026: Ruang Diskusi Strategis Ekonomi Nasional

Prasasti Center for Policy Studies memposisikan forum ini sebagai wadah pertukaran gagasan lintas sektor. Tujuannya bukan sekadar membaca angka pertumbuhan, tetapi menggali persoalan mendasar—dari produktivitas, investasi, hingga kualitas kebijakan publik.

Executive Director Prasasti, Nila Marita, menegaskan bahwa think tank ini berfokus pada pendekatan berbasis data, kolaboratif, dan solutif.

“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama: rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi. Melalui forum ini, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai tantangan dan peluang ekonomi Indonesia, serta mendorong pertukaran gagasan yang tidak hanya konstruktif, tetapi juga aplikatif,” ujar Nila.

Pendekatan ini diharapkan bisa mempertemukan sudut pandang pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam satu meja diskusi.


Burhanuddin Abdullah: Ekonomi Indonesia Mengalami “Inersia”

Salah satu sorotan utama datang dari Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti. Ia mengapresiasi kemampuan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama lebih dari satu dekade. Namun di balik stabilitas itu, menurutnya, ada tantangan besar yang tak bisa diabaikan.

“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas. Tantangan kita bukan kurangnya pertumbuhan, melainkan bagaimana keluar dari pola yang membuat pertumbuhan sulit dipercepat,” ujar Burhanuddin.

Ia menilai persoalan tersebut bersifat struktural, bukan sekadar dampak siklus ekonomi global. Untuk menembus batas pertumbuhan, dibutuhkan:

  • keberanian dalam merumuskan kebijakan,

  • penguatan kelembagaan,

  • koordinasi lintas sektor yang lebih solid,

  • serta konsistensi arah kebijakan jangka panjang.

Kepercayaan terhadap institusi juga disebut sebagai kunci penting agar investasi dan inovasi bisa tumbuh lebih agresif.


Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Versi Prasasti

Dari sisi angka, Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, memaparkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 di kisaran 5,0–5,3 persen. Proyeksi ini mencerminkan optimisme yang tetap berhati-hati di tengah tekanan global.

Menurut Gundy, ada beberapa faktor utama yang akan memengaruhi kinerja ekonomi tahun depan.

Konsumsi Domestik Mulai Membaik, Tapi Terbatas

Kepercayaan konsumen diperkirakan perlahan pulih, sehingga belanja rumah tangga berpotensi menguat. Namun ruang akselerasinya masih terbatas, sehingga konsumsi belum cukup untuk mendorong lonjakan pertumbuhan sendirian.

Eksekusi Fiskal Jadi Penentu

Kualitas belanja pemerintah dan efektivitas kebijakan fiskal akan memegang peran penting, terutama karena ruang penerimaan negara relatif sempit. Setiap program harus dieksekusi tepat sasaran agar dampaknya terasa ke ekonomi riil.

Nilai Tukar Rupiah Perlu Dicermati

Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian serius. Gundy menjelaskan bahwa pelemahan mata uang bisa membawa dua sisi berbeda.

“Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, namun pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.

Artinya, stabilitas nilai tukar akan sangat berpengaruh terhadap iklim investasi dan ekspansi industri.


Investasi dan Transformasi Struktural Jadi Kunci Jangka Panjang

Dalam berbagai sesi diskusi, Prasasti menekankan bahwa investasi tetap menjadi mesin pertumbuhan utama dalam jangka menengah dan panjang. Namun investasi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan transformasi struktural.

Transformasi ini mencakup upaya meningkatkan:

  • efisiensi ekonomi,

  • produktivitas tenaga kerja,

  • kualitas industri,

  • serta daya saing nasional di pasar global.

Tanpa perubahan mendasar di sektor-sektor tersebut, ekonomi berisiko terus berada di jalur pertumbuhan moderat tanpa lompatan berarti.


Dukungan Dunia Usaha di Prasasti Economic Forum 2026

Forum ini juga mendapat dukungan dari berbagai perusahaan besar nasional. PT Astra International Tbk. hadir sebagai Keystone Partner, sementara TBS, PT Triputra Agro Persada Tbk., dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. menjadi Lead Partners. Adapun PT Agung Podomoro Land Tbk. serta PT Bank Mandiri Tbk. tercatat sebagai Supporting Partners.

Keterlibatan sektor swasta ini mempertegas pentingnya kolaborasi antara pembuat kebijakan dan pelaku industri dalam merancang arah ekonomi ke depan.


Menuju Arah Ekonomi Indonesia yang Lebih Tangguh

Sebagai penutup forum, Prasasti menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang diskusi lintas sektor dalam mendukung perumusan kebijakan ekonomi yang berbasis data dan berorientasi pada solusi nyata. Harapannya, berbagai gagasan yang lahir dari Prasasti Economic Forum 2026 bisa ikut membantu Indonesia menavigasi tantangan global menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan arah kebijakan ekonomi nasional dan analisis terbaru para ahli, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: SRC Perkuat Ekonomi Rakyat, 250 Ribu Toko Serap 1 Juta Pekerja

Baca Juga: Bos BI: Ekonomi Indonesia Salah Satu Yang Terbaik di Emerging Market

FAQ

1. Apa itu Prasasti Economic Forum 2026?

Prasasti Economic Forum 2026 adalah forum dialog strategis yang diselenggarakan Prasasti Center for Policy Studies untuk membahas arah perekonomian Indonesia di tengah dinamika global, termasuk tantangan struktural, investasi, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi.

2. Apa yang dimaksud dengan inersia ekonomi Indonesia?

Inersia ekonomi merujuk pada kecenderungan perekonomian bertahan pada pola lama sehingga sulit mengalami akselerasi pertumbuhan. Istilah ini disampaikan Burhanuddin Abdullah untuk menggambarkan stabilitas yang belum dibarengi lonjakan produktivitas.

3. Mengapa inersia ekonomi dianggap menjadi masalah?

Karena kondisi ini membuat ekonomi sulit tumbuh lebih cepat. Tanpa perubahan struktural, produktivitas dan daya saing nasional berisiko stagnan di tengah persaingan global yang makin ketat.

4. Berapa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menurut Prasasti?

Prasasti memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia 2026 berada di kisaran 5,0–5,3 persen, dengan konsumsi domestik, kebijakan fiskal, dan nilai tukar rupiah sebagai faktor penentu.

5. Faktor apa saja yang memengaruhi proyeksi tersebut?

Beberapa faktor utama meliputi:

  • perbaikan konsumsi rumah tangga,

  • kualitas eksekusi fiskal,

  • stabilitas nilai tukar rupiah,

  • serta iklim investasi.

6. Bagaimana pengaruh nilai tukar rupiah terhadap investasi?

Pelemahan rupiah bisa mendorong ekspor, tetapi juga berpotensi menahan investasi, terutama di sektor yang bergantung pada impor barang modal.

7. Apa peran investasi dalam pertumbuhan jangka panjang?

Investasi dipandang sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang, khususnya bila dibarengi transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

8. Siapa saja tokoh yang berbicara di forum tersebut?

Beberapa pembicara kunci adalah Burhanuddin Abdullah (Board of Advisors Prasasti), Nila Marita (Executive Director Prasasti), dan Gundy Cahyadi (Research Director Prasasti).

9. Apa tujuan Prasasti sebagai think tank?

Prasasti bertujuan mendorong kebijakan publik yang inklusif dan berbasis data melalui kolaborasi lintas sektor, sekaligus menghasilkan rekomendasi yang aplikatif bagi pembuat kebijakan.

10. Siapa saja mitra pendukung Prasasti Economic Forum 2026?

Forum ini didukung oleh PT Astra International Tbk. sebagai Keystone Partner, TBS, PT Triputra Agro Persada Tbk., dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. sebagai Lead Partners, serta PT Agung Podomoro Land Tbk. dan PT Bank Mandiri Tbk. sebagai Supporting Partners.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.