Akurat

Kala Optimisme Ekonomi Tersenyum, Kelas Menengah Malah Tahan Napas

Demi Ermansyah | 20 Januari 2026, 12:26 WIB
Kala Optimisme Ekonomi Tersenyum, Kelas Menengah Malah Tahan Napas

AKURAT.CO Ekonomi Indonesia menutup 2025 dengan sinyal stabilitas yang relatif terjaga. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 tetap berada di zona optimistis, di kisaran 120–123.

Angka tersebut mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya ke depan.

Namun, di balik indikator agregat tersebut, data distribusi menunjukkan cerita yang tidak sepenuhnya sejalan.

Sejumlah indikator keuangan rumah tangga mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi belum dirasakan merata, khususnya oleh kelas menengah.

Baca Juga: Bank Indonesia: IWIP dan WBN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara

Tekanan terhadap kelompok ini berpotensi memengaruhi permintaan domestik, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Kelas menengah memegang peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Selain menjadi kontributor utama konsumsi rumah tangga, kelompok ini juga berfungsi sebagai bantalan stabilitas sosial dan ekonomi.

Sebab ketika daya tahan kelas menengah melemah, dampaknya tidak selalu langsung tercermin dalam angka pertumbuhan, tetapi berisiko menggerus momentum ekonomi secara bertahap.

Optimisme Konsumen di Level Agregat

Survei Konsumen BI menjadi salah satu rujukan utama untuk membaca persepsi masyarakat terhadap perekonomian.

IKK di atas level 100 menunjukkan konsumen menilai kondisi ekonomi berada dalam kategori baik. Pada Desember 2025, komponen ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja masih tercatat di zona optimistis.

Meski demikian, sebagai indikator berbasis survei nasional, IKK merepresentasikan kondisi agregat. Indeks ini menangkap persepsi umum, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan pengalaman seluruh kelompok pendapatan secara merata.

Baca Juga: PMI BI Tembus 51,86, Manufaktur RI Masih Ekspansif per Desember 2025

Dalam kondisi ketimpangan yang masih menjadi tantangan struktural, angka rata-rata berpotensi menutupi tekanan yang dialami kelompok tertentu.

Data ini mengindikasikan bahwa optimisme ekonomi tidak mengalir dengan intensitas yang sama ke seluruh lapisan masyarakat. Sebagian kelompok merasakan perbaikan lebih nyata, sementara kelompok lain menghadapi tekanan biaya hidup dan keterbatasan ruang keuangan.

Tabungan Menjadi Cermin Ketimpangan

Ketimpangan distribusi pemulihan ekonomi tercermin dari data simpanan perbankan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat hingga November 2025, simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar—yang porsinya mencapai sekitar 57,35% dari total nilai simpanan nasional—tumbuh sekitar 21% secara year to date.

Sebaliknya, simpanan nasabah dengan saldo di bawah Rp100 juta hanya tumbuh sekitar 0,8%. Pertumbuhan yang relatif stagnan ini menunjukkan keterbatasan ruang menabung bagi rumah tangga berpendapatan menengah dan menengah bawah.

Perbedaan laju pertumbuhan simpanan tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan akumulasi keuangan semakin terkonsentrasi pada kelompok atas. Tabungan rumah tangga dengan saldo kecil cenderung tertahan, mencerminkan tekanan pada daya tahan keuangan kelas menengah.

Tabungan menjadi indikator penting dalam membaca kondisi riil rumah tangga. Pertumbuhan tabungan mencerminkan kemampuan menyisihkan pendapatan setelah konsumsi, sementara stagnasi tabungan mengindikasikan terbatasnya ruang keuangan untuk menghadapi risiko di masa depan.

Konsumsi Bertahan, Bantalan Menipis

Tekanan terhadap tabungan kelas menengah tidak terlepas dari biaya hidup yang masih relatif tinggi. Pengeluaran untuk pangan, pendidikan, perumahan, dan transportasi menyerap porsi signifikan dalam struktur belanja rumah tangga.

Dalam kondisi tersebut, konsumsi rumah tangga masih bertahan, tetapi dengan bantalan keuangan yang semakin terbatas. Data LPS menunjukkan bahwa sebagian rumah tangga mempertahankan konsumsi dengan ruang tabungan yang semakin menipis.

Secara agregat, konsumsi masih tumbuh, namun ketahanan di baliknya menjadi lebih rapuh. Ketika tabungan terus tergerus, kemampuan rumah tangga menyerap guncangan ekonomi akan semakin terbatas.

Namun, dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi meningkatkan ketergantungan pada pembiayaan berbasis utang.

Siapa Kelas Menengah Indonesia?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat dengan pengeluaran per kapita bulanan sekitar Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta. Kelompok dengan pengeluaran di atas rentang tersebut masuk kategori menengah atas, sementara di bawahnya tergolong kelompok rentan atau miskin.

Posisi kelas menengah kerap berada di area abu-abu kebijakan. Mereka tidak termasuk kelompok sasaran utama bantuan sosial berbasis kemiskinan, namun juga belum memiliki ketahanan aset yang cukup untuk menyerap guncangan ekonomi berkepanjangan.

Padahal, secara jumlah dan kontribusi ekonomi, peran kelompok ini sangat signifikan. BPS mencatat pada 2024, kelas menengah dan calon kelas menengah mencakup sekitar 66,35% dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini menyumbang sekitar 81,49% dari total konsumsi rumah tangga nasional.

Dengan kontribusi sebesar itu, pergerakan kelas menengah menjadi penentu utama dinamika konsumsi domestik.

Tekanan terhadap kelas menengah juga tercermin dari perubahan struktur sosial ekonomi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah menyusut hampir 10% dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019, jumlah penduduk kelas menengah tercatat sekitar 57,33 juta orang. Pada 2024, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 47,85 juta orang, atau berkurang sekitar 9,48 juta orang. Penyusutan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi yang secara agregat masih positif.

Perubahan struktur ini mengindikasikan adanya pergeseran sebagian rumah tangga kelas menengah ke kelompok rentan. Dalam konteks konsumsi, pergeseran tersebut berimplikasi pada penurunan daya beli, baik untuk barang sekunder maupun konsumsi rutin.

 

Dampak ke Permintaan Domestik

Dengan kontribusi lebih dari 80% terhadap konsumsi nasional, kondisi kelas menengah berimplikasi langsung pada permintaan domestik. Sektor ritel, makanan dan minuman, pariwisata, hiburan, hingga otomotif sangat bergantung pada belanja kelompok ini.

Ketika konsumsi kelas menengah tertahan, dampaknya dapat terlihat dalam perlambatan penjualan dan penundaan ekspansi usaha. Dalam jangka pendek, kondisi ini mungkin belum memicu kontraksi ekonomi. Namun, dalam jangka menengah, melemahnya permintaan domestik berpotensi menahan laju pertumbuhan.

Sejumlah indikator menunjukkan stabilitas makroekonomi Indonesia relatif terjaga. Inflasi berada dalam sasaran, sistem keuangan stabil, dan kepercayaan konsumen secara umum masih positif.

Namun, data distribusi menunjukkan bahwa manfaat stabilitas tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Kebijakan ekonomi selama ini efektif menjaga keseimbangan makro, tetapi tantangan pendapatan riil kelas menengah masih menjadi pekerjaan rumah.

Berbagai kajian menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat penciptaan lapangan kerja formal, serta mengembangkan jaring pengaman sosial yang lebih adaptif.

Kelas menengah selama ini menjadi bantalan yang menjaga keseimbangan ekonomi. Data BI, LPS, dan BPS menunjukkan bantalan tersebut mulai menipis. Menjaga kekuatan kelompok ini berarti menjaga denyut konsumsi dan stabilitas ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.